
Rama masih saja merengek meminta supaya dirinya diajak untuk ikut bersama ayahnya ke kantor namun Faruq berkeras bahwa Rama harus tinggal di rumah karena ia masih khawatir dengan sikap Luna yang aneh belakangan ini semenjak Rama pindah ke rumah ini.
“Kenapa sih kok kamu sepertinya ngotot sekali melarang Rama untuk pergi bersama ke kantor?” tanya Luna.
“Bukan apa-apa hanya saja aku takut kalau dia mengganggumu,” jawab Faruq.
Namun Luna merasa bahwa Faruq tidak jujur mengenai apa maksudnya melarang Rama untuk ikut dengan mereka ke kantor.
“Kamu pasti masih belum bisa percaya padaku sepenuhnya kan?”
“Sejujurnya iya, aku takut bahwa ini hanya sebuah tipu muslihatmu belaka.”
“Aku akui bahwa dulu aku memang tidak menyukai Rama namun sekarang aku mulai menyukainya, dia sama sekali tidak mengganggu kok.”
“Ayah tolong izinkan aku pergi bersama kalian ke kantor, nanti aku bosan kalau ditinggal sendirian di rumah ini.”
“Tapi kantor kan bukan tempat bermain, lagi pula kamu kan belum menelpon ibu.”
“Aku akan menelpon ibu kalau aku diizinkan pergi bersama kalian.”
Ledi nampak menggelengkan kepalanya dan kemudian pergi dari meja makan sementara itu Faruq mulai kehabisan ide untuk melakukan negosiasi dengan anaknya ini.
“Nak, tolong kamu dengarkan Ayah.”
“Aku tidak mau mendengarkan Ayah, Tante itu saja mengizinkanku pergi bersama kalian ke kantor kenapa Ayah malah tidak memberikanku izin?”
“Ayah melakukan ini semua demi kebaikanmu, Nak.”
“Kalau begitu lebih baik aku pulang saja.”
“Apa maksudmu? Ini kan belum waktunya selesai liburan.”
“Dari pada aku harus sendirian di rumah ini selama Ayah tidak ada lebih baik aku di rumah saja bersama ibu!”
“Baiklah-baiklah, kamu boleh ikut.”
“Hore!”
“Tapi kamu harus ikut dengan Ayah, mengerti?”
“Faruq, kamu ini kenapa sih? Aku kan sudah bilang tidak akan melakukan sesuatu hal yang buruk padanya.”
“Sayangnya aku sama sekali belum bisa mempercayai ucapanmu seratus persen Luna, sikapmu yang terdahulu membuatku trauma.”
****
Rama menelpon Nadiba untuk mengatakan bahwa ia baik-baik saja, Nadiba yang mendapatkan telepon dari Rama tentu saja merasa lega dan bersyukur karena rupanya anaknya itu baik-baik saja. Mereka bertelepon tidak lama karena Rama bilang saat ini ia akan pergi ke kantor bersama Faruq.
__ADS_1
“Jangan nakal-nakal di sana.”
“Iya Bu.”
Kemudian Rama pun menutup sambungan telepon dari seberang sana, Nadiba menghela napasnya lega setelah mendengar suara anaknya yang nampak begitu bahagia berlibur bersama dengan Faruq di kota. Kusuma menghampiri putrinya dan bertanya bagaimana kabar cucunya itu dan Nadiba mengatakan bahwa Rama di sana baik-baik saja.
“Rama bilang mas Faruq menjaganya dengan baik, Bu.”
“Syukurlah kalau begitu, Ibu jadi lumayan lega mendengarnya.”
“Kalau begitu aku harus segera pergi bekerja, pak Noah pasti sudah menungguku sekarang.”
“Baiklah sayangku, hati-hati di jalan, ya.”
Nadiba mencium tangan ibunya sebelum pergi dari rumah menuju tempat kerjanya di rumah Noah, ketika ia tiba di sana nampak Noah tengah membersihkan halaman rumah dan membuat Nadiba tidak enak karena merasa dirinya sudah terlambat.
“Pak Noah seharusnya tidak melakukan ini, biar saya saja yang melakukannya, maaf kalau saya terlambat.”
“Sudahlah Nadiba, kamu jangan bersikap seperti itu, bukankah aku sudah pernah bilang padamu bahwa tugasmu adalah membersihkan bagian dalam rumah bukannya halaman seperti ini.”
“Tapi ….”
“Sudah sana kamu masuk dan kerjakan pekerjaanmu.”
****
“Ada apa, Tuan Felix?”
“Nadiba, apakah nanti malam kamu ada waktu?”
“Kenapa memangnya?”
“Aku ingin mengajakmu makan malam diluar, tentu saja kalau kamu tidak keberatan karena ada sesuatu hal yang ingin aku bicarakan denganmu.”
“Saya belum tahu.”
“Tolong segera berikan kepastian padaku sebelum jam 4 sore.”
“Baiklah Tuan, saya akan segera mengabari anda.”
“Namun kalau aku boleh jujur, aku ingin sekali kamu menyanggupi makan malam denganku nanti.”
Setelah mengatakan itu Felix berbalik badan dan menuruni anak tangga, Nadiba merasa sikap Felix makin aneh saja belakangan ini namun ia tidak mau terlalu memikirkannya. Nadiba kembali melanjutkan pekerjaannya yang tadi sempat terhenti karena mengobrol dengan Felix, setelah selesai menyapu lantai kini Nadiba sudah bersiap untuk mengepel lantai namun kali ini Noah yang mendatanginya.
“Nadiba.”
“Ada apa, Pak Noah?”
__ADS_1
“Tadi apakah Felix mengatakan sesuatu padamu?”
“Tidak, memangnya ada apa?”
“Oh bukan apa-apa, lanjutkan saja pekerjaanmu.”
Setelah Noah pergi dari hadapannya, Nadiba menghela napasnya panjang, ia merasa bersalah karena tidak jujur pada Noah mengenai tadi memang Felix mengatakan sesuatu padanya.
****
Faruq tidak dapat tenang dalam bekerja karena ia memikirkan apa yang tengah Luna lakukan pada anaknya, diam-diam ia mengintip dari jendela ruangan kerja Luna yang terbuka sedikit tirainya, ia harus memastikan bahwa Luna sama sekali tidak melakukan sesuatu hal yang buruk pada Rama.
“Kamu sedang apa di sini?”
Faruq sontak saja terkejut ketika seseorang menyapanya dari belakang dan ketika ia menoleh ke arah sumber suara rupanya Luna yang tengah berdiri dan menatapnya dengan tatapan heran.
“Di mana Rama?”
“Rama? Dia ada di dalam, tadi aku membelikannya snack mungkin sedang makan.”
Faruq masuk ke dalam ruangan kerja Luna untuk memastikan kalau Rama baik-baik saja dan benar apa yang Luna katakan diluar, Rama sedang bermain game di ponselnya sambil memakan snack yang diberikan oleh Luna.
“Kamu masih tak percaya kalau aku tidak berniat jahat pada anakmu ini?”
“Aku tetap akan mengawasimu Luna, awas saja kalau kamu berani menyakiti Rama!”
“Terserah saja kamu mau menuduhku seperti apa, yang jelas Rama sudah mengatakan sendiri bahwa aku tidak melakukan kejahatan apa pun padanya, bukan begitu Rama?”
“Iya Tante.”
****
Nadiba melihat jam di ponselnya, saat ini jam sudah menunjukan pukul 3 sore dan ia belum memberikan kepastian mengenai penawaran yang diberikan oleh Felix sebelum pria itu berangkat. Nadiba nampak bimbang
mengenai keputusan apa yang harus ia ambil saat ini hingga akhirnya ia pun memberanikan diri untuk memberikan jawaban pada Felix.
“Baiklah Nadiba, kamu pasti bisa melakukan ini.”
Nadiba kemudian mengetikan sebuah pesan pada Felix dan berharap pria itu segera membacanya, tidak lama setelah Nadiba meletakan ponselnya, ponsel tersebut berdering dan ketika Nadiba melihat layar ponselnya tertera nama Felix di sana, ia pun segera menjawab telepon dari pria tersebut.
“Ada apa Tuan Felix?”
“Aku akan segera mengirimkan alamatnya padamu, oke?”
Setelah itu Felix menutup sambungan telepon dan memberikan alamat di mana mereka bertemu nanti malam.
“Semoga saja keputusan yang aku ambil ini sudah benar.”
__ADS_1