
Nadiba merasa terkejut dengan apa yang Felix katakan padanya barusan ini, ia tidak paham kenapa Felix malah menyalahkan sesuatu hal yang tidak ia ketahui padanya padahal dirinya sendiri tidak tahu menahu mengenai
hal ini.
“Maaf sebenarnya apa yang sedang kamu bicarakan ini?”
“Semua karena kamu, kamu telah membuat papaku begitu gila padamu.”
“Maaf, tapi ini bukan salahku, papamu sendiri yang begitu tergila-gila padaku, aku sudah berusaha menolaknya akan tetapi dia terus saja berusaha untuk mendekatiku.”
“Jadi kamu ingin bilang kalau papaku itu bodoh begitu karena sudah tergila-gila padamu?”
“Tidak, aku sama sekali tidak mengatakan itu, barusan kamu sendiri yang mengatakannya.”
Jawaban dari Nadiba itu sungguh membuat Felix naik darah, ia ingin sekali menghajar Nadiba akan tetapi akal sehatnya masih berfungsi, ia tidak ingin menyakiti Nadiba dan memilih untuk menurunkan Nadiba di sini.
“Kamu keluarlah dari mobil ini.”
Nadiba pun tanpa berkata apa pun turun dari mobil Felix dan sesaat setelah ia turun, Felix langsung melajukan kendaraannya itu meninggalkan Nadiba yang menghela napasnya tidak mengerti dengan kenapa Felix menyalahkannya dengan apa yang telah terjadi pada papanya. Akan tetapi Nadiba juga tidak menyanggah
kalau dirinya juga sakit akibat perlakuan Felix yang buruk padanya, ia pikir Felix benar-benar mencintainya akan tetapi rupanya ia sudah salah mengenai hal itu.
“Sudahlah, aku tidak boleh memikirkan dia terus.”
Nadiba kemudian melangkahkan kakinya pulang ke rumah, di rumah nampak Kusuma sudah menantinya sejak tadi dengan raut wajah khawatir karena ia takut kalau sesuatu hal yang buruk terjadi pada Nadiba.
“Ya Tuhan, syukurlah kamu sudah kembali, Nak. Sebenarnya dari tadi kamu ke mana saja? Kenapa lama sekali ke pasar?”
“Anu Bu, tadi aku bertemu dengan tuan Felix.”
“Tuan Felix?”
“Iya Bu, tadi dia mengajakku untuk bicara sebentar oleh sebab itu aku pulang agak terlambat.”
“Apa saja yang kamu dan tuan Felix bicarakan?’
“Bukan sesuatu hal yang penting, kok.”
****
Noah datang ke rumah Nadiba dan disambut oleh Kusuma, wanita itu nampak heran kenapa Noah datang ke rumahnya saat ini dan Noah pun mengatakan pada Nadiba bahwa ia datang ke sini karena ingin meminta maaf pada Nadiba.
__ADS_1
“Kenapa harus meminta maaf pada Nadiba?”
“Karena tadi Felix sudah mengatakan hal yang buruk padanya.”
“Bukankah Pak Noah bisa mengirimkan lewat pesan saja permintaan maaf pada Nadiba?”
“Saya sudah mencobanya, akan tetapi Nadiba sudah memblokir nomor saya.”
Tidak lama kemudian Nadiba keluar dari dalam rumah, Nadiba mengatakan pada Kusuma untuk untuk masuk saja ke dalam rumah karena ia ingin bicara dengan Noah dulu sebentar. Kusuma pun melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah seperti yang diminta oleh Nadiba tadi.
“Pak Noah, bukankah saya sudah mengatakan pada anda untuk jangan mengusik saya lagi?”
“Saya datang ke sini untuk meminta maaf padamu, Nadiba atas apa yang telah Felix lakukan padamu.”
“Saya sudah memaafkan tuan Felix, jadi Pak Noah jangan khawatir.”
“Terima kasih banyak.”
“Sekarang Pak Noah bisa pergi.”
“Nadiba, apakah kamu yakin tidak ingin bekerja lagi di rumahku?”
“Saya sudah mengatakan pada Pak Noah sebelumnya bahwa keputusan yang telah saya buat itu adalah keputusan yang sudah final, tolong Pak Noah paham mengenai hal itu.”
****
dan bicara dengan Nadiba akan tetapi makin hari Nadiba tidak mau menemui Noah lagi.
“Maaf Pak Noah, akan tetapi Nadiba tidak mau bertemu dengan anda sekarang.”
“Kenapa Bu?”
“Karena dia bilang sudah tidak da lagi yang perlu kalian bicarakan.”
“Apakah anda tidak dapat membujuknya untuk menemui saya sekali ini saja?”
“Maaf Pak Noah, bukannya saya tidak mau akan tetapi apa yang anak saya katakan memang benar adanya, lebih baik Pak Noah tidak lagi datang ke sini karena percuma saja Nadiba tidak akan mau menemui Pak Noah.”
Noah tentu saja sedih mendengar ucapan Kusuma barusan yang memintanya untuk jangan datang lagi ke sini. Akan tetapi Noah bertekad tidak akan patah semangat begitu saja, iapun memutuskan untuk kembali ke
rumahnya setelah itu. Kusuma pun masuk ke dalam rumah dan memberitahu Nadiba bahwa Noah sudah pulang barusan.
__ADS_1
“Terima kasih banyak Bu.”
“Tidak masalah, Nak. Ibu tidak menyangka kalau pak Noah akan berjuang segigih ini untuk membuatmu kembali bekerja di rumahnya.”
“Tetapi aku kan sudah mengambil keputusan, bukankah sebaiknya dia menghormati keputusan yang telah aku ambil itu?”
“Iya, kamu benar, harusnya dia menghormati keputusanmu.”
****
Faruq datang ke rumah Nadiba dengan alasan ia ingin menjenguk Rama, Nadiba tentu saja tidak keberatan untuk hal itu. Nadiba menyiapkan makan siang untuk mereka semua dan setelahnya mengajak Faruq untuk
makan siang bersama sekalian yang tentu saja Faruq tidak akan menolak tawaran ini begitu saja.
“Ini mengingatkanku akan masa lalu,” ujar Faruq yang membuat Nadiba terhenti makan saat mendengar ucapan mantan suaminya.
“Aku rindu kita seperti ini,” ujar Rama.
“Ayah pun rindu, Nak,” ujar Faruq.
“Apakah Ibu merindukannya juga?” tanya Rama yang membuat Nadiba terkejut dan ia jadi bingung sendiri mengenai jawaban apa yang harus ia berikan atas pertanyaan yang barusan Rama tanyakan padanya.
“Sudahlah Rama, kamu jangan bertanya hal yang aneh-aneh begitu, lebih baik segera saja makan,” ujar Nadiba.
“Jadi Ibu tidak merindukan moment seperti itu?”
“Nak, sudah Ibu katakan bahwa lebih baik kita fokus saja makan?”
Rama tentu saja kecewa dengan jawaban yang diberikan oleh sang ibu, akan tetapi Faruq berusaha untuk menenangkan anaknya itu. Setelah makan siang, Rama memutuskan untuk tidur siang di kamar dan Nadiba tidak enak untuk mengusir Faruq untuk pulang jadinya mereka berdua hanya duduk dengan canggung tanpa ada pembicaraan yang terjadi antara keduanya.
****
Faruq tidak tahan jika harus saling diam-diaman begini dengan Nadiba hingga akhirnya ia pun memutuskan untuk membuka obrolan dengan Nadiba mengenai apa yang tadi Rama tanyakan padanya.
“Nadiba, apakah kamu benar-benar tidak merindukan moment makan bersama seperti tadi?”
“Mas, tolong jangan membahas masa lalu, aku sudah tidak ingin membahasnya.”
“Begitu rupanya, jadi kamu tidak merindukannya dan kamu tidak ingin kembali seperti dulu lagi?”
“Bukankah waktu itu aku sudah mengatakan pada Mas Faruq bahwa semua sudah tidak sama lagi?”
__ADS_1
“Semua memang sudah tidak sama lagi Nadiba, akan tetapi selalu ada jalan untuk kita bisa kembali seperti dulu lagi walaupun tidak akan sama persis seperti dulu.”
“Aku mengerti apa yang tengah Mas Faruq bicarakan ini, tetapi tolong hargai keputusanku, Mas.”