
Noah menemui wanita yang merupakan masa lalunya, sebenarnya ia benar-benar tidak habis pikir kenapa wanita ini mau bertemu dengannya lagi setelah sekian lama mereka tak berjumpa, akan tetapi rupanya ia membawa kabar mengejutkan yaitu sudah mengetahui perihal Felix.
“Apa katamu?”
“Felix adalah putramu kan?”
“Iya, kamu benar sekali kalau Felix adalah putraku, aku pikir kamu tidak akan pernah mengetahui hal itu.”
“Apa tujuanmu mengirim dia ke perusahaanku? Apakah kamu ingin menghancurkanku menggunakan anak itu?”
“Jaga bicaramu, aku tidak pernah memintanya untuk bergabung ke perusahaanmu, dia sendiri yang sangat ingin bergabung dengan perusahaan kalian padahal aku sudah berusaha untuk menghentikannya akan tetapi dia tetap
saja berkeras dan tak mau mendengarkan apa yang aku katakan.”
“Dan apakah kamu pikir aku akan mempercayai apa yang kamu katakan barusan?”
“Terserah saja, aku tidak memaksamu untuk mempercayai semua yang aku katakan. Akan tetapi satu hal yang perlu kamu ingat, bahwa apa yang aku katakan adalah sebuah kebenaran.”
Wanita itu menggelengkan kepalanya tanda ia tak menerima penjelasan yang diberikan oleh Noah barusan, baginya Noah adalah seorang penipu yang ingin kembali menghancurkan kehidupannya.
“Bisakah kamu tidak perlu mengincarku lagi? Kita sudah berakhir malam itu dan kamu juga setuju untuk tidak mengusikku lagi?”
“Ini bukan keinginanku, Tsania, ini adalah takdir kita.”
“Omong kosong dengan takdir, aku percaya bahwa kamu yang telah merancang semua ini karena kamu ingin membalaskan dendammu padaku akibat kehancuran rumah tanggamu!”
“Bicaralah sesuka hatimu, kelak kamu akan tahu yang sebenarnya.”
Noah pun bergegas pergi meninggalkan wanita bernama Tsania itu dengan segera, sementara itu Tsania nampak masih begitu emosi setelah pertemuannya dengan Noah yang berjalan tidak dengan baik-baik saja barusan. Noah melangkahkan kakinya masuk ke dalam mobilnya, setelah masuk ke dalam mobilnya, Noah mencoba menelpon Felix akan tetapi ponsel anaknya itu tidak aktif.
“Ke mana lagi perginya anak itu? Kenapa dia tidak menjawab telepon dariku?”
****
Felix begitu bahagia karena wanita yang selama ini ia cintai datang ke Indonesia, ia sudah berniat mengenalkan wanita ini pada keluarganya termasuk pada sang mama yang memang dekat dengannya. Felix membawa wanita ini menuju rumah sakit tempat di mana Thalia bekerja setelah sebelumnya Felix mengirimkan pesan pada mamanya itu untuk bertemu sebentar saat jam makan siang berlangsung. Thalia tiba di café dekat rumah sakit dan langsung mengenali Felix yang tengah duduk namun tidak seorang diri melainkan ada seorang wanita cantik yang duduk di sebelahnya, Thalia pun menghampiri meja mereka dan duduk di kursi yang berhadapan dengan mereka.
“Apakah kalian sudah menunggu lama?”
“Belum kok, Ma.”
“Jadi kenapa kamu meminta bertemu dengan Mama di sini?”
“Seperti yang sudah bisa Mama lihat, aku datang ke sini tidak sendirian.”
__ADS_1
“Iya, Mama melihat ada wanita cantik yang datang bersamamu, siapa dia?”
“Dia adalah Marlina, dia kekasihku selama berada di Australia, Ma.”
“Oh benarkah?”
“Halo Tante, senang bertemu dengan anda.”
“Senang juga bertemu denganmu, Marlina.”
Thalia dan Marlina bisa dengan mudahnya akrab karena memang profesi mereka yang merupakan sama-sama dokter, Felix sendiri senang melihat kedekatan sang mama dengan calon istrinya itu, ia begitu yakin kalau
mamanya pasti akan memberikan lampu hijau untuk hubungannya dengan Marlina ke depan.
****
Ketika Marlina pergi ke toilet untuk buang air, Felix bertanya pada sang mama mengenai pandangan sang mama pada calon istrinya itu. Thalia mengatakan dengan jujur bahwa ia menyukai Marlina karena wanita itu baik dan
sopan, lebih penting lagi karena sesama dokter mereka bisa saling menyambung dalam hal komunikasi.
“Kapan kamu akan menikahinya?”
“Secepatnya, mungkin bulan depan kami akan menikah.”
“Belum, hubunganku dengan papa tidak baik belakangan ini.”
“Kenapa begitu?”
Felix menceritakan kenapa hubungannya dengan Noah bisa merenggang dan Thalia nampak terkejut dengan apa yang sudah anaknya lakukan ini pada Nadiba.
“Kenapa kamu mempermainkan Nadiba, Nak?”
“Kok sepertinya Mama memihak wanita itu, sih?”
“Mama memihak dia karena dia adalah korban di sini, tidak seharusnya kamu mempermainkan perasaan wanita itu, kalau memang kamu tidak mencintainya maka jangan membuat dia jatuh cinta padamu semakin dalam.”
“Salah sendiri kenapa dia jatuh cinta padaku dan dengan mudahnya aku perdaya.”
Thalia nampak menggelengkan kepalanya tanda tidak mengerti dengan jalan pikiran Felix saat ini, ia bisa merasakan apa yang Nadiba rasakan dan oleh sebab itu ia merasa bersimpati dengan Nadiba dan sama sekali
tidak membenarkan apa yang telah Felix lakukan pada wanita itu.
“Mama harap kamu segera meminta maaf padanya, Nak.”
__ADS_1
“Sepertinya aku tidak akan pernah meminta maaf padanya, Ma.”
****
Faruq menghabiskan hari terakhirnya di rumah keluarga Nadiba bersama dengan Rama, pria itu sudah menanyakan apakah Rama akan ikut kembali bersamanya ke kota atau tidak dan Rama mengatakan bahwa ia akan ikut bersama Faruq ke kota. Nadiba nampak sedih saat tahu Rama akan kembali ikut bersama Faruq dan tidak mau tinggal bersamanya di sini.
“Apakah kamu yakin mau ikut dengan Ayah?” tanya Faruq.
“Iya Ayah, aku mau kembali ke kota,” jawab Rama.
Faruq menatap Nadiba yang begitu sedih saat mendengar jawaban dari Rama itu, Faruq sendiri tidak masalah kalau Rama kembali tinggal di sini bersama Nadiba dan Kusuma karena apa pun yang membuat Rama bahagia ia
akan mendukung sepenuhnya.
“Apakah kamu tidak akan merindukan ibu?”
“Tentu saja aku akan merindukan ibu, akan tetapi kan kita bisa video call.”
Nadiba berusaha untuk tersenyum pada Rama, ia tidak mau menunjukan bahwa hatinya begitu sedih saat tahu Rama besok akan pulang bersama Faruq ke kota. Faruq meminta Rama untuk pergi dulu ke dalam bermain dengan
Kusuma karena ia ingin bicara empat mata dengan Nadiba, Rama pun bergegas masuk ke dalam rumah seperti yang dikatakan oleh ayahnya barusan.
“Nadiba, aku benar-benar tidak tahu mengenai keputusan Rama.”
“Aku tahu Mas, hanya saja rasanya aku masih belum rela kalau Rama sebentar lagi akan pergi.”
****
Kusuma mengajak Rama bicara mengenai keputusan Rama yang ikut dengan Faruq besok pulang ke kota, Kusuma meminta Rama untuk mempertimbangkan kembali keputusannya karena saat ini Nadiba pasti sangat sedih
ketika harus berpisah kembali dengannya.
“Tapi Nek, aku kan harus kembali bersekolah.”
“Nenek tahu, akan tetapi di sini kan juga ada sekolah.”
“Tapi tidak sama dengan sekolah yang ada di kota sana, Nek.”
Kusuma terdiam mendengar ucapan Rama barusan, tidak lama kemudian Nadiba menghampiri mereka dan mengatakan pada Kusuma untuk tidak memaksa Rama tinggal bersama mereka.
“Apa pun yang menjadi keputusan Rama, Ibu akan
mendukungnya hanya saja kamu jangan pernah lupakan Ibu, ya?”
__ADS_1