Anugerah Cintamu

Anugerah Cintamu
Membuatku Bingung


__ADS_3

Noah merasa terkejut dengan pertanyaan balik Nadiba yang rupanya wanita ini sepertinya mengetahui bahwa ada sesuatu yang salah dalam dirinya karena terus menanyakan apakah yakin memilih Felix. Nadiba kini menatap Noah dengan tatapan penasaran seolah meminta penjelasan logis untuk pertanyaan yang barusan ia ajukan pada pria ini.


“Karena… karena saya ingin tahu apakah kamu benar-benar yakin akan perasaanmu padanya.”


“Apakah Pak Noah ingin mengatakan bahwa saya tidak tulus dalam mencintai putra anda?”


“Tidak begitu Nadiba, tolong kamu jangan berpikiran yang bukan-bukan.”


“Saya tahu sebagai seorang ayah anda pasti ingin mencari menantu yang terbaik apalagi tuan Felix bukan orang sembarangan, dia menghabiskan waktunya untuk kuliah di Australia dan saya paham kalau Pak Noah pasti keberatan dengan hubungan kami.”


“Nadiba, saya mohon kamu jangan berpikiran buruk begitu pada saya karena itu sama sekali tidak benar.”


“Tidak perlu untuk menyangkalnya Pak Noah, kalau memang Pak Noah keberatan maka anda bisa mengatakannya secara langsung pada saya.”


“Nadiba ….”


“Saya permisi dulu.”


Nadiba langsung pergi meninggalkan Noah begitu saja, pria itu merasa sangat bersalah pada Nadiba karena hal tersebut bukanlah yang ingin ia sampaikan pada Nadiba namun Nadiba sudah terlalu cepat mengambil kesimpulan


sendiri dan kini semuanya menjadi lebih rumit dari yang ia bayangkan.


“Nadiba tidak boleh salah paham padaku.”


Maka secepat mungkin Noah menyusul Nadiba untuk mengatakan pada wanita itu kalau yang dipikirkan oleh Nadiba tadi adalah sebuah hal yang salah.


“Nadiba, tolong jangan salah sangka dulu pada saya.”


“Tidak apa Pak Noah, saya paham kalau anda keberatan dengan hubungan kami dan saya juga berbesar hati jika saya dan tuan Felix harus putus.”


“Nadiba, bisakah kamu jangan terus berpikiran buruk tentangku terus?!”


Nadiba terkejut karena Noah baru saja membentaknya, Noah sendiri terpaksa harus membentak Nadiba supaya ia mau mendengarkan ucapannya.


“Maafkan aku kalau harus membentakmu seperti tadi, akan tetapi kalau aku tak melakukannya maka aku yakin kamu tak akan membiarkanku untuk bicara.”


****


Saat malam hari tiba Felix baru saja sampai di rumah dan Noah langsung meminta bicara dengan anaknya tersebut, Felix pun bertanya apa yang ingin sang papa tanyakan padanya.


“Ini menyangkut soal Nadiba.”


“Ada apa dengannya?”


“Papa tadi bicara dengannya mengenai hubungan kalian dan Papa rasa dia benar-benar mencintaimu.”


“Benarkah?”

__ADS_1


“Iya, dia benar-benar mencintaimu dan bahkan dia salah paham dengan ucapan Papa yang ingin memisahkan kalian padahal bukan seperti itu.”


“Tapi Papa menyukai Nadiba kan?”


“Apa maksudmu Felix?”


“Sudahlah Pa, Papa tak perlu berpura-pura lagi, aku tahu kalau sebenarnya Papa menyukai Nadiba sejak ia bekerja di rumah ini pertama kali.”


“Felix, kamu jangan sembarangan mengatakan hal itu.”


“Kalau memang Papa tak menyukai Nadiba, kenapa Papa bersikap seperti ini?”


“Maksudmu?”


“Kalau memang Papa tak menyukai Nadiba, maka Papa bisa mengatakannya dengan biasa saja bukan malah dengan marah-marah begitu.”


“Felix ….”


“Aku akan terus memantau Papa walaupun aku tidak ada di rumah.”


Setelah itu Felix pun segera pergi ke kamarnya dan Noah menghela napasnya panjang setelah obrolan singkatnya dengan Felix. Ia merasa kalau apa yang diucapkan oleh Felix barusan memang ada benarnya, kalau memang ia tak menyukai Nadiba kenapa juga ia harus marah ketika Felix menyinggung itu?


“Astaga, apa yang sebenarnya terjadi padaku?”


****


“Tapi sepertinya papamu tak menyetujui hubungan kita.”


“Aku yakin papaku menyetujuinya hanya saja dia agak skeptis mengenai ketulusan cintamu.”


“Aku merasa tak pantas untukmu.”


“Kenapa bisa kamu mengatakan hal itu?”


“Karena aku seorang janda dan sudah memiliki anak.”


“Lantas apa masalahnya kalau memang kamu janda dan sudah memiliki anak?”


“Apakah kamu sama sekali tidak keberatan dengan hal itu? Kamu berhak mendapatkan wanita lain selain diriku.”


“Nadiba, kalau memang aku keberatan dengan status jandamu maka mungkin sudah sejak dulu aku tidak mendekatimu dan mencari perhatian padamu kan?”


“Tapi ….”


“Jadi aku mohon mulai sekarang berhentilah untuk berpikiran yang macam-macam.”


Nadiba menganggukan kepalanya, Felix mengusap tangan Nadiba sebentar sebelum ia masuk ke dalam mobilnya dan pergi dari rumah ini. Nadiba pun kemudian masuk ke dalam  rumah untuk mulai bekerja, lagi-lagi pagi ini ia bertemu dengan Noah yang sedang duduk di sofa ruang tamu dan membaca koran.

__ADS_1


“Selamat pagi, Pak Noah.”


“Selamat pagi.”


Nadiba pun segera masuk ke dalam rumah dan memulai pekerjaannya membersihkan rumah ini sementara Noah diam-diam mencuri pandang pada Nadiba.


****


Nadiba merasa sejak tadi Noah memperhatikannya dan itu sama sekali tidak membuatnya nyaman akan tetapi Nadiba terlalu sungkan untuk mengatakan hal itu pada Noah.


“Nadiba, kamu boleh pulang lebih awal.”


“Apa?”


“Saya ada urusan mendadak.”


“Saya bisa mengerjakan pekerjaan tanpa anda di rumah, Pak.”


“Saya tidak mau ada orang di rumah saat saya pergi.”


Nadiba pun menganggukan kepalanya dan kemudian ia pun segera melakukan seperti apa yang Noah katakan padanya barusan. Nadiba merasa kalau sikap Noah padanya agak berbeda sejak ia tahu kalau Felix dan dirinya


menjalin sebuah hubungan, ketika ia coba bertanya pada Noah mengenai apakah pria itu tidak menyetujui hubungan mereka, Noah tidak menjawabnya dengan berterus terang hingga Nadiba pun jadi bingung sebenarnya Noah setuju atau tidak mengenai hubungannya dengan Felix.


“Nadiba, kamu kok sudah pulang jam segini?” tanya Kusuma yang merasa heran dengan putrinya yang telah kembali jam segini.


“Pak Noah bilang dia ada acara diluar, maka dari itu aku disuruh pulang lebih awal,” jawab Nadiba.


“Oh begitu rupanya, namun sepertinya saat ini kamu sedang memikirkan sesuatu, ya?”


“Apa? Tidak kok.”


“Sudahlah Nadiba, kamu tak dapat menipuku, aku ini ibumu.”


“Sebenarnya… aku memang tengah memikirkan sesuatu.”


****


Sampai saat ini siapa dalang di balik kejadian yang menimpa Ledi belum terungkap dan Luna merasa sangat frustasi akan hal itu, ia merasa bersalah pada mamanya karena telah membuat sang mama menjadi seperti


ini.


“Aku minta maaf, Ma.”


Ledi memberikan kode dari matanya bahwa ia baik-baik saja dan meminta Luna untuk tidak menyalahkan dirinya sendiri akan tetapi tentu saja Luna tak bisa melakukan hal ini.


“Mama tenang saja, aku akan mencari tahu siapa orang yang bertanggung jawab dengan kejadian ini dan kalau aku sudah mengetahui siapa pelakunya, maka tidak ada ampun baginya.”

__ADS_1


Setelah itu Luna pamit untuk pergi keluar sebentar membeli makan, ketika Luna sedang keluar itu pintu ruangan inap Ledi terbuka dan menampakan sosok Prabu yang tengah menyeringai pada sang mantan istri yang kini tak berdaya di tempat tidur.


__ADS_2