
Nadiba menjadi kepikiran karena ucapan Rama barusan yang menelponnya bahwa Kusuma tidak ditemukan selepas anaknya itu pulang sekolah, sejujurnya Nadiba takut sekali kalau hal yang buruk terjadi pada ibunya dan rupanya hal tersebut diketahui oleh Felix, pria itu pun bertanya pada Nadiba apa yang terjadi saat ini dan Nadiba pun akhirnya menceritakan apa yang sedang terjadi pada ibunya.
“Apa? Jadi ibu menghilang?”
“Begitulah, sekarang aku bingung sekali apa yang harus aku lakukan, aku takut kalau ibu mengalami hal yang buruk saat ini apalagi keberadaannya kan sama sekali tidak diketahui.”
“Coba kamu telepon sekali lagi, siapa tahu ibu menjawabnya.”
Nadiba pun mencoba untuk sekali lagi menelpon Kusuma namun tentu saja nomor Kusuma tidak aktif kembali dan hal tersebut membuat Nadiba menjadi semakin kepikiran karena takut sesuatu hal yang buruk tengah terjadi pada sang ibu, Felix sendiri berusaha menenangkan Nadiba dan mengatakan bahwa ia akan segera membantu Nadiba untuk mencari keberadaan Kusuma.
“Terima kasih, akan tetapi bisakah sekarang juga kita kembali ke rumah? Kasihan sekali Rama tidak bisa masuk ke dalam rumah karena pintu rumahnya ibu kunci.”
“Tentu saja, sekarang juga kita pulang.”
Sebenarnya Nadiba merasa tidak enak karena menghancurkan rencana bulan madunya dengan Felix akan tetapi kabar Kusuma yang menghilang tanpa kabar ini membuat Nadiba menjadi tidak tenang dan kemudian
malah kepikiran hal-hal yang buruk yang mungkin saja terjadi pada sang ibu. Akhirnya Nadiba dan Felix tiba juga di rumah, Rama nampak duduk di teras rumah sambil termenung karena tidak dapat masuk ke dalam rumah.
“Rama.”
“Ibu.”
Rama langsung memeluk ibunya dan Nadiba membalas pelukan dari sang anak tersebut, Nadiba langsung memeriksa keadaan Rama untuk memastikan apakah anaknya ini benar-benar dalam keadaan baik-baik saja atau
tidak dan Rama mengatakan bahwa ia sama sekali tidak kenapa-kenapa justru ia malah heran ke mana perginya Kusuma karena saat ia pulang justru sang nenek tidak berada di rumah.
****
Sudah 24 jam selepas Kusuma menghilang dan Nadiba sudah melaporkan kasus ini pada polisi, kini tidak ada yang dapat Nadiba lakukan selain berdoa pada Tuhan dan berharap semoga saja sang ibu bisa segera ditemukan. Tidak lama setelah ia membuat laporan kehilangan pada kepolisian, sebuah panggilan masuk muncul di layar ponselnya, Nadiba nampak melihat deretan angka asing yang tertera di layar ponselnya dan tentu saja ia nampak curiga dan
tak mau menjawabnya akan tetapi setelah ia berpikir lagi mungkin saja nomor asing itu adalah ibunya maka Nadiba pun mau menjawab telepon tersebut.
“Halo? Siapa ini?”
“Kamu tidak merindukan ibumu, Nadiba?”
“Siapa ini?”
“Kamu tidak perlu tahu siapa aku, kalau kamu memang ingin melihat ibumu selamat maka jangan laporkan kasus ini pada polisi.”
__ADS_1
“Tapi aku sudah melaporkannya pada polisi.”
“Kalau begitu cabut laporan itu karena kalau sampai melibatkan polisi maka aku akan membunuh ibumu!”
“Siapa ini? Kenapa kamu melakukan hal yang buruk pada keluarga kami? Apa salah keluarga kami padamu?”
“Kamu tidak perlu banyak bertanya, cepat lakukan apa yang aku perintahkan atau sekarang juga aku akan menghabisi nyawa ibumu!”
Selepas mengatakan ancaman itu, orang asing tersebut langsung menutup sambungan teleponnya, Nadiba panik dan mencoba kembali menghubungi nomor asing tersebut akan tetapi sayangnya nomor itu sudah tidak aktif.
****
Felix terkejut ketika Nadiba memintanya untuk mencabut laporannya pada polisi soal kehilangan Kusuma dan tentu saja Felix penasaran kenapa Nadiba melakukan hal itu dan Nadiba pun mengatakan kenapa ia melakukan
semua itu semata-mata demi keselamatan sang ibu.
“Orang yang menculik ibu menelponku dan mengatakan bahwa ia akan melakukan hal yang buruk jika kita melibatkan polisi.”
“Apa katamu?”
“Sejujurnya aku takut sekali kalau ada hal yang buruk terjadi pada ibuku, aku takut kalau ibu akan dibunuh olehnya.”
“Tapi ….”
“Tenanglah, berikan nomor ponsel orang asing itu padaku.”
Nadiba kemudian memberikan nomor ponsel orang asing tersebut pada suaminya dan Felix nampak sedang berusaha mencari di mana lokasi terakhir orang yang menelpon Nadiba barusan hingga akhirnya ia menemukannya.
“Aku tahu di mana terakhir kali posisinya,” ujar Felix.
“Benarkah?”
“Iya, kamu tenang saja, aku akan pergi ke sana dan menyelamatkan ibu.”
“Tidak, kamu tidak boleh pergi sendirian ke sana, itu terlalu berbahaya, kalau orang itu adalah sebuah gerombolan maka kamu tidak akan selamat.”
“Tenanglah Nadiba, aku akan baik-baik saja.”
Akan tetapi Nadiba tetap tak mau membiarkan Felix pergi sendirian, Nadiba mengatakan bahwa ia akan ikut pergi dengan Felix apa pun yang terjadi.
__ADS_1
****
Nadiba, Felix dan Noah tiba di lokasi terakhir di mana orang yang menelpon Nadiba terakhir berada, di titik ini adalah titik terakhir sebelum nomor itu menjadi tidak aktif akan tetapi ketika mereka tiba di sana justru yang ada adalah sebuah jalan yang minim penerangan dan tidak ada rumah atau bangunan apa pun di sini.
“Jalan ini sangat gelap dan sepi,” ujar Noah.
“Tidak ada penerangan atau apa pun di sini,” ujar Nadiba.
“Juga tidak ada rumah atau bangunan,” ujar Felix yang memandangi sekeliling.
“Mungkin akan jauh lebih baik kalau kita kembali maju sedikit, siapa tahu kita akan menemukan lokasinya,” ujar Noah.
Akhirnya mereka pun kemudian pergi agak ke depan dari lokasi tempat terakhir di mana nomor tersebut terdeteksi akan tetapi sampai mereka maju lebih ke depan pun, tetap tidak ada bangunan atau rumah yang ada justru adanya jalan buntu karena jembatan yang menghubungkan jalan ini dengan jalan diseberang sana sudah terputus.
“Jalan buntu,” ujar Felix.
“Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Nadiba.
“Kamu tunggu saja di dalam mobil, aku dan papa akan mencoba berkeliling siapa tahu kami menemukan adanya bangunan atau rumah terbengkalai yang mana bisa saja ibu ada di sana,” ujar Felix.
****
Faruq datang ke rumah Nadiba malam ini juga selepas ia pulang bekerja karena Nadiba menelpon dan memintanya untuk menjaga Rama malam ini karena ia dan Felix akan mencari di mana Kusuma berada. Faruq tentu saja
tidak keberatan menjaga anaknya karena ia juga merindukan Rama.
“Ayah, apakah nenek akan baik-baik saja?”
“Tentu saja sayang, nenek pasti akan baik-baik saja, sekarang lebih baik Rama pergi tidur karena hari sudah malam.”
“Tapi aku tidak mau pergi tidur sendirian, aku mau tidur dengan Ayah.”
“Baiklah, Ayah akan menemanimu tidur malam ini.”
Rama nampak bahagia mendengar Faruq akan menemaninya malam ini di kamar, selepas mereka sudah berbaring di atas kasur nampak listrik di rumah ini mendadak padam yang membuat Rama menjerit ketakutan.
“Tenanglah Nak, ini hanya mati listrik saja.”
“Aku takut Ayah.”
__ADS_1