
Ketika Faruq dan Luna tiba di rumah mereka menemukan Ledi sudah tak sadarkan diri, Luna tentu saja panik dan langsung menghubungi ambulance supaya mamanya segera mendapatkan penanganan medis. Faruq bertanya pada anaknya mengenai apa yang terjadi pada Ledi sampai bisa seperti tadi.
“Aku tidak tahu Ayah, tiba-tiba saja wanita itu langsung jatuh tak sadarkan diri.”
Petugas medis datang dan langsung membawa Ledi menuju rumah sakit, Luna nampak khawatir dengan keadaan mamanya dan Faruq berusaha untuk menenangkannya. Setelah melewati serangkaian pemeriksaan dari dokter
akhirnya Ledi diperkenankan untuk dirawat di ruang inap karena ia belum juga sadarkan diri sampai saat ini.
“Tenanglah Luna, dokter tadi sudah bilang kan kalau mama tidak apa-apa.”
“Namun apa yang sebenarnya terjadi pada mama? Apakah Rama tahu sesuatu?”
“Rama bilang dia tak tahu apa-apa, ketika makan tiba saja mama langsung tak sadarkan diri.”
“Kalau begitu pasti ada sesuatu hal yang salah dengan hidangan yang dimasak oleh bibi.”
Luna begitu kesal pada orang yang telah mencelakai mamanya dan ia tak bisa tinggal diam saja melihat mamanya seperti ini.
“Aku harus melakukan sesuatu.”
“Apa yang hendak kamu lakukan, Luna?”
“Aku harus mencari tahu siapa yang sudah membuat mamaku seperti ini.”
“Lebih baik kita tunggu sampai mama siuman saja.”
Faruq berusaha mencegah supaya Luna tak pergi ke mana pun karena ia khawatir kalau Luna pergi dari rumah sakit ini maka masalah akan semakin runyam dan ia tak ingin sampai hal itu terjadi.
“Baiklah, aku akan menunggu sampai mama siuman, kamu boleh pulang saja ke rumah.”
“Kamu yakin?”
“Iya Faruq, aku yakin.”
“Baiklah kalau begitu, aku pulang dulu.”
Faruq pun melangkahkan kakinya keluar dari ruangan inap Ledi, setelah kepergian suaminya Luna menatap sang mama dengan sedih karena sampai detik ini Ledi belum juga sadarkan diri.
“Tolong mama cepatlah bangun, ya.”
****
Faruq keesokan paginya bicara dengan para asisten rumah tangga dan orang yang bekerja di rumah ini mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada Ledi semalam namun mereka semua kompak mengatakan tidak tahu.
“Kami benar-benar tidak tahu Tuan.”
“Rama, kamu yakin tidak melihat ada yang aneh dari mereka semua?”
“Tidak Ayah.”
“Baiklah namun kalau aku mendapatkan bukti baru yang dapat menjerat salah satu di antara kalian, maka awas saja.”
__ADS_1
Setelah itu para asisten rumah tangga dan pekerja rumah bubar kembali pada pekerjaan masing-masing, Faruq kembali bertanya pada Rama mengenai kronologi kejadian semalam dan Rama pun menceritakan yang semalam
ia alami dengan Ledi.
“Hanya itu saja?”
“Iya Ayah.”
Faruq percaya pada anaknya bahwa Rama tak mungkin berbohong, Rama adalah anak yang jujur dan ia dapat mempercayainya, kini tugas Faruq adalah mencari tahu siapa dalang di balik semua ini. Ketika ia tengah
berpikir, ponsel yang ia taruh di saku celananya berdering menandakan ada panggilan masuk dan ketika ia melihat ponselnya tertera nama Luna di sana.
“Halo ada apa, Luna?”
“Faruq, datanglah sekarang juga ke rumah sakit, mama sudah siuman.”
“Benarkah?”
“Cepat kamu datang.”
“Baiklah, aku akan segera datang.”
“Ayah ada apa?” tanya Rama.
“Mamanya tante Luna sudah siuman, Nak.”
“Aku mau pergi bersama Ayah ke rumah sakit.”
“Tapi Ayah ….”
“Jangan membantah, sudah sana cepat pergi ke sekolah nanti kamu terlambat.”
****
Akhirnya Faruq pun tiba di rumah sakit lebih tepatnya di ruangan inap Ledi berada, di sana ada Luna yang tengah menunggui sang mama namun dari raut wajahnya Luna nampak sedih sekali walaupun saat ini Ledi sudah
siuman.
“Luna, kenapa kamu sedih? Mama kan sudah siuman.”
“Mama memang sudah siuman namun tubuhnya tak dapat digerakan dan juga mulutnya tidak dapat bicara.”
“Apa katamu?”
Faruq pun mencoba mengajak mama mertuanya untuk bicara namun wanita itu tidak dapat bicara dan menggerakan tubuhnya seperti yang Luna katakan barusan.
“Apa yang terjadi pada dokter?”
“Dokter bilang mereka akan melakukan pemeriksaan lanjutan mengenai apa yang terjadi pada mama.”
“Ya Tuhan, kasihan sekali mama.”
__ADS_1
Tidak lama kemudian perawat masuk ke dalam ruangan inap dan membawa Ledi menuju ruang pemeriksaan, Luna dan Faruq hanya dapat berdoa semoga saja dokter bisa segera mengetahui kenapa Ledi bisa seperti ini.
“Tenanglah Luna.”
“Aku takut kalau sesuatu hal yang buruk akan terjadi pada mama.”
“Mari kita berdoa semoga saja tidak terjadi sesuatu hal yang buruk pada mama.”
Luna menganggukan kepalanya dan memeluk tubuh Faruq, akan tetapi rupanya tanpa mereka sadari saat ini ada seseorang yang tengah memperhatikan mereka dari luar ruangan inap dan orang tersebut sedang menyeringai pada mereka.
****
Dokter mengatakan kalau ada obat yang sengaja diberikan oleh seseorang untuk membuat seluruh tubuh Ledi tak dapat digerakan tentu saja hal tersebut membuat Luna dan Faruq terkejut bukan main. Luna pun jadi curiga bahwa ada orang rumah yang sengaja melakukan hal itu pada mamanya dan kalau sampai ia menemukan siapa pelaku yang telah melakukan ini pada sang mama maka ia bersumpah tidak akan memaafkan orang tersebut.
“Tenangkan dirimu Luna.”
“Pasti salah satu di antara mereka semua ada orang yang sengaja melakukan ini, aku tidak bisa tinggal diam begitu saja, Faruq.”
“Aku mengerti bagaimana perasaanmu Luna, kita pasti akan menemukan orang itu.”
“Iya, kita harus menemukan orang itu dan aku akan membuat orang itu membayar atas apa yang telah ia lakukan pada mamaku.”
Luna meminta orang suruhannya berjaga di ruangan inap Ledi sementara dirinya ingin pulang sebentar, Faruq yang mendengar itu menjadi khawatir kalau Luna pulang sendirian karena saat ini kondisi Luna sedang tidak dalam keadaan yang baik.
“Luna, apa yang akan kamu lakukan?”
“Aku akan mencari tahu siapa orang yang telah melakukan ini pada mama.”
“Luna, tenangkan dirimu.”
“Aku tidka bisa tenang selama aku belum mengetahui siapa yang telah melakukan ini pada mamaku.”
****
Nadiba terkejut ketika Noah sudah berdiri tepat di belakangnya saat ia sedang berbalik badan, Nadiba menundukan kepala sopan pada Noah sebelum ia hendak pergi ke tempat lain untuk bekerja membersihkan rumah ini akan tetapi Noah menahan tangan Nadiba yang hendak pergi itu.
“Nadiba.”
“Ada apa, Pak Noah?”
“Saya ingin bertanya sesuatu padamu.”
“Apa yang ingin Pak Noah tanyakan pada saya?”
“Mungkin kamu akan bosan mendengar pertanyaan saya namun apakah kamu benar-benar mencintai putraku, Felix?”
“Iya saya mencintai putra anda tuan Felix, Pak Noah. Apakah Pak Noah keberatan dengan hal itu?”
“Nadiba, apakah kamu sudah memikirkan dengan baik mengenai keputusanmu itu? Apakah kamu tidak akan menyesalinya?”
“Maaf, akan tetapi saya penasaran kenapa Pak Noah selalu bertanya mengenai hal itu pada saya?”
__ADS_1