
Darsih tidak tahu ia harus percaya pada siapa dan ia memilih untuk diam lalu meninggalkan mereka, Faruq nampak berusaha menjelaskan semuanya pada Darsih namun sayangnya Darsih saat ini tidak mau diganggu oleh
siapa pun. Selepas Darsih masuk ke dalam kamarnya, Faruq langsung menatap tajam pada Nimas yang sudah berani membuat fitnah di depan Darsih namun Nimas sama sekali tidak takut dengan hal itu, Nimas mengatakan kalau ia melakukan semua itu untuk mendapatkan Faruq.
“Aku akan mendapatkan apa pun yang aku inginkan, apakah kamu melupakan kalimat itu?”
“Persetan dengan semua itu, aku sudah muak denganmu!”
Faruq kemudian pergi ke kamarnya dan hendak pergi dari rumah ini namun tentu saja ia tidak diizinkan oleh Nimas untuk pergi hingga mereka berdua terlibat dalam pertengkaran hebat.
“Kamu tidak akan bisa membuatku untuk tidak pergi lagi Nimas karena aku benar-benar sudah muak denganmu!”
“Kamu tidak bisa pergi begini saja Faruq, kamu harus bertanggung jawab atas apa yang sudah kamu lakukan padaku! Jangan menjadi seorang pria yang pengecut!”
“Apa katamu? Siapa yang pengecut, aku sama sekali tidak pengecut justru kamu yang sudah sengaja menjebakku dengan semua ini!”
Darsih yang mendengarkan pertengkaran keduanya pun keluar dari kamar untuk bicara dengan mereka. Nimas mengatakan pada ibunya bahwa Faruq hendak pergi dari rumah ini dan ia meminta pada Darsih untuk menahan Faruq supaya tidak pergi dari rumah ini.
“Tolong bantu aku Bu, jangan biarkan Faruq pergi dari rumah ini.”
“Tante, maaf saya tidak bisa tinggal lebih lama lagi di rumah ini, saya harus pergi.”
“Tidak bisa Faruq, kamu tidak bisa pergi begitu saja,” ujar Darsih yang membuat Faruq terkejut.
“Apa maksud Tante?”
“Terlepas dari siapa yang memulainya duluan berduaan di dalam kamar padahal kalian tidak memiliki hubungan suami-istri jelas tidak dapat dibenarkan.”
“Tapi Tante….”
“Kamu harus bertanggung jawab, Faruq.”
“Tapi Tante, aku benar-benar tidak menginginkan semua itu terjadi, Nimas yang sudah mempersiapkan semua rencana ini.”
****
Darsih tetap berkeras hati bahwa Faruq harus menikahi putrinya walaupun ia tahu bahwa Nimas pasti yang memulai semuanya, ia tidak bisa membiarkan hal tersebut akan mencoreng nama besar keluarga dan memilih
supaya menikahkan keduanya walaupun Faruq sangat keberatan dan memohon pada Darsih untuk jangan memaksakan pernikahan ini.
“Maaf Faruq, akan tetapi perbuatan kalian bisa mencoreng nama besar keluarga kami dan juga warga desa ini, aku tidak ingin warga desa akan bergunjing yang tidak-tidak dengan hal ini.”
“Tapi Tante ….”
“Faruq, tolong dengarkan permintaanku ini.”
__ADS_1
Faruq dilema dengan apa yang harus ia lakukan saat ini, ia merasa dijebak oleh Nimas namun ia yang harus bertanggung jawab atas apa yang bukan ia inginkan dan ketika meminta pengertian dari Darsih justru Faruq tidak mendapatkan dukungan.
“Tolong kamu nikahi Nimas, Faruq.”
Faruq tidak dapat mengiyakan permintaan dari Darsih barusan karena ia tidak mencintai Nimas dan ia juga masih berpendapat bahwa dirinya hanya korban di sini.
“Faruq, tolonglah, aku memohon padamu.”
Faruq pun akhirnya luluh juga dengan permintaan Darsih untuk menikah dengan Nimas, tentu saja Nimas bahagia bukan main karena akhirnya ia bisa menjalankan rencananya dengan baik.
“Terima kasih karena kamu sudah mau bertanggung jawab atas yang telah kamu lakukan, Faruq.”
****
Kusuma terkejut ketika mendapatkan kabar dari Darsih bahwa nanti sore Faruq dan Nimas akan menikah di balai desa, Kusuma bertanya pada Darsih kenapa tiba-tiba bisa terjadi pernikahan tersebut namun adiknya itu
tidak mau menjelaskan secara detail apa yang sebenarnya terjadi hingga akhirnya bisa terjadi pernikahan tersebut.
“Ada apa, Bu?” tanya Nadiba.
“Tadi Darsih menelpon Ibu katanya nanti sore Faruq dan Nimas akan menikah di balai desa,” jawab Kusuma.
“Mas Faruq dan Nimas akan menikah, Bu?”
“Iya Nak, Ibu juga tidak tahu kenapa mereka berdua bisa menikah.”
“Nadiba.”
“Ada apa, Bu?”
“Apakah kamu cemburu setelah mendengar berita pernikahan Faruq dan Nimas?”
“Ibu ini bicara apa? Untuk apa aku cemburu? Aku hanya sedang berpikir pasti ada sesuatu yang membuat pernikahan keduanya terjadi karena dari sepengetahuanku mas Faruq sama sekali tidak mencintai atau tertarik
pada Nimas.”
“Iya juga, Darsih sempat mengeluhkan pada Ibu bahwa Nimas sangat terobsesi pada Faruq tapi Ibu tidak mau terlalu berburuk sangka pada Nimas.”
“Iya Bu.”
“Apakah nanti sore kamu akan datang ke acara pernikahan mereka, Nadiba?”
“Sepertinya aku tidak bisa pergi, Bu.”
****
__ADS_1
Rama terkejut ketika mendapat kabar dari neneknya bahwa ayahnya akan menikah dengan Nimas, Rama menolak hal tersebut dan memaksa ingin bertemu dengan ayahnya sekarang juga. Anak itu dengan didampingi oleh
Kusuma pergi ke balai desa untuk bertemu dengan Faruq dan ketika sudah bertemu dengan Faruq, Rama langsung memeluk ayahnya tersebut.
“Rama, ada apa, sayang?”
“Ayah tolong jangan menikah dengan tante Nimas.”
“Sayang ….”
“Aku tidak mau Ayah menikah dengan siapa pun lagi kecuali kembali dengan ibu.”
“Sayang saat ini Ayah tidak bisa memenuhi permintaanmu.”
“Kenapa Ayah?”
Tiba-tiba saja Nimas muncul dari belakang Faruq dan langsung menggandeng tangan Faruq di depan Rama seraya menatap tajam ke arah anak Nadiba ini.
“Karena dia akan menikah denganku, anak kecil!”
“Nimas, tidak seharusnya kamu membentak Rama seperti itu,” ujar Kusuma yang tak terima cucunya diperlakukan tidak baik oleh Nimas.
“Biarkan saja, anak ini harus tahu kalau Faruq akan segera menikah denganku tidak lama lagi,” ujar Nimas.
Rama kemudian melakukan sesuatu hal yang tidak terduga yaitu ia menggigit tangan Nimas dan membuat Faruq serta Kusuma terkejut.
“Rama, hentikan, Nak,” ujar Faruq yang berusaha melepaskan gigitan Rama dari tangan Nimas.
“Rama, apa yang sudah kamu lakukan, Nak?” tanya Kusuma terkejut.
Nimas nampak marah sekali dengan apa yang Rama lakukan ini, ia bersumpah akan membalas Rama atas perbuatannya ini.
****
Kusuma dan Rama tiba di rumah setelah menghadiri acara pernikahan Faruq dan Nimas, Rama nampak begitu sedih dan marah karena ayahnya menikah lagi dengan wanita lain selain dengan ibunya. Nadiba yang tidak paham
dengan yang terjadi saat ini tentu saja langsung bertanya pada Kusuma.
“Bu, sebenarnya ada apa ini?”
“Tadi Rama menggigit tangan Nimas,” jawab Kusuma.
“Ya Tuhan, Rama kenapa kamu melakukan hal tidak terpuji seperti itu, Nak?” tanya Nadiba.
“Karena aku benci pada tante Nimas, Bu, aku tidak mau kalau dia menikah dengan ayah,” isak Rama.
__ADS_1
Nadiba kemudian memeluk tubuh anaknya itu dan berusaha menenangkan Rama yang tengah menangis ini.