
Noah nampak tak keberatan ketika diizinkan masuk oleh Kusuma terlebih dahulu ke dalam rumah karena ini adalah kesempatan emas baginya untuk bisa mendekati calon ibu mertuanya itu. Akan tetapi Nadiba sendiri merasa
kurang nyaman dengan hal ini karena bagaimanapun juga sampai saat ini Nadiba tidak memiliki perasaan pada Noah yang telah berharap banyak padanya.
“Nadiba, kamu kenapa?” tanya Kusuma saat melihat Nadiba tidak seperti biasanya.
“Aku agak lelah Bu,” jawab Nadiba.
“Kalau begitu kamu istirahat saja di kamar.”
“Baik Bu.”
Nadiba dan Rama kemudian pergi ke kamar Nadiba untuk beristirahat sementara setelah Nadiba pergi ke kamar, Noah mulai membuka percakapan dengan Kusuma mengenai keadaan Nadiba saat ini.
“Saya minta maaf kalau mungkin Nadiba tidak bisa bekerja di rumah Pak Noah untuk beberapa waktu.”
“Saya sama sekali tidak masalah dengan itu, saya bisa paham kalau kondisi Nadiba tidak sedang baik-baik saja saat ini.”
“Anda tidak akan memecat Nadiba kan?”
“Tentu saja saya tidak akan melakukan hal itu, dia dapat kembali bekerja setelah kondisinya membaik.”
Kusuma nampak begitu lega mendengar ucapan Noah barusan, setidaknya ia tidak perlu khawatir kalau Nadiba akan kehilangan pekerjaannya selama ini dan repot-repot mencari pekerjaan baru lagi.
“Pak Noah silakan diminum minumannya.”
“Terima kasih.”
Noah dan Kusuma nampak berbincang sebentar sampai akhirnya Noah memutuskan untuk pulang ke rumah, setelah Noah pulang dari rumah ini Kusuma pun segera bergegas menuju kamar Nadiba untuk melihat bagaimana
kondisi terkini putrinya itu.
“Bagaimana kondisimu saat ini, Nak?”
“Ibu tak perlu khawatir, aku baik-baik saja.”
“Ya Tuhan, semoga saja begitu karena Ibu sangat khawatir sekali.”
“Pak Noah sudah pulang?”
“Tentu saja dia sudah pulang, kalau dia belum pulang mana mungkin Ibu bisa menemuimu di sini?”
“Begitu rupanya.”
“Kamu hanya ingin menghindarinya saja, ya?” terka Kusuma yang membuat Nadiba terkejut.
“Kenapa Ibu menanyakan hal itu?”
__ADS_1
“Jawab saja pertanyaan Ibu Nadiba.”
“Sejujurnya aku tidak nyaman dengan sikap pak Noah yang sekarang Bu.”
****
Rama memberitahu ayahnya kalau Nadiba sudah diizinkan pulang ke rumah, Faruq yang mendengar kabar gembira itu turut bergembira dan mengatakan akan segera menjenguk Nadiba besok. Akan tetapi rupanya perbincangan antara Faruq dan Rama itu didengar oleh Luna dan wanita itu mengatakan Faruq tidak boleh pergi besok.
“Kenapa aku tidak boleh pergi besok?”
“Karena besok kamu harus bekerja.”
“Aku kan sudah mengajukan cuti.”
“Tapi cutimu aku tolak jadi kamu tidak bisa melakukan apa pun!”
Faruq merasa kesal karena Luna sepertinya mencoba menghalanginya pergi menemui Nadiba setelah ia mengaku jujur bahwa ia masih mencintai mantan istrinya itu.
“Aku akan mengembalikan semua yang telah kamu berikan padaku, Luna.”
“Untuk apa kamu harus repot-repot melakukan hal itu, Faruq? Semua yang telah aku berikan tidak perlu kamu kembalikan.”
“Tentu saja aku harus mengembalikannya karena tidak lama lagi kita akan berpisah.”
“Sudah aku katakan bahwa selamanya kita tidak akan pernah berpisah!”
Luna tidak terima dengan hal itu.
“Mau ke mana kamu?”
“Tentu saja aku mau pergi.”
“Siapa yang memberikanmu izin untuk pergi?!”
****
Luna berusaha untuk menahan Faruq supaya tidak pergi akan tetapi Faruq memutuskan untuk tetap pergi dari rumah ini dan mengabaikan dirinya. Luna tidak bisa hidup tanpa Faruq dan ia memutuskan untuk menyusul
suaminya itu pergi ke rumah Nadiba, ia tidak akan membiarkan Faruq kembali pada mantan istrinya itu. Kusuma sendiri nampak terkejut ketika menemukan Luna telah berdiri di depan pintu rumahnya dan bertanya mau apa wanita ini kembali datang ke rumahnya.
“Aku mau menemui Nadiba, aku dengar dia mengalami kecelakaan dan sudah diizinkan pulang oleh dokter.”
Kusuma nampak tak bisa percaya begitu saja dengan yang Luna katakan barusan karena bagaimanapun juga Luna pernah membuat celaka Rama dan Nadiba, ia tak boleh membiarkan wanita ini memanipulasi keadaan.
“Apakah anda masih tak percaya padaku?”
“Aku… bagaimana, ya?”
__ADS_1
Faruq keluar dari dalam rumah dan mengusir Luna dari rumah ini karena ia menganggap kalau Luna akan membuat onar di sini akan tetapi Luna jelas tak terima dengan pengusiran yang dilakukan oleh Faruq itu.
“Aku sama sekali tidak membuat onar di sini, justru kamu yang berteriak dan membuat onar.”
“Aku tahu apa yang ada di dalam pikiranmu Luna, jangan pernah coba menyakiti Nadiba dan Rama.”
“Aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan, aku datang ke sini dengan niat baik-baik.”
****
Ketika Luna dan Faruq sibuk mengurusi rumah tangga mereka yang akan karam tidak lama lagi justru Prabu berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan, setelah mendapatkan cap jari Ledi maka kini ia bisa mendapatkan
wewenang penuh di perusahaan seperti sedia kala. Prabu didukung oleh beberapa anggota dewan direksi dan juga pemegang saham yang telah bersekutu dengannya sejak awal. Posisi Ledi yang digantikan oleh Prabu itu langsung diketahui oleh Luna, ia tak terima jika papanya itu mengambil alih perusahaan dari tangan mamanya.
“Kamu harus ikut denganku,” ujar Luna saat baru saja mendapatkan telepon itu.
“Untuk apa aku harus ikut denganmu? Kalau kamu ingin pergi, maka pergilah sendiri,” ujar Faruq kesal.
“Saat ini papaku sudah mengambil alih perusahaan kita, aku tidak bisa membiarkan semua ini terjadi.”
Faruq terkejut dengan berita yang dikatakan oleh Luna barusan akan tetapi ia mengatakan tidak peduli akan hal itu, baginya masalah perusahaan adalah masalah Luna dan keluarganya.
“Kamu juga bagian dari keluarga Faruq, harusnya kamu juga ikut ke sana dan membantuku.”
“Aku sudah tidak akan lama lagi tidak akan menjadi bagian dari keluarga, jadi kamu saja yang pergi ke sana.”
“Tega sekali kamu mengatakan itu, Faruq.”
“Aku sudah berulang kali mengatakannya Luna, aku ingin kita berpisah.”
****
Kusuma nampak terkejut dan tak percaya saat mendengar Faruq ingin berpisah dengan Luna yang membuat wanita itu seperti kesetanan, Luna nampak tak terima dengan keputusan Faruq itu akan tetapi Faruq tetap
bergeming dengan keputusan yang telah ia buat. Luna sebenarnya tidak ingin pergi sekarang akan tetapi kalau ia tak pergi sekarang maka tidak akan ada waktu lagi untuk bisa mengagalkan rencana papanya menduduki posisi tertinggi di perusahaan.
“Faruq.”
“Ada apa, Bu?”
“Kamu serius dengan ucapanmu tadi?”
Kusuma dan Faruq tengah berbincang di ruang tamu rumah itu selepas Luna pergi, Faruq menganggukan kepalanya dan mengatakan pada mantan ibu mertuanya bahwa ia akan menceraikan Luna tidak lama lagi.
“Tapi kenapa kamu melakukannya?”
“Karena aku masih mencintai Nadiba.”
__ADS_1