Anugerah Cintamu

Anugerah Cintamu
Kabar Baik


__ADS_3

Nadiba meminta orang yang melakukan kejahatan pada keluarganya ini untuk mengatakan yang sebenarnya, orang tersebut nampak ragu untuk mengatakan yang sejujurnya pada Nadiba akan tetapi Nadiba memohon supaya


orang ini mau mengatakannya karena ia benar-benar ingin mengetahui siapa orang yang paling bertanggung jawab atas kejadian buruk yang menimpa keluarganya belakangan ini.


“Aku yakin bahwa kamu memiliki hati nurani, maka aku mohon padamu untuk menggunakannya sekrang, aku memohon padamu.”


Orang itu nampak iba pada Nadiba hingga akhirnya ia mau mengatakan siapa orang yang telah menyuruhnya melakukan hal tersebut pada Nadiba dan keluarganya, alangkah terkejutnya Nadiba saat tahu siapa orang


tersebut.


“Dia adalah Nimas.”


“Nimas? Bukankah Nimas sedang dipenjara saat ini?”


“Sebenarnya dia memang dipenjara saat ini akan tetapi dia masih dapat menyuruh orang lain untuk melakukan seperti apa yang dia perintahkan seperti diriku.”


“Kenapa kamu mau melakukan ini?”


“Karena aku berutang budi pada Nimas, wanita itu sudah menolong keluargaku di masa lalu dan dengan cara ini aku dapat membalas kebaikannya.”


Nadiba nampak terkejut dan tak menyangka dengan kejujuran yang diberikan oleh orang ini, ia tentu saja merasa kasihan pada orang ini karena harus menanggung apa yang tidak seharusnya ia tanggung akibat dirinya berutang budi pada Nimas.


“Terima kasih karena kamu sudah mau mengatakan yang sejujurnya padaku.”


“Aku minta maaf atas perbuatan kejiku padamu dan keluarga, aku benar-benar meminta maaf.”


“Aku sudah memaafkanmu, terima kasih karena sudah mau jujur padaku.”


Selepas mengatakan itu maka Nadiba pun segera pergi dari ruangan ini karena memang waktu berkunjung sudah habis, selepas ia keluar dari kantor polisi itu Felix langsung menghampirinya dan bertanya apakah orang yang


ditahan itu mau mengatakan sesuatu pada Nadiba.


“Iya, dia mau mengatakannya, orang yang menjadi dalang di balik semua ini adalah Nimas.”


“Nimas? Bukankah dia sedang dipenjara?”


“Iya, dia memang sedang dipenjara akan tetapi rupanya dia masih memiliki kaki tangan yang siap membantunya untuk melakukan kejahatan seperti yang dilakukan oleh orang itu.”

__ADS_1


****


Nadiba tak habis pikir dengan sepupunya itu, ia sudah dipenjara namun wanita itu masih saja berusaha menghancurkan kebahagiaan keluarganya seolah semua belum cukup dilakukan untuk membuat Nadiba menderita. Nadiba pergi menjenguk Nimas dipenjara saat ini, Nimas nampak tidak suka bertemu dengan Nadiba namun karena dipaksa petugas maka ia mau menemui Nadiba.


“Mau apa kamu menemuiku di sini?”


“Aku hanya ingin bertanya bagaimana kabarmu?”


Nimas nampak tertawa mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Nadiba barusan, Nimas mengatakan bahwa sebaiknya Nadiba tak perlu bersikap sok baik padanya.


“Kamu pikir aku tidak tahu kalau kamu menyembunyikan wajah iblismu di balik wajah polosmu ini?”


Nadiba menggelengkan kepalanya, Nimas rupanya masih saja berprasangka buruk padanya padahal Nadiba tidak memiliki maksud apa pun pada Nimas dan kedatangannya ke sini murni untuk menjenguk Nimas sebagai keluarga.


“Aku datang ke sini dengan niat yang baik dan tulus, aku tidak berniat menjelekkanmu.”


“Sudahlah Nadiba, aku muak denganmu, lebih baik kamu pergi saja.”


“Aku sudah tahu mengenai semuanya, apakah kamu tidak menyesalinya Nimas?”


“Apa maksudmu? Aku tidak paham dengan apa yang kamu bicarakan ini.”


****


Nadiba keluar dari rumah tahanan dengan raut wajah murung, ia tak menyangka bahwa Nimas masih saja membencinya dan bahkan mencaci maki dirinya padahal dirinya datang ke sana dengan niatan yang baik.


“Nadiba, apa yang dia katakan padamu di dalam sana? Apakah dia mengakui kejahatannya?” tanya Felix.


Nadiba menggelengkan kepalanya dan Felix pun segera memeluk Nadiba untuk menenangkan hati istrinya ini.


“Tidak apa, jangan bersedih begini, bagaimanapun juga kebenaran sudah terungkap.”


“Aku sedih bukan karena dia tidak mengakui kejahatannya, aku sedih karena dia masih belum berubah walaupun sudah berada di balik jeruji besi.”


“Percuma saja kamu mengharapkan orang itu untuk berubah Nadiba, yang datang mengubah manusia itu adalah dirinya sendiri, bukan orang lain.”


Nadiba mengamini apa yang Felix katakan barusan, walaupun ia sedih karena rupanya Nimas masih belum berubah namun hidup harus terus berjalan dan Nadiba hanya dapat berdoa semoga saja Nimas bisa segera menyadari kesalahannya dan segera memperbaiki diri.

__ADS_1


“Lebih baik sekarang kita pulang, kamu sepertinya lelah,” ujar Felix.


Nadiba mengangnggukan kepalanya dan kemudian ia serta Felix masuk ke dalam mobil pria itu, sepanjang perjalanan pulang ke rumah nampak Nadiba menghela napasnya dan menatap keluar jendela mobil untuk menikmati pemandangan diluar sana.


****


Akhirnya kabar baik didengar juga oleh Nadiba, Kusuma bisa ditemukan dalam keadaan selamat setelah hampir 4 hari lamanya disekap di sebuah tempat yang jauh sekali, ketika polisi menemukan Kusuma dalam kondisi


lemah dan langsung dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan dari tim medis. Nadiba tentu saja bahagia mendengar kabar itu, ia dan Felix bergegas menuju rumah sakit tempat di mana Kusuma dirawat, ketika sudah sampai di depan ruangan inap Kusuma nampak Nadiba terlebih dahulu menengok ke dalam ruangan


tersebut untuk memastikan bahwa memang orang yang dirawat di sini adalah Kusuma.


“Kenapa Nadiba? Apakah benar ibu dirawat di sini?” tanya Felix.


“Iya, ibu memang dirawat di sini,” jawab Nadiba yang sudah memastikan bahwa orang yang dirawat di dalam ruangan ini adalah memang ibunya.


Nadiba dan Felix kemudian masuk ke dalam ruangan tersebut namun Nadiba merasa sedih karena ketika masuk ke dalam ruangan tersebut nampak Kusuma masih belum sadarkan diri.


“Tenanglah Nadiba, aku yakin bahwa ibu pasti akan siuman.”


“Semoga saja begitu, aku takut kalau sesuatu hal yang buruk terjadi padanya.”


“Tenanglah, semua akan baik-baik saja.”


Nadiba menganggukan kepalanya dan kemudian duduk di kursi dekat ranjang di mana Kusuma tertidur, Nadiba menggenggam tangan ibunya dan mengusapnya pelan.


“Bu, tolong segera bangun, aku ada di sini.”


****


Felix mendapatkan telepon dari seseorang ketika ia tengah menemani Nadiba di ruangan inap Kusuma, Nadiba penasaran dengan siapa orang yang barusan menelpon Felix karena kalau ia melihat dari raut wajah Felix, sepertinya ada masalah yang cukup serius.


“Siapa yang menelpon?” tanya Nadiba saat Felix kembali masuk ke dalam ruangan inap Kusuma.


“Aku barusan mendapatkan kabar yang mengatakan bahwa Nimas ditemukan sudah tak bernyawa di dalam sel tahanannya,” jawab Felix yang membuat Nadiba terkejut bukan main.


“Apa katamu? Nimas maksudnya melakukan bunuh diri?”

__ADS_1


“Kurang lebih seperti itu, dia meninggal dengan cara menenggak racun serangga,” jelas Felix yang membuat Nadiba menutup mulutnya.


__ADS_2