
Walaupun Darsih sudah menjelaskan pada anak-anaknya bahwa Nadiba bukanlah dalang di balik kematian ayah mereka namun anak-anak Darsih tetap menyalahkan Nadiba hingga membuat Nadiba semakin merasa bersalah.
“Pergi kamu dari rumah kami! Kamu sama sekali tidak diterima di rumah ini!”
“Benar apa yang dikatakan oleh Kakakku, seharusnya sejak awal kami tidak perlu menampungmu di rumah kami, lihatlah sekarang jadinya ayah kami meninggal karena ulahmu!”
“Aku minta maaf,” ujar Nadiba.
“Apakah dengan meminta maaf maka ayah kami akan bangkit dari kubur?!”
“Sudah cukup, kalian berdua jangan menyalahkan Nadiba, tidak ada seorang pun yang ingin hal buruk ini terjadi.”
“Kenapa Ibu masih saja membela wanita tidak tahu diri ini? Sudahlah Bu Nadiba ini memang pembawa sial, maka dari itu lebih baik kita usir saja dari rumah!”
Nadiba tidak kuasa membendung air mata dan langsung pergi dari pemakaman itu walaupun sudah dipanggil oleh Darsih dan Kusuma, Noah pun juga tadi sempat menghentikan Nadiba namun Nadiba terus saja berlari
meninggalkan pemakaman umum untuk menuju rumah yang selama ini mereka tempati.
“Nak, apa yang kamu lakukan?” tanya Kusuma saat Nadiba membereskan pakaiannya dan Rama dari dalam lemari.
“Kita harus pergi dari rumah ini, Bu.”
“Tapi kenapa? Darsih kan sama sekali tidak menyalahkanmu dalam hal ini.”
“Namun kedua anak-anaknya menyalahkanku, itu yang membuatku tertekan.”
“Ibu tahu bahwa saat ini kamu merasa bersalah namun tidak ada seorang pun yang ingin ini terjadi, om Rahmat memang sudah saatnya pergi jadi tolong kamu jangan dengarkan kata mereka.”
“Tapi Bu ….”
“Sekarang aku tanya kalau kita pergi dari rumah ini maka kita akan tinggal di mana?”
“Kita bisa cari rumah kontrakan lain di sekitaran sini.”
“Lalu apakah kamu yakin bisa membayar biaya sewa bulanan dan biaya tak terduga lainnya?”
“Bu, lebih baik kita pergi saja dari rumah ini, aku mohon.”
“Nadiba ….”
“Tolong aku Bu, sekali ini saja dengarkan aku.”
****
Darsih baru saja tiba dari pemakaman dan melihat Kusuma dan Nadiba sudah berdiri di depan rumah, Darsih bertanya mereka semua mau pergi ke mana dan Nadiba pun mengatakan bahwa mereka tidak akan tinggal lagi di rumah ini.
“Nadiba, bukankah Tante sudah mengatakan bahwa ini semua bukan salahku?”
“Kalau aku lebih lama tinggal di sini maka bayang-bayang penyesalan itu akan semakin nyata, aku merasa bersalah pada om Rahmat karena aku sudah membuatnya meninggal.”
__ADS_1
“Tolong berhenti menyalahkan dirimu sendiri Nadiba.”
“Iya Nak, jangan mengatakan hal itu terus menerus.”
“Tapi memang seperti itu kenyataannya, aku yang membuat semua ini terjadi, aku minta maaf Tante.”
“Nadiba, tolong jangan pergi ke mana-mana, Tante butuh kamu.”
“Tante aku benar-benar tidak bisa tinggal lebih lama lagi di sini.”
Noah tiba-tiba datang dan mengatakan bahwa saat ini keberadaan Rama sudah ditemukan, semua orang yang mendengar itu begitu lega bercampur bahagia, Nadiba ingin segera bertemu dengan Rama dan Noah pun
mengantarkan Nadiba menuju tempat di mana Rama berada.
“Rama sayang.”
“Ibu.”
Rama saat ini tengah berada di rumah sakit karenaada beberapa luka yang ia alami akibat
penyiksaan yang dilakukan oleh Luna dan orang suruhannya pada anaknya.
“Ya Tuhan Rama, siapa yang sudah melakukan ini padamu?”
“Wanita jahat itu yang melakukannya, Bu.”
****
menemui Rama lagi.
“Semua ini gara-gara kamu, Luna! Sekarang aku jadi tidak memiliki akses untuk bisa bertemu dengan anakku sendiri!”
“Enak sekali kamu menyalahkanku, aku melakukan ini semua juga gara-gara kamu, harusnya kalau kamu tidak terlalu perhatian pada mantan istri dan anakmu, maka aku juga tidak akan melakukannya.”
“Sepertinya aku mulai menyesal dengan keputusan yang sudah aku ambil.”
“Apa maksudmu? Apakah kamu ingin kita bercerai?”
“Iya, aku ingin kita bercerai.”
“Aku tidak akan membiarkan kita bercerai, sampai kapan pun kita tidak akan pernah bercerai! Ingat itu baik-baik di dalam kepalamu, Faruq!”
Faruq tidak mau berdebat lebih panjang dengan Luna, ia lebih memilih untuk pergi dari dalam kamar mereka dan membuat Luna marah pada suaminya itu yang lagi-lagi membela Nadiba dan anaknya.
“Nadiba!” geram Luna kemudian ia melempar vas bunga hingga mengenai kaca meja rias dan kaca itu pun retak.
Tidak hanya membuat kaca meja rias namun ia membuat kamar menjadi berantakan untuk meluapkan emosinya yang selama ini tertahan akibat mantan istri Faruq itu yang menjadi batu sandungannya untuk bahagia
dengan Faruq.
__ADS_1
“Kenapa kamu harus selalu muncul dalam kehidupan kami? Aku sudah benar-benar muak denganmu!”
****
Nadiba terkejut ketika tiba-tiba saja Luna sudah berdiri di depannya dan menatapnya tajam, ia tidak menyangka kalau Luna akan jauh-jauh menghampirinya sampai ke kota ini namun kedatangan Luna secara langsung ini
membuatnya memiliki kesempatan untuk menumpahkan kekesalannya pada wanita ini.
“Kenapa kamu melukai anakku? Dia sama sekali tidak salah apa-apa!”
“Dia tidak salah apa-apa? Kamu dan dia adalah batu sandungan dalam pernikahanku dan Faruq, Nadiba! Apakah kamu tidak menyadarinya?”
“Aku sama sekali tidak berniat menjadi bantu sandungan dalam pernikahanmu dengan mantan suamiku.”
“Iya, kamu memang tidak berniat namun Faruq sikapnya berubah setelah kami menikah dan kamu tahu apa yang membuatku jengkel? Dia selalu menyebut namamu dan Rama dalam tidurnya!”
“Tidak mungkin, dia sudah tidak mencintaiku, kamu pasti hanya mencari alasan saja kan untuk melakukan kejahatan padaku?”
“Apa katamu? Aku hanya mencari alasan, Nadiba kamu memang sudah membuatku gila, sekarang juga aku harus membuatmu mati supaya hidupku tenang!”
Luna menarik tangan Nadiba untuk ikut dengannya namun Nadiba meronta meminta untuk dilepaskan oleh Luna, Noah yang kebetulan melihat itu langsung menghampiri mereka dan meminta Luna untuk melepaskan Nadiba.
“Jangan ikut campur dalam masalahku dengan wanita ini!”
“Aku tidak akan ikut campur kalau kamu tidak berbuat kasar padanya.”
“Siapa kamu memangnya? Kenapa membela wanita ini?”
****
“Aku adalah orang yang bertanggung jawab pada Nadiba.”
Sontak saja ucapan Noah barusan membuat Nadiba dan Luna juga heran, Nadiba tidak paham kenapa Noah mengatakan hal tersebut karena Noah sama sekali bukan orang yang bertanggung jawab atas hidupnya.
“Pak Noah ….”
“Nadiba, tolong kamu jangan menyela saya, lepaskan Nadiba sekarang juga.”
“Kamu menyukai Nadiba?”
“Apakah itu penting?”
“Itu akan jauh lebih bagus tapi sayangnya selama wanita ini masih hidup maka dia akan selamanya menjadi batu sandungan dalam hidupku, aku tidak bisa membiarkan semua ini terus menerus terjadi, kegilaan ini harus
segera dihentikan.”
Luna kemudian mengeluarkan sebuah senjata api dari
dalam tasnya dan menodongkan senjata api itu tepat di kepala Nadiba.
__ADS_1
“Kalau kamu berani bergerak sedikit saja maka aku akan
menembak kepala wanita ini tepat di depanmu!”