
Nadiba nampak terkejut dengan ucapan Faruq barusan akan tetapi setelahnya ia tidak mau percaya begitu saja dengan yang Faruq katakan mengingat sebelumnya Faruq juga pernah mengatakan bahwa ia tidak akan
pernah mengganggu Nadiba lagi akan tetapi justru malah kebalikannya yang terjadi.
“Aku tahu yang ada di dalam pikiranmu saat ini Nadiba, pasti kamu masih tak percaya dengan apa yang aku katakan barusan bukan?”
“Maaf Mas, bukannya aku bermaksud tidak mempercayai apa yang kamu katakan, akan tetapi sudah banyak ucapanmu yang sangat bertolak belakang dengan kenyataan.”
Faruq terdiam mendengar ucapan Nadiba barusan karena benar apa yang Nadiba katakan bahwa ia selama ini masih begitu labil dalam mengambil keputusan, akan tetapi sekarang ia mencoba untuk mengikhlaskan Nadiba
sepenuhnya.
“Aku minta maaf atas semua sikap dan perkataanku padamu yang membuat tidak nyaman, aku sangat menyesalinya dan sekarang aku berjanji padamu bahwa aku tidak akan mengganggumu lagi.”
Nadiba nampak dapat melihat raut wajah keseriusan di wajah pria itu dan sorot matanya juga membuat Nadiba pada akhirnya mulai sedikit percaya dan I berharap kalau semua ini bukan hanya omong kosong belaka
seperti yang pernah Faruq lakukan sebelumnya.
“Baiklah Mas, aku akan mempercayai semua yang kamu katakan dan aku berharap kalau kali ini kamu benar-benar melakukan seperti apa yang kamu katakan.”
“Terima kasih banyak Nadiba, aku permisi dulu.”
Faruq langsung berbalik badan dan pergi begitu saja meninggalkan Nadiba, Kusuma yang sejak tadi memerhatikan dari dalam obrolan mereka berdua pun memutuskan untuk keluar selepas Faruq pergi.
“Apa yang tadi kalian berdua bicarakan, Nak?”
“Bukan apa-apa Bu, nanti saja kita bicaranya karena aku harus segera pergi bekerja.”
“Baiklah Nadiba, hati-hati di jalan, ya.”
Nadiba mencium tangan Kusuma dan kemudian pergi dari rumah itu menuju rumah Noah sementara Kusuma sendiri merasa penasaran dengan apa yang menjadi pembicaraan antara Nadiba dan Faruq barusan.
“Kenapa aku jadi sangat penasaran begini, sih?”
****
Faruq bicara pada Darsih bahwa ia akan pergi dari desa ini dan tentu saja Darsih terkejut dengan apa yang Faruq katakan barusan, ia merasa barusan salah dengar karena yang ia ingat adalah sampai kapan pun Faruq
tidak akan pernah meninggalkan desa ini sebelum ia dapat memenangkan hati Nadiba kembali.
__ADS_1
“Aku sekarang menyadari kalau Nadiba telah benar-benar menutup pintu hatinya untukku.”
“Kenapa kamu bisa mengatakan itu? Bukankah sebelumnya kamu orang yang sangat optimis?”
“Iya, sebelumnya aku memang sangat optimis ingin mendapatkan Nadiba akan tetapi sekarang aku menyadari kalau Nadiba tidak akan pernah menjadi milikku walau sekeras apa pun aku mencoba untuk mendapatkannya.”
“Syukurlah kalau akhirnya kamu menyadarinya Faruq, kalaupun kamu tidak mendapatkan Nadiba kembali akan tetapi Tante yakin diluar sana kamu akan menemukan orang yang dapat mencintaimu dengan tulus dan membuatmu bahagia.”
“Terima kasih banyak atas nasihatnya, Tante.”
Faruq kemudian pergi ke kamar untuk mulai membereskan pakaiannya dan saat itu Kusuma muncul di pintu depan rumah yang membuat Darsih terkejut.
“Kak, kamu kenapa datang ke sini?”
“Apakah Faruq masih ada di sini?”
“Tentu saja, barusan dia masuk ke dalam kamar, katanya dia tidak akan lama lagi untuk tinggal di desa ini.”
“Apa maksudmu dia tidak akan tinggal lama lagi di desa ini?”
“Iya katanya karena Nadiba sudah menolaknya maka ia akan pergi meninggalkan desa ini.”
****
“Apakah kamu yakin ingin pergi dari sini, Faruq?”
“Iya Bu, aku sudah mengatakannya pada tante Darsih.”
“Iya, aku juga sudah mendengarnya dari Darsih tadi, akan tetapi kamu benar-benar yakin dengan keputusanmu ini?”
“Iya Bu, aku sudah sangat yakin dengan keputusanku ini.”
“Syukurlah kalau akhirnya kamu menyadarinya, bukannya aku tidak mau menerimamu kembali menjadi menantuku akan tetapi kalau Nadiba sudah menolak untuk kembali padamu maka aku juga tidak dapat melakukan apa pun
untuk mengintervensi keputusan yang telah ia buat.”
“Aku mengerti Bu, walaupun berat dengan keputusan yang telah Nadiba buat akan tetapi aku akan mencoba untuk menerimanya.”
“Semoga saja setelah ini kamu dapat menemukan kebahagiaanmu diluar sana.”
__ADS_1
“Semoga saja begitu, terima kasih banyak, Bu.”
Akhirnya Kusuma pun pamit dari rumah Darsih untuk pulang, selepas Kusuma pulang nampak sebuah mobil berhenti di pekarangan rumah Darsih dan seorang wanita turun dari dalam mobil itu dengan membawa kopernya, Darsih nampak terkejut karena rupanya orang yang datang itu adalah putrinya.
****
Nadiba diceritakan oleh Noah bahwa Felix sudah mau keluar kamar dan saat ini dia sedang jalan-jalan menghirup udara segar diluar, Nadiba tentu saja merasa bahagia sekaligus lega mendengar kabar baik itu, dirinya berharap kalau kondisi Felix akan semakin membaik dan ia akan kembali pulih seperti sedia kala. Nadiba kemudian melakukan pekerjaannya di rumah itu ketika Felix datang. Felix langsung pergi begitu saja tanpa menyapa Nadiba dan Nadiba sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu karena ia tahu bahwa Felix masih belum mau bicara dengannya, setelah menyiapkan makan siang untuk Noah dan Felx, Noah meminta Nadiba memanggil Felix untuk mkan siang bersamanya di meja makan.
“Baik Pak Noah.”
Nadiba kemudian pergi menuju kamar Felix dan mengetuk pintu kamar pria itu, tidak lama kemudian pintu terbuka dan menampakan Felix yang tengah tidak memakai baju, sontak saja Nadiba terkejut dan memalingkan wajahnya.
“Mau apa kamu ke sini?”
“Anu, pak Noah meminta saya untuk memanggil tuan Felix ke bawah, saatnya makan siang.”
“Bilang pada papaku bahwa saat ini aku sedang tidak lapar.”
“Tapi Tuan Felix harus makan walau hanya sedikit, kata pak Noah sejak kemarin tuan Felix belum makan maka oleh sebab itu saat ini Tuan harus makan walau hanya sedikit nanti Tuan jatuh sakit lebih parah.”
“Kamu tidak perlu sok perhatian padaku Nadiba, hal tersebut hanya membuatku muak saja!”
****
Darsih memperkenalkan putrinya yang bernama Nimas pada Faruq yang sudah bersiap untuk pergi besok pagi, Nimas nampak tertarik dengan Faruq sejak dulu ketika pria ini masih menjadi suami Nadiba dan kebetulan saat
ini Nimas sudah bercerai dengan suaminya hingga ia bisa bebas mendekati Faruq.
“Bu, apakah besok dia benar-benar akan pergi?”
“Iya, dia besok akan pergi memangnya ada apa, Nak?”
“Tidak, bisakah Ibu menahannya lebih lama lagi di sini?”
“Kenapa Ibu harus menahannya lebih lama di sini? Dia sendiri yang ingin pergi maka Ibu tidak berhak untuk melarangnya.”
“Ayolah Bu, cari saja alasan supaya dia tidak pergi dulu.”
“Tunggu dulu sebentar, apakah kamu menyukainya?”
__ADS_1