Anugerah Cintamu

Anugerah Cintamu
Pesan di Malam Hari


__ADS_3

Nadiba nampak terkejut ketika menemukan Felix tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan, Nadiba sendiri berusaha untuk menghindari Felix namun pria itu menahan tangannya hingga Nadiba bingung


sebenarnya apa yang hendak Felix lakukan padanya.


“Katakan padaku Nadiba, kenapa kamu mencintaiku?”


“Apa?”


“Katakan saja kenapa kamu mencintaiku.”


Nadiba nampak meneguk ludahnya dengan pertanyaan yang barusan ditanyakan oleh Felix, tatapan pria itu membuatnya benar-benar salah tingkah dan bingung harus menjawab apa.


“Kenapa kamu hanya diam saja? Bukankah pertanyaan itu seharusnya mudah untuk kamu jawab?”


“Anu… Tuan Felix ….”


“Katakan padaku.”


Nadiba pun kemudian memejamkan kedua matanya untuk mengumpulkan segala keberaniannya untuk menjawab pertanyaan dari Felix barusan. Nadiba mengatakan pada Felix bahwa rasa cinta di hatinya tumbuh begitu saja


dengan sendirinya, awalnya ia menampik perasaan itu namun semakin ia menampik perasaan itu maka semakin besar pula perasaan cinta yang tumbuh di hatinya.


“Ketika Tuan Felix mengatakan kalau Tuan juga mencintai saya kala itu membuat hati saya berbunga-bunga dan saya merasa kalau itu seperti sebuah mimpi yang menjadi kenyataan akan tetapi pada akhirnya saya


menyadari bahwa saya terlalu naif dengan pemikiran seperti itu, pada akhirnya saya juga terluka dengan kenyataan yang harus saya dapat.”


“Lantas kalau aku sudah melukaimu sampai sedalam itu kenapa kamu masih mau mencintaiku, Nadiba?”


“Karena cinta yang saya miliki untuk Tuan Felix adalah sebuah cinta yang tulus, cinta yang tulus tidak akan memiliki alasan untuk membenci ketika orang yang kita cintai tidak dapat membalas perasaan kita.”


Ucapan Nadiba barusan membuat Felix terdiam beberapa saat, ia dapat merasakan betapa besar dan tulusnya cinta yang dimiliki oleh wanita ini padanya dan seketika ia merasa bersalah karena sudah membuat Nadiba


begitu menderita karenanya.


“Saya permisi dulu, Tuan.”


Nadiba pun kemudian pergi meninggalkan Felix untuk melanjutkan pekerjaannya yang masih perlu ia lakukan, sementara Felix sendiri menatap kepergian Nadiba dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.


****


Nadiba merasa jantungnya berdegup tak karuan akibat obrolannya dengan Felix barusan, ia tak menyangka kalau Felix akan melakukan kontak fisik dengannya setelah sekian lama mereka hanya saling pandang, bahkan


tadi Felix hanya diam dan sama sekali tidak menampik atau mengatai Nadiba yang terlalu polos dan naif karena perasaan cintanya itu.

__ADS_1


“Ya Tuhan, ada apa denganku ini?”


Nadiba berusaha untuk fokus dengan pekerjaannya dan ia tak mau terlalu memikirkan percakapan antara dirinya dan Felix beberapa saat yang lalu hingga akhirnya secara mengejutkan Felix muncul lagi di belakangnya


saat ia berbalik badan dan tentu saja kehadiran Felix yang tiba-tiba membuat Nadiba terkejut.


“Tuan Felix?”


“Kenapa kamu begitu terkejut, Nadiba?”


“Ah tidak, hanya saja ketika saya berbalik badan secara mengejutkan Tuan Felix berdiri tepat di belakang saya, bagaimana mungkin saya tidak terkejut melihat itu?”


“Nadiba… aku minta maaf.”


“Maaf?”


“Iya, aku minta maaf karena sudah menyakiti perasaanmu selama ini dengan sikapku yang keterlaluan.”


“Ah saya sudah lama memaafkan Tuan Felix, kok.”


Diam-diam Noah memerhatikan Felix dan Nadiba dari balik dinding sekaligus juga menguping pembicaraan keduanya, Noah merasa lega karena akhirnya Felix meminta maaf juga pada Nadiba setelah apa yang ia lakukan


pada Nadiba selama ini.


****


Hubungan Nadiba dan Felix membaik hari ini, hal tersebut tentu saja sangat disyukuri oleh Nadiba karena hubungan buruk yang terjadi di antara dirinya dan Felix dapat diakhiri setelah Felix memutuskan


untuk membuka kembali komunikasi itu dan meminta maaf atas apa yang telah ia lakukan selama ini. Jauh sebelum Felix meminta maaf padanya, Nadiba sudah terlebih dahulu memaafkan pria itu bahkan kalaupun Felix tidak dapat membalas perasaan cintanya maka ia rela akan hal tersebut, ia akan menghargai apa pun keputusan yang Felix buat, ia ingin Felix bahagia dengan wanita pilihan hatinya.


“Pak Noah, saya pulang dulu.”


“Terima kasih atas hari ini Nadiba.”


“Tidak masalah, saya permisi dulu.”


“Tunggu dulu.”


Nadiba yang sudah hendak pulang pun menghentikan langkah kakinya setelah Noah memintanya untuk berhenti sejenak.


“Ada apa, Pak Noah?” tanya Nadiba penasaran.


“Apakah kamu sudah berpamitan juga pada Felix?” tanya Noah.

__ADS_1


“Anu… saya ….”


“Kamu ingin pulang begitu saja tanpa berpamitan denganku?” tanya Felix yang muncul secara mengejutkan di hadapan Nadiba hingga membuat Nadiba terkejut dan agak malu dengan kehadiran pria tersebut.


“Maaf, saya pikir Tuan Felix tadi tengah sibuk tadi jadi saya memilih untuk tidak mau mengganggu anda.”


“Lain kali kalau kamu mau pulang ke rumahmu, jangan hanya berpamitan pada papaku namun juga denganku.”


“Baik Tuan.”


****


Nadiba pulang ke rumah dengan hati yang berbunga-bunga dan hal tersebut dapat terlihat dengan jelas dalam pengelihatan Kusuma. Ibu dari Nadiba itu langsung bertanya apa yang membuat Nadiba sepertinya begitu


bahagia sekali saat ini, Nadiba pun menjawab bahwa hubungannya dengan Felix sudah membaik dan tentu saja Kusuma ikut bahagia mendengar kabar tersebut.


“Syukurlah kalau begitu, Ibu ikut bahagia mendengar kabar tersebut.”


“Iya Bu, terima kasih.”


Nadiba pun segera bergegas menuju kamar untuk mandi dan berganti pakaian, setelah itu ia meraih ponselnya yang terletak di atas nakas dekat tempat tidur untuk melihat apakah ada pesan yang masuk selama ia bekerja


atau tidak, akan tetapi di antara banyaknya pesan masuk yang muncul di ponselnya nampak ada sebuah pesan yang sangat menarik perhatiannya yaitu pesan masuk yang dikirim oleh Felix. Dengan tangan bergetar, Nadiba membuka pesan yang dikirim oleh Faruq tersebut dan rupanya Felix menyapa Nadiba dan mengatakan Nadiba jangan lupa untuk istirahat.


“Kenapa dia mengirimku pesan begini, ya?”


Nadiba kemudian menggelengkan kepalanya dan memutuskan untuk segera tidur karena hari sudah larut malam dan besok ia harus bekerja kembali di rumah Noah, ia segera rebah di atas kasur dan memejamkan kedua


matanya untuk tidur.


****


Keesokan harinya nampak Nadiba sudah bersemangat sekali untuk bekerja di rumah Noah dan rupanya hal tersebut menjadi perhatian Kusuma yang baru saja menyiapkan sarapan untuk Nadiba dan Rama pagi ini.


“Sepertinya kamu semangat sekali untuk pergi bekerja hari ini, ya?”


“Ibu ini bicara apa, sih? Aku kan selalu semangat setiap hari untuk pergi bekerja,” jawab Nadiba agak malu-malu.


“Iya Ibu tahu kok, kan ada alasan kenapa kamu bisa semangat di pagi ini.”


“Ibu!”


“Nenek dan Ibu sedang membicarakan apa?” tanya Rama yang muncul di meja makan dan duduk di kursinya.

__ADS_1


“Bukan apa-apa Rama, lebih baik sekarang kamu sarapan ya, nanti kamu terlambat masuk sekolah,” ujar Nadiba.


__ADS_2