
Akhir yang dinantikan pun akhirnya tiba juga yaitu Nadiba siuman juga dan tentu saja Kusuma pun lega bukan main, Nadiba merasa heran kenapa dirinya berada di rumah sakit dan kepalanya terasa begitu sakit.
“Syukurlah Nak kalau kamu sudah siuman.”
“Bu, kenapa aku bisa ada di sini?”
“Kamu mengalami kecelakaan kemarin dan hal itu membuatmu tak sadarkann diri.”
“Begitu rupanya.”
“Sebenarnya apa yang terjadi padamu sebelum kecelakaan, Nak?”
Nadiba pun kembali mengingat apa yang terjadi sebelum kecelakaan itu terjadi, yang ia ingat adalah Felix mengatakan kejujuran bahwa selama ini ia tak mencintai Nadiba dan hal tersebut membuatnya sangat sedih dan
kecewa pada pria itu.
“Nak, kenapa kamu hanya diam saja?”
“Bukan apa-apa, Bu.”
“Kamu tidak ingat apa yang terjadi sebelum kecelakaan itu?”
“Aku ingat.”
“Kalau memang kamu ingat, kenapa kamu tak mau mengatakannya pada Ibu?”
“Aku minta maaf Bu, akan tetapi aku belum siap untuk mengatakannya.”
Kusuma menghela napasnya berat, ia berusaha memahami Nadiba saat ini untuk tidak terlalu banyak bertanya mengenai apa yang terjadi sebelum kecelakaan. Pada akhirnya Kusuma pun berpamitan sebentar pada Nadiba
untuk menelpon seseorang.
“Iya Bu.”
Kusuma kemudian pergi dari ruang inap Nadiba untuk menelpon Felix akan tetapi baru saja ia keluar dari ruang inap itu, dirinya menemukan Noah tengah berjalan ke arahnya.
“Apakah Nadiba sudah siuman?” tanya pria itu.
“Iya Pak Noah, Nadiba sudah siuman.”
“Syukurlah kalau begitu.”
Noah nampak begitu lega sekali mendengar berita baik tersebut, dirinya segera masuk ke dalam untuk menemui Nadiba. Nadiba sendiri nampak terkejut ketika melihat kedatangan Noah yang sama sekali tidak disangka
olehnya.
“Pak Noah?”
“Syukurlah kalau kamu telah siuman Nadiba.”
“Pak Noah tahu kalau saya masuk rumah sakit?”
__ADS_1
“Iya, ibumu yang bercerita pada saya kalau kamu masuk rumah sakit, akan tetapi syukurlah kalau sekarang kamu sudah siuman.”
“Iya Pak Noah.”
“Nadiba, apakah ada masalah?”
“Apa? Tidak kok, Pak.”
****
Noah tahu bahwa ada sesuatu yang coba Nadiba sembunyikan darinya dan ia tahu kalau hal tersebut berhubungan dengan Felix, maka Noah pun mencoba mencari tahu kejujuran dari Nadiba secara langsung mengenai apa yang
sebenarnya Felix telah lakukan pada Nadiba.
“Ini pasti menyangkut tentang Felix kan?”
Nadiba nampak terkejut ketika Noah menyinggung soal Felix, dari raut keterkejutan Nadiba itu membuat Noah semakin yakin bahwa Felix adalah biang keladi kenapa Nadiba menjadi seperti ini.
“Katakan pada saya apa yang sudah anak itu lakukan padamu.”
“Tuan Felix tidak melakukan apa pun kok, Pak Noah.”
“Kamu tak perlu mencoba melindunginya Nadiba, saya tahu bahwa dia sudah melakukan hal yang buruk padamu.”
Nadiba terdiam dan tak berani mengatakan lebih jauh mengenai apa yang telah Felix lakukan padanya, Noah pun kembali memaksa supaya Nadiba mengatakan yang sejujurnya padanya.
“Kamu tak perlu takut untuk mengatakan yang sejujurnya pada saya Nadiba.”
“Sebenarnya… sebenarnya ….”
Nadiba pun nampak dilema saat ini antara harus memberitahu Noah yang sejujurnya atau menyimpan semua untuk dirinya sendiri, akan tetapi pada akhirnya Nadiba memilih untuk mengungkapkan saja semuanya pada Noah mengenai apa yang sudah Felix lakukan padanya.
“Apa yang Pak Noah tentang tuan Felix benar adanya.”
“Maksud kamu?”
“Iya, tuan Felix selama ini tidak pernah mencintai saya.”
****
Noah merasa iba pada Nadiba karena secara tidak langsung Felix adalah penyebab kenapa Nadiba bisa berada di rumah sakit ini, Noah meminta maaf atas apa yang sudah Felix lakukan padanya akan tetapi Nadiba mengatakan bahwa Noah tak perlu meminta maaf padanya karena ia tak dendam pada Felix.
“Saya saja yang sudah terlalu terperdaya oleh perasaan saya sendiri hingga dengan mudahnya bisa dipermainkan.”
“Kamu jangan menyalahkan dirimu sendiri, Nadiba.”
“Tapi semua memang salah saya Pak Noah.”
Diam-diam Kusuma menguping pembicaraan antara Noah dan Nadiba, tentu saja hati Kusuma sakit sekali saat mendengar cerita yang sebenarnya mengenai Felix dari Nadiba. Rupanya pria itu hanya sedang mempermainkan putrinya saja dan hal tersebut membuatnya agak sedikit marah pada Felix.
“Kenapa dia tega sekali melakukan itu pada Nadiba? Apa yang sudah Nadiba lakukan sampai-sampai harus diperlakukan begitu buruknya?”
__ADS_1
“Nenek.”
Kusuma terkejut ketika mendengar suara Rama dari kejauhan dan ketika ia menoleh ke arah sumber suara dirinya memang menemukan Rama tengah berlari ke arahnya dan langsung memeluknya.
“Nenek, bagaimana dengan keadaan ibu?”
“Ibu saat ini sudah siuman, Nak.”
“Aku mau bertemu dengan ibu, Nek.”
“Tunggu dulu sayang, ada tamu di dalam.”
“Siapa yang di dalam, Nek?”
****
Rama tentu saja tidak datang sendirian ke rumah sakit ini melainkan bersama dengan Faruq yang ikut mendampinginya, ketika mereka tiba di rumah sakit saat itu Noah masih berada di dalam ruangan inap Nadiba. Faruq memperhatikan Noah dari luar dan merasa agak cemburu dengan pria itu yang tengah mengobrol dengan mantan istrinya, Faruq berusaha menepis perasaan cemburu itu hingga Noah akhirnya keluar dari ruang inap Nadiba.
“Kenapa kalian tidak masuk saja ke dalam?”
“Kami tidak ingin mengganggu pembicaraan kalian berdua,” jawab Kusuma.
Rama langsung masuk begitu saja ke dalam untuk menemui sang ibu, sementara Noah berpamitan pada Kusuma dan Faruq, selepas Noah pergi mereka berdua masuk ke dalam ruangan inap itu untuk menjenguk Nadiba.
“Aku takut kalau Ibu akan meninggalkanku.”
“Tidak sayang, Ibu minta maaf karena telah membuatmu khawatir.”
Rama dan Nadiba kemudian saling berpelukan untuk beberapa saat hingga kemudian Kusuma mengajak cucunya itu untuk makan siang bersama karena ia tahu bahwa cucunya itu pasti sudah lapar.
“Kamu belum makan sejak tadi kan? Ayo kita pergi ke kantin dan makan sesuatu, biar ayah dan ibu bicara.”
“Iya Nek.”
Maka kemudian Rama pun ikut dengan Kusuma pergi dari ruangan inap Nadiba meninggalkan wanita itu dengan sang mantan suami.
“Aku senang karena kamu sudah siuman.”
****
Faruq tidak bisa menahan dirinya untuk tidka bertanya pada Nadiba mengenai sosok Noah tadi, Nadiba mengatakan pada Faruq bahwa ia bekerja di rumah Noah itu saja dan tidak ada yang spesial dalam hubungan
mereka.
“Benarkah itu?”
“Iya tentu saja itu benar, sepertinya kamu tak percaya dengan apa yang aku katakan barusan.”
“Aku bukannya tidak percaya, hanya saja… kalau aku perhatikan kalian tadi begitu akrab sekali.”
“Aku dan pak Noah tidak memiliki hubungan apa pun kecuali majikan dan asisten rumah tangganya , aku menghormatinya karena dia telah memberikanku pekerjaan.”
__ADS_1
“Kamu tidak menyukainya?”
“Kenapa tiba-tiba saja kamu menanyakan hal itu?”