
Felix akhirnya mengantarkan Nadiba menuju rumahnya dengan membawa buah tangan untuk Rama, ketika mereka tiba di rumah nampak Kusuma yang menyambut kedatangan keduanya. Nadiba mengatakan kalau Felix ingin
memberikan sesuatu pada Rama dan Kusuma pun memanggil Rama untuk datang ke depan. Anak itu nampak heran kenapa neneknya memintanya untuk ke sini dan rupanya saat itu Felix langsung memberikan hadiah tersebut untuk Rama.
“Terima kasih banyak Om.”
“Sama-sama Rama.”
Rama nampak begitu bahagia mendapatkan hadiah ini dari Felix hingga memeluk pria itu, Felix nampak membalas pelukan Rama tersebut hingga Nadiba bisa melihat bahwa Felix memang sepertinya tulus memberikan hadiah
tersebut pada Rama hingga membuatnya sedikit terharu.
“Kamu kenapa, Nadiba?” tanya Felix yang melihat Nadiba seperti menangis kecil.
“Tidak apa, Tuan, saya hanya terharu saja karena Tuan Felix begitu baik pada Rama,” jawab Nadiba.
“Terima kasih banyak Tuan Felix,” ujar Kusuma.
“Tidak masalah Bu, kalau begitu aku langsung pulang saja, ya?”
“Tuan tidak mau mampir dulu? Kita bisa makan malam bersama.”
“Mungkin lain kali saja, aku harus kembali ke rumah, selamat malam.”
“Sekali lagi terima kasih Tuan Felix,” ujar Nadiba.
“Tidak masalah, Nadiba.”
Akhirnya Felix pun pergi dari rumah ini dan Nadiba pun masuk ke dalam rumah disusul oleh Kusuma yang menutup pintu depan rumah lalu mengajak putrinya mengobrol sebentar mengenai apa yang barusan Felix lakukan.
“Tuan Felix benar-benar baik sekali, ya? Dia sepertinya begitu tulus ketika memberikan hadiah untuk Rama.”
“Iya Bu, aku bisa merasakan betapa dia tulus ketika memberikan hadiah tersebut, oleh sebab itu aku jadi terharu.”
“Sepertinya tuan Felix cocok sekali menjadi ayah sambungnya Rama, ya?”
“Ibu ini bicara apa, sih?”
“Bukankah begitu? Dia akan menjadi ayah sambung Rama kelak?”
“Sudahlah Bu, aku tidak mau membahas itu dulu.”
Nadiba memilih untuk menghindari pembicaraan seperti barusan dan memilih untuk segera pergi ke kamarnya sementara Kusuma hanya menggelengkan kepalanya melihat putrinya yang salah tingkah.
****
Ketika Nadiba baru saja tiba di rumah Noah untuk melakukan pekerjaanya hari ini nampak Felix sudah menyambutnya di depan pintu dan membuatnya agak terkejut, Felix nampak tersenyum pada Nadiba dan mengatakan ia ingin memberikan hadiah untuk Nadiba namun Nadiba nampak menolaknya.
“Tolong jangan menolak hadiah dariku ini, Nadiba, tunggu sebentar.”
__ADS_1
Felix pergi ke kamarnya sebelum kembali dengan membawa hadiah yang memang ia persiapkan untuk Nadiba.
“Tuan kemarin sudah memberikan Rama hadiah, rasanya ini terlalu berlebihan.”
“Aku memang ingin memberikanmu hadiah hanya saja karena tahu kalau besok kamu akan datang ke rumah ini untuk bekerja maka aku sengaja tidak memberikan hadiah itu kemarin dan hanya membawa hadiah untuk Rama.”
“Tapi Tuan ….”
“Tolong kamu terima hadiah ini, Nadiba.”
Nadiba yang merasa tidak enak jika menolak hadiah dari Felix pun akhirnya menerima juga hadiah tersebut seraya berterima kasih pada Felix atas hadiah ini.
“Kamu tidak mau membukanya?”
“Apa?”
“Aku ingin lihat bagaimana reaksimu ketika membuka hadiah dariku, jadi tolong kamu bukalah hadiah dariku ini.”
“Tapi Tuan ….”
“Tolong Nadiba.”
Lagi-lagi akhirnya Nadiba pun menuruti apa yang Felix inginkan, ia membuka hadiah dari Felix tersebut dan ia terkejut karena Felix membelikannya beberapa pakaian, sepatu dan juga jam tangan.
“Apakah kamu menyukainya?”
“Tuan Felix, hadiah ini banyak sekali.”
****
“Kamu kenapa melerai pelukannya?”
“Aku tidak nyaman.”
“Tapi kita kan sekarang sudah menikah, biar saja warga desa melihatnya kan?”
“Aku sudah mengatakan kalau aku tidak nyaman.”
Setelah mengatakan itu Faruq langsung berbalik badan dan masuk ke dalam rumah, Nimas kemudian mengikuti langkah kaki Faruq masuk ke dalam rumah. Mereka menuju meja makan di mana Darsih sudah menyiapkan sarapan untuk mereka, Faruq pun jadi merasa tidak enak karena hanya Darsih saja yang menyiapkan sarapan untuk mereka tanpa dibantu oleh Nimas.
“Kenapa kamu harus merasa tidak enak? Aku kan memang selalu masak untuk makan malam bukannya sarapan jadi kamu tak perlu mengatakan itu pada ibu, Faruq.”
“Nimas, kok kamu bicara seperti itu pada ibumu sendiri, sih?”
“Memangnya aku salah? Toh apa yang aku katakan benar kan, Bu?”
Darsih tidak menjawab pertanyaan Nimas barusan dan hal tersebut membuat Nimas kesal, ia bersikap menyebalkan di meja makan dan mengatakan bahwa apa yang ibunya masak ini sama sekali tidak enak dan meminta Faruq untuk jangan memakan masakan Darsih.
“Nimas, bisakah kamu jangan bersikap seperti ini?”
__ADS_1
****
Hari ini Nadiba pergi ke kota untuk membeli bahan makanan yang mulai menipis di rumah Noah sekaligus belanja untuk keperluan rumah tangganya, awalnya Nadiba ingin pergi sendiri saja namun Felix mengatakan ingin
mengantarkan Nadiba. Kini mereka sudah sampai di pasar dan Felix mengikuti ke mana pun Nadiba pergi bahkan ia membantu Nadiba membawakan belanjaan tanpa rasa sungkan.
“Tuan tidak perlu membantu saya, sini saya bawakan.”
“Sudahlah Nadiba, kamu juga sudah membawa banyak barang belanja begitu, jangan memaksakan diri.”
Akhirnya Nadiba tidak mendebat apa yang Felix katakan barusan hingga mereka pun selesai belanja dan menuju parkiran di mana mobil Felix berada, ketika mereka sudah sampai di parkiran dan Felix tengah menata belanjaan di bagasi mobil nampak seseorang menghampiri Nadiba.
“Kamu Nadiba kan?”
Nadiba yang merasa namanya dipanggil pun sontak menoleh ke arah sumber suara, di depannya terlihat sosok Luna yang sudah lama ia tidak temui yang tentu saja membuatnya terkejut.
“Kamu Luna kan?”
“Iya Nadiba, lama tidak berjumpa, ya?”
“Apa yang kamu lakukan di sini?”
“Apakah kamu tahu di mana Faruq tinggal?”
“Mas Faruq?”
“Iya, bukankah dia tinggal di desa tempat kamu tinggal?”
“Nadiba, siapa wanita ini?” tanya Felix yang memang belum pernah bertemu Luna sebelumnya.
****
Darsih mendengar ada seseorang mengetuk pintu rumahnya dan ia dengan segera menuju pintu untuk melihat siapa tamu yang datang pada siang ini, ketika ia membuka pintu rumahnya, dirinya merasa terkejut karena mendapati Luna berdiri di sana.
“Kamu? Mau apa kamu di sini?”
“Apakah Faruq tinggal di sini?”
“Kenapa kamu menanyakan Faruq?”
“Katakan saja apakah dia tinggal di sini atau tidak.”
“Iya, dia memang tinggal di sini.”
“Kalau begitu apakah dia ada di dalam? Aku ingin bertemu dengannya sekarang.”
“Sayangnya Faruq sedang tidak ada di dalam sekarang.”
“Oh benarkah?”
__ADS_1
“Tentu saja, aku sama sekali tidak berbohong dengan hal tersebut!”