
Nadiba kembali mengatakan pada Felix bahwa keputusan yang telah ia ambil ini adalah keputusan yang sudah final dan meminta Felix untuk menghargai segala keputusannya. Walaupun dengan berat hati mendengar jawaban yang Nadiba berikan namun Felix berusaha untuk menerimanya.
“Baiklah, aku minta maaf karena sudah memaksamu untuk tetap tinggal di sini, aku tidak bermaksud untuk membuatmu tidak nyaman.”
“Tidak apa Tuan, saya mengerti maksud Tuan Felix baik akan tetapi kalau saya tidak merasa nyaman maka saya juga tidak akan bisa maksimal dalam bekerja.”
“Kamu benar Nadiba.”
Akhirnya obrolan mereka terhenti di situ dan Nadiba pun fokus dalam membuat makan malam untuk keluarga ini, Felix sesekali memuji bagaimana cara Nadiba memasak dan tentu saja pujian dari Felix itu membuat Nadiba
berbunga-bunga namun tentu saja ia tak mau terlalu menampakan dirinya yang tengah berbunga-bunga akibat pujian Felix barusan.
“Kamu cantik kalau bersikap adanya Nadiba, kamu tak perlu jual mahal begitu.”
“Tuan ini bicara apa?”
“Aku serius, lebih baik kamu jadilah dirimu apa adanya dan tak perlu menyembunyikan apa pun perasaan yang kamu rasakan.”
Akhirnya pekerjaan Nadiba untuk memasak makan malam pun selesai tentu saja dengan bantuan Felix, walaupun pria itu tidak membantu banyak di dapur namun kehadiran Felix di dapur itu cukup membuat semangat Nadiba membara untuk menyajikan makanan yang lezat.
“Masakanmu enak sekali,” puji Felix yang sudah mencoba duluan masakan Nadiba.
“Tuan Felix terlalu berlebihan,” ujar Nadiba.
“Aku serius Nadiba, masakanmu ini enak sekali seharusnya kamu bisa menjadi seorang chef terkenal.”
Nadiba hanya tersenyum mendengar pujian Felix barusan, ia kemudian menata semua piring di atas meja makan sebelum Noah tiba dan duduk di kursinya.
“Ada apa ini? Tidak biasanya kamu sudah ada di sini sebelum makan malam?” tanya Noah pada Felix.
“Aku tadi membantu Nadiba dalam memasak makan malam, Pa.”
“Oh benarkah? Apakah dia benar-benar membantumu atau membuat kacau dapur, Nadiba?” tanya Noah pada Nadiba.
“Tuan Felix membantu saya, Pak Noah.”
“Kamu jangan berbohong padaku Nadiba, dia itu kan tidak bisa memasak apa pun selama tinggal di Australia dia lebih sering jajan diluar ketimbang masak sendiri di dapur.”
****
Obrolan hangat di meja makan terjadi, Nadiba sudah tidak terlalu canggung lagi ketika berada satu meja makan dengan Noah dan Felix begitu pula dengan Kusuma dan Rama. Hingga akhirnya setelah makan malam dan
Nadiba tengah mencuci piring kotor, Rama tiba-tiba saja menghampirinya.
“Ibu.”
__ADS_1
“Ada apa, Rama?”
“Teman-temanku mengatakan hal yang buruk soal Ibu tadi di sekolah.”
“Benarkah?”
“Iya Bu, aku marah sekali pada mereka karena mereka mengatai Ibu yang tidak-tidak.”
Rama menceritakan kalau Nadiba dikata-katai oleh teman-teman di sekolah Rama sebagai wanita murahan dan tak tahu diri, selain itu Nadiba juga dianggap sebagai aib desa mereka dan Nadiba serta keluarga pantas untuk diusir dari desa ini.
“Aku tidak terima dengan semua itu dan aku memukulnya.”
“Memukulnya?”
“Iya Bu, aku akui aku salah namun aku tidak rela jika ibuku dihina seperti itu oleh mereka karena aku tahu Ibu tidak seperti apa yang mereka katakan.”
“Ya Tuhan Rama.”
“Ada apa ini?” tanya Felix yang datang menghampiri mereka.
“Bukan apa-apa Tuan,” jawab Nadiba.
****
mensejajarkan tingginya dengan tinggi Rama, ia mengatakan bahwa Rama hebat sekali dalam membela Nadiba dan tidak rela jika Nadiba dikatai yang bukan-bukan namun Felix juga mengatakan kalau tindakan Rama yang memukul orang lain itu adalah tindakan yang tidak dapat dibenarkan.
“Aku tahu Om, aku mengakui kesalahanku.”
“Anak pintar kalau kamu mau mengakui kesalahanmu.”
“Aku minta maaf Om, Ibu.”
“Iya sayang, Ibu memaafkanmu, Ibu yang seharusnya meminta maaf karena sudah membuatmu dalam masalah seperti ini.”
“Ibu tidak salah apa pun, mereka yang salah, Bu.”
Nadiba tidak kuasa untuk membendung air matanya dan kemudian memeluk Rama dengan erat, setelah beberapa saat Nadiba melerai pelukannya dengan Rama kemudian Rama pamit untuk tidur pada Nadiba serta Felix.
“Aku tidur dulu Bu, Om.”
“Iya Rama, mimpi indah,” ujar Felix.
“Iya Om.”
Rama pun kemudian berjalan meninggalkan dapur untuk pergi ke kamarnya sementara Nadiba masih sibuk dalam menyeka air matanya yang tadi secara reflek tumpah saat memeluk Rama.
__ADS_1
“Maaf kalau Tuan Felix harus melihat saya menangis seperti ini.”
“Kamu tak perlu meminta maaf Nadiba, kamu berhak untuk menangis kok, menangis bukan berarti karena kita lemah namun karena kita merasakan emosi yang ada dalam diri kita.”
****
Faruq terbangun ketika pagi menjelang dan ia terkejut ketika menemukan dirinya tengah berada di dalam kamar Nimas dengan keadaan tak berbusana, ia segera menyibak selimut dan mengenakan pakaiannya yang tercecer
di dekat tempat tidur. Nimas yang merasa ada gerakan di sebelahnya pun membuka matanya dan melihat Faruq agak tergesa-gesa mengenakan pakaiannya.
“Kamu mau ke mana, Faruq?”
“Apa yang sudah kamu lakukan padaku, Nimas?”
“Kita bercinta dari siang hingga malam, apakah kamu lupa?”
“Kamu pasti memasukan sesuatu kan ke dalam minumanku?”
“Kenapa? Kamu menyukainya?”
Faruq nampak geram dengan apa yang Nimas lakukan padanya ini, ia segera bangkit dan hendak pergi namun Nimas menahannya dan memeluk tubuh Faruq dari belakang, ia sengaja mengulurkan tangannya menuju ****
***** Faruq sementara wajahnya ia dekatkan di leher pria itu untuk merangsang nafsu pria ini namun Faruq sudah muak dengan apa yang Nimas lakukan ini dan mendorong tubuh Nimas menjauh darinya.
“Cukup Nimas, kamu sudah sangat keterlaluan sekali!”
“Aku sudah mengatakan padamu kan kalau aku akan melakukan apa pun untuk mendapatkanmu!”
Faruq kemudian membuka pintu kamar namun ia dibuat terkejut ketika menemukan Darsih yang sama terkejutnya ketika melihat Faruq keluar dari dalam kamar putrinya.
“Apa yang sebenarnya kalian lakukan?”
****
Faruq menceritakan pada Darsih mengenai apa yang sudah Nimas lakukan padanya namun Nimas menyangklanya, ia mengatakan pada Darsih bahwa Faruq sengaja mengambil kesempatan dalam kesempitan ketika rumah sedang kosong.
“Apa-apaan kamu ini? Jelas-jelas kamu yang sudah memulai semua ini namun kamu sengaja ingin memutar balikan fakta!”
“Bu, tolong percaya padaku.”
“Tante, tolong jangan percaya dengan apa yang Nimas katakan barusan, aku berani bersumpah bahwa Nimas telah berbohong barusan.”
“Cukup!”
Darsih nampak tak tahu apa yang harus ia katakan karena ia benar-benar terkejut dan tak menyangka akan menemukan kejadian tak terduga seperti ini di pagi hari setelah ia kembali ke rumah.
__ADS_1