Anugerah Cintamu

Anugerah Cintamu
Dapat Pekerjaan


__ADS_3

Darsih berbicara pada suaminya mengenai rencana Nadibayang ingin bekerja di rumah orang kaya yang ada di desa sebelah. Suaminya itumengatakan bahwa ia tidak bisa membantu terlalu banyak karena bagaimanapun juga


sudah ada orang yang bekerja di rumah itu.


“Memangnya kamu tidak kasihan pada keponakanmu itu?”


“Siapa yang bilang kalau aku tidak kasihan pada Nadiba namun aku mengatakan bahwa jangan terlalu berharap banyak kalau pak Noah akan menerimanya.”


Nadiba yang mendengar itu sudah menyiapkan mentalnya kalau memang besok ketika ia datang ke rumah itu tidak mendapatkan pekerjaan, ia berpikir mungkin saja di luar sana ia bisa mendapatkan pekerjaan yang


lainnya.


“Iya Om, aku mengerti.”


“Tidak bisakah kamu membantu supaya dia bisa bekerja di sana?”


“Tidak apa Tante, kalau memang aku tidak bisa bekerja di sana mungkin aku bisa bekerja di tempat yang lain, lagi pula kalau memang sudah ada orang yang bekerja di sana kita tidak bisa memaksa pemilik rumah


untuk menerimaku bekerja.”


Akhirnya esok hari pun tiba, Nadiba dan Rahmat pergi ke desa sebelah tempat di mana rumah Noah berada, ketika sudah sampai di depan rumah itu Nadiba nampak terkagum karena ada rumah mewah yang terletak di desa


seperti ini.


“Masuklah Nadiba.”


“Iya Om.”


Mereka berdua memasuki pekarangan rumah dan Rahmat mengetuk pintu rumah, tidak lama kemudian seseorang membukakan pintu rumah dan rupanya orang yang membukakan pintu untuk mereka itu adalah pemilik rumah itu


sendiri.


“Selamat pagi Pak Noah, maaf sudah mengganggu pagi-pagi begini.”


“Oh sama sekali tidak mengganggu, mari masuk dulu Pak Rahmat.”


“Terima kasih banyak.”


Setelah dipersilakan masuk ke dalam rumah kini mereka berbincang di ruang tamu, Noah bertanya pada Rahmat apa yang membawa pria ini ke sini pagi-pagi begini, Rahmat awalnya tidak enak jika harus mengatakan apa


maksud dan tujuannya datang ke sini apalagi Noah sudah sangat baik padanya selama ini.


“Begini Pak Noah, ini keponakan saya baru saja pindah ke desa ini, dia belum memiliki pekerjaan kalau memang ada pekerjaan untuknya maka apakah boleh Pak Noah mempekerjakan dia?”


“Kebetulan sekali asisten rumah tangga yang biasa bekerja di rumah ini kemarin mengundurkan diri, dia bisa menjadi asisten rumah tangga di rumah ini.”


****


Nadiba terkejut dan merasa bersyukur karena rupanya ini adalah hari keberuntungannya, ia langsung diterima bekerja oleh Noah. Nadiba dan Rahmat berterima kasih karena Noah sudah mau mempekerjakan Nadiba.

__ADS_1


“Siapa namamu?”


“Nadiba Pak.”


“Nadiba, nama yang indah, kamu bisa mulai bekerja mulai hari ini juga.”


“Baik Pak.”


“Kamu bisa mulai membersihkan kamar atas karena sebentar lagi putraku akan kembali dari Australia.”


“Baik Pak.”


Nadiba kemudian pamit pergi untuk memulai pekerjaannya hari ini sementara itu Rahmat pamit dari rumah ini karena memang tidak ada hal yang ia kerjakan di rumah ini.


“Sekali lagi terima kasih banyak karena Pak Noah sudah berbaik hati menerima keponakan saya bekerja di sini.”


“Sudahlah, Pak Rahmat jangan terus mengucapkan terima kasih, aku menerimanya karena memang sedang ada lowongan pekerjaan di sini kalau memang tidak ada maka aku akan mengatakan tidak ada.”


“Kalau begitu saya permisi dulu.”


Rahmat pergi dari rumah itu meninggalkan Nadiba yang mulai melakukan pekerjaannya sebagai seorang asisten rumah tangga di rumah Noah.


****


Faruq diam-diam sedang memperhatikan foto Nadiba dan Rama yang tersimpan di dalam galeri ponselnya, entah kenapa tiba-tiba saja ia merindukan mantan istri dan anaknya itu, ia ingin tahu bagaimana kabar mereka


namun Luna yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar membuat Faruq meletakan ponselnya di nakas.


“Tidak ada apa-apa.”


“Jangan bohong Faruq, aku tahu kalau tadi kamu sedang memperhatikan ponselmu namun ketika aku masuk kamu langsung menaruh ponsel itu ke nakas.”


“Aku tadi hanya sedang melihat sosial media saja.”


“Benarkah?”


“Iya, sudahlah aku mengantuk.”


Faruq kemudian menutupi tubuhnya dengan selimut dan posisi tidurnya membelakangi Luna, sementara Luna sendiri masih tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Faruq tadi, ia yakin bahwa sebenarnya ada


sesuatu yang coba Faruq sembunyikan darinya dan ia harus tahu akan hal tersebut. Luna kemudian berinisiatif untuk mengambil ponsel Faruq yang tergeletak di nakas namun belum sempat ia mengambil ponsel tersebut kedua mata Faruq terbuka dan menahan tangan Luna.


“Apa yang kamu lakukan dengan ponselku?”


“Aku hanya ingin mengecek ponselmu, apakah kamu berbohong padaku atau tidak.”


“Sudah aku bilang kalau tadi aku melihat media sosial, kenapa kamu tidak mempercayaiku?”


“Kenapa sikapmu mendadak aneh begini?”

__ADS_1


“Aneh? Siapa yang aneh?”


“Kamu pasti sedang menyembunyikan sesuatu dariku, berikan ponsel itu padaku!”


****


Nadiba kembali ke rumah menjelang malam, ia disambut oleh Kusuma yang menunggunya di teras rumah, sang ibu bertanya pada putrinya bagaimana hari pertamanya bekerja di rumah itu.


“Dia adalah orang yang baik Bu.”


“Syukurlah kalau memang dia orang yang baik dan juga kamu sudah memiliki pekerjaan, ayo masuklah ke dalam Ibu sudah memasak makan malam untukmu.”


“Aku jadi merasa tidak enak karena tidak membantu Ibu


ketika memasak makan malam.”


“Kamu kan harus bekerja tadi, tidak apa kalau memang kamu tidak bisa membantu Ibu memasak.”


“Bagaimana dengan Rama hari ini? Apakah dia rewel?”


“Tidak, dia sudah mendapatkan teman bermain, besok dia mulai bersekolah. Apakah kamu besok bisa mengantarkannya ke sekolah? Kalau kamu tidak bisa, maka biar Ibu saja yang mengantarkannya ke sekolah.”


“Tidak apa Bu, aku bisa kok mengantarkannya ke sekolah baru aku pergi bekerja.”


“Baiklah kalau memang begitu.”


Keesokan harinya Nadiba mengantarkan Rama ke sekolah terlebih dahulu sebelum ia pergi bekerja, ia berpesan pada Rama untuk menjadi anak yang baik dan mendengarkan apa yang gurunya katakan.


“Iya Bu.”


Rama mencium tangan Nadiba sebelum ia masuk ke dalam gedung sekolah barunya, walaupun gedung sekolah ini sangat berbeda jauh dengan gedung sekolah Rama di kota namun setidaknya sekarang Rama memiliki sekolah


yang akan menjadi tempatnya menimba ilmu sampai lulus sekolah dasar. Setelah mengantarkan Rama ke sekolah kini Nadiba pun segera pergi ke rumah Noah karena dia sudah hampir terlambat untuk bekerja.


****


Nadiba akhirnya tiba di rumah Noah, ia meminta maaf karena terlambat sedikit datang ke rumah ini karena harus mengantarkan Rama pergi ke sekolah untuk pertama kalinya, Noah mengatakan bahwa itu tidaklah


masalah karena ia dapat memaklumi itu.


“Saya permisi dulu, Pak.”


“Silakan.”


Nadiba mulai melakukan pekerjaannya dengan cekatan, diam-diam Noah memperhatikannya dari jauh, kemarin ia belum sempat mengobrol banyak dengan Nadiba dan ia penasaran dengan asal usul wanita ini.


“Nadiba.”


Nadiba yang tengah membersihkan bagian lemari yang tinggi menggunakan sebuah kursi kecil sontak menoleh ketika namanya dipanggil oleh Noah namun karena itu ia jadi kehilangan keseimbangan dan pada akhirnya ia

__ADS_1


nyaris saja terjatuh ke lantai namun Noah dengan sigap menangkap tubuh Nadiba, kini mereka berdua saling bertatapan dari jarak yang sangat dekat.


__ADS_2