
Nadiba masih nampak tak percaya kalau selama ini rupanya Noah diam-diam membantunya dalam melunasi biaya sewa rumah bulanan ini, awalnya memang Nadiba tidak mempercayai kalau rumah yang ia dan keluarganya
huni memiliki harga sewa yang jauh dari apa yang ia bayangkan. Akan tetapi karena pada saat itu dirinya terlalu percaya pada Noah, maka Nadiba pun sama sekali tidak menaruh curiga berlebih pada akhirnya hingga setelah semua berlalu akhirnya kebenaran pun terungkap.
“Pak Noah, tolong jelaskan semua ini pada saya,” pinta Nadiba.
“Baiklah, saya akan menjelaskan semuanya, saya melakukan semua ini supaya kamu bisa hidup dengan layak setelah tidak lagi tinggal bersama tantemu.”
“Apakah memang hanya itu saja, Pak Noah?”
“Sejujurnya saya ingin sekali mengatakan ini padamu sejak dulu, akan tetapi saya tidak bisa melakukan itu karena saya terlalu mencintaimu.”
“Apakah Pak Noah akan menggunakan cara rumah ini supaya saya bisa menjadi milik Pak Noah?”
“Saya tidak ada maksud seperti itu, Nadiba.”
“Saya tidak percaya dengan apa yang Pak Noah katakan.”
Noah nampak sedih mendengar ucapan Nadiba barusan yang mengatakan kalau wanita itu tak mempercayai semua penjelasan yang sudah ia berikan. Nadiba kemudian pergi meninggalkan Noah dengan perasaan yang sangat berkecamuk, ia benar-benar tak menyangka kalau semua akan berakhir dengan cara seperti ini.
“Nadiba, ada apa, Nak?” tanya Kusuma yang melihat putrinya ketika datang justru menunjukan ekspresi yang sangat sedih.
“Apakah Ibu tahu kalau Pak Noah ternyata mensubsidi rumah yang kita tinggali selama ini?”
“Apa maksudmu, Nak?”
Nadiba pun menceritakan apa yang tadi baru saja ia dapatkan secara langsung dari Noah pada Kusuma, sang ibu tentu saja terkejut sekaligus tak menyangka karena rupanya Noah diam-diam sudah membantu mereka selama ini.
“Dan sekarang dia sudah tidak akan membantu kita lagi, kalau kita tidak bisa melunasi biaya sewa bulanan maka kita tidak akan bisa tinggal di rumah ini lagi.”
****
__ADS_1
Walaupun sulit bagi Noah harus mengatakan kejujurannya pada Nadiba, akan tetapi ia yakin bahwa ini adalah jalan terbaik bagi mereka berdua. Ia tak bisa terus menerus menyembunyikan hal tersebut dari Nadiba supaya
wanita itu mengetahui kalau selama ini dia terus berkorban untuknya.
“Apakah Papa baru saja menemui wanita itu?” tanya Felix.
“Iya, Papa baru saja menemui Nadiba,” jawab Noah.
“Kalau yang aku tebak dari raut wajah Papa nampaknya wanita itu mengatakan sesuatu hal yang buruk lagi pada Papa,” ujar Felix.
“Dia masih tak mau bekerja di rumah ini walaupun Papa sudah berulang kali mencoba membujuknya untuk kembali ke sini.”
“Sudah beratus kali aku mengatakan itu namun Papa tak mau mendengarkanku, sekarang Papa baru merasakan kalau wanita itu menyebalkan dan keras kepala.”
“Kamu jangan bicara hal yang buruk pada Nadiba, Felix. Papa juga amat kecewa padamu karena rupanya selama ini kamu hanya mempermainkan Nadiba padahal dia benar-benar sangat mencintaimu.”
“Aku sama sekali tidak peduli dengan cintanya itu karena bagiku wanita itu sama sekali tidak berarti.”
****
Keadaan Luna setelah ditinggal Faruq sama sekali tidak baik-baik saja, ia menderita seorang diri karena Prabu sudah membuatnya jatuh miskin dan hidup sengsara bersama dengan sang mama yang sakit-sakitan. Luna
membutuhkan Faruq di sisinya akan tetapi pria itu memilih untuk bercerai darinya dan kembali pada mantan istrinya itu.
“Kenapa jalan hidupku harus menyedihkan seperti ini?”
Luna tidak tahu apa lagi yang harus ia lakukan untuk melanjutkan hidup karena sudah berulang kali ia ditolak oleh banyak perusahaan dan Luna yakin bahwa dalang dari semua itu adalah Prabu yang sangat ingin melihatnya menderita. Hingga akhirnya Luna ditawari bekerja di sebuah tempat yang tidak lain adalah banyak wanita yang dijejakan pada pria hidung belang. Awalnya Luna menolak akan hal tersebut, walaupun ia membutuhkan uang akan
tetapi ia tak mau untuk menjejakan dirinya pada pria hidung belang.
“Jangan memilih-milih pekerjaan atau kamu akan mati kelaparan.”
__ADS_1
Luna terdiam ketika mendengar pemilik tempat itu yang memarahinya karena Luna menolak untuk bekerja sama dengannya, pemilik tempat itu mengatakan bahwa dengan bekerja seperti itu maka Luna bisa memiliki kembali
apa yang sudah dicuri oleh sang papa. Hingga akhirnya Luna pun bersedia untuk bekerja di tempat itu dan ia langsung mendapatkan tugas melayani seorang tamu di sebuah kamar yang sudah disiapkan.
****
Kusuma kembali datang ke rumah Darsih untuk menceritakan masalah baru yang tengah keluarganya hadapi, Darsih nampak terkejut dan merasa prihatin dengan berita buruk itu, ia meminta agar Nadiba dan yang lain kembali tinggal saja di sini.
“Aku sudah mengatakan itu pada Nadiba, akan tetapi Nadiba menolaknya dan mengatakan bahwa ia tidak mau merepotkanmu.”
“Nadiba itu selalu saja memilih alasan seperti itu, aku sudah berulang kali mengatakannya bahwa kehadiran kalian di rumah ini sama sekali tidak merepotkanku, justru malah membuatku merasa senang karena tidak merasa kesepian lagi di rumah ini.”
“Kalau begitu lebih baik kamu bicara secara langsung saja pada Nadiba, siapa tahu setelah mendengarmu bicara maka ia akan merubah pikirannya.”
Darsih akhirnya setuju dengan apa yang Kusuma katakan barusan bahwa ia harus menemui Nadiba dan bicara secara langsung pada keponakannya itu untuk kembali tinggal di rumahnya.
“Tante? Kenapa datang ke sini bersama ibu?”
“Tante datang ke sini untuk bicara denganmu, Nadiba.”
“Denganku?”
“Iya, ada sesuatu yang ingin Tante bicarakan denganmu.”
Nadiba pun tentu saja penasaran dengan apa yang akan dibicarakan oleh sang tante hingga akhirnya mereka kini duduk di sofa ruang tamu dan Darsih pun mulai bercerita mengenai apa maksud dan tujuannya datang ke sini.
****
Darsih membicarakan mengenai masalah yang sedang Nadiba dan keluarganya alami. Darsih meminta supaya Nadiba dan yang lainnya kembali ke rumahnya untuk sementara waktu sampai Nadiba memiliki pekerjaan dan pengasilan tetap. Akan tetapi tentu saja tidak semudah itu bagi Darsih meluluhkan hati sang keponakan. Awalnya Nadiba terus saja menolak dan mengatakan bahwa ia merasa tidak enak pada sang tante dan anak-anaknya mengingat sampai saat ini sepupunya itu masih bersikap dingin padanya selepas suami dari Darsih meninggal dunia, mereka masih terus saja menyalahkannya dan kalau Nadiba memaksa supaya tinggal di rumah Darsih maka sama saja ia membiarkan Darsih menjadi sasaran anak-anaknya yang membencinya.
“Percayalah padaku Nadiba, semua akan baik-baik saja.”
__ADS_1