
Nadiba mengakui kalau ia cemburu pada wanita yang merupakan kekasih Felix tersebut, ia menangis dan mengurung dirinya di dalam kamar hingga ketiduran dan ketika terbangun rupanya hari sudah pagi. Nadiba
membuka kedua matanya perlahan dan melihat jam yang sudah menunjukan pukul 6 pagi, ia buru-buru keluar dari kamar untuk mandi dan berganti pakaian kemudian mulai menyiapkan sarapan untuk keluarganya sebelum pergi bekerja di rumah Noah.
“Nadiba, tumben kamu bangun agak terlambat,” ujar Kusuma.
“Iya Bu, maaf kalau aku bangun terlambat,” ujar Nadiba.
“Sepertinya tadi malam Ibu mendengar kamu menangis dari dalam kamarmu, ya?”
Nadiba tentu saja terkejut karena rupanya Kusuma mendengar suara tangisannya, akan tetapi Nadiba berusaha untuk tidak mengatakan yang sejujurnya pada sang ibu karena tak mau membuat Kusuma menjadi cemas.
“Tidak kok, Bu. Semalam aku langsung tidur.”
“Benarkah? Kamu tidak sedang berbohong kan?”
“Tidak kok, Bu.”
Kusuma menyerah dan akhirnya ia tak mau melanjutkan pembicaraan tersebut, Nadiba membantunya menyiapkan sarapan di dapur dan membawakannya ke meja makan. Di saat itu Kusuma kembali membuka percakapan
dengannya akan tetapi Kusuma tidak bertanya soal semalam melainkan kapan mereka akan kembali pindah dari rumah ini.
“Kalau soal itu aku belum tahu karena pak Noah belum mengatakan kapan kita akan pindah.”
“Kalau begitu kenapa kamu tidak bertanya saja padanya?”
“Aku merasa tidak enak untuk melakukannya, Bu.”
“Terserah kamu sajalah, Ibu bertanya begitu supaya bisa siap-siap kalau waktunya tiba kan semua pakaian Ibu sudah masuk ke dalam tas dan hanya tinggal dibawa ke rumah itu.”
“Iya Bu, nanti akan aku tanyakan pada pak Noah kapan kita bisa kembali menempati rumah itu.”
Setelah sarapan, Nadiba pun pergi bekerja ke rumah Noah dan yang membuatnya terkejut pagi ini ketika ia hendak melakukan tugasnya sebagai asisten rumah tangga, ternyata Felix tengah membawa kekasihnya itu ke rumah.
“Siapa wanita ini?”
“Oh dia adalah asisten rumah tangga yang aku ceritakan waktu itu padamu.”
****
Nadiba merasa tidak nyaman bekerja hari ini karena kehadiran Felix dan kekasihnya yang membuatnya kikuk apalagi beberapa kali sepertinya Felix menggunjing dirinya dengan wanita itu walaupun tidak terdengar
olehnya namun Nadiba dapat merasakan hal itu karena sejak tadi Felix bisik-bisik pada wanita tersebut. Ketika Felix pergi ke kamar mandi, wanita itu menghampiri Nadiba untuk mengajaknya bicara.
__ADS_1
“Aku ingin bicara denganmu.”
“Maaf, apa yang ingin kamu bicarakan denganku?”
“Kamu memang orang tak tahu diri, ya. Sudah jelas-jelas kalau Felix tidak mencintaimu namun kamu masih mengharapkannya.”
“Aku tidak seperti apa yang kamu katakan barusan.”
“Oh benarkah? Lalu kenapa kamu mengatakan kalau kamu masih mencintainya?”
“Aku tidak pernah mengatakan hal itu, pasti tuan Felix hanya mengarangnya saja untuk membuatmu cemburu.”
“Felix tidak pernah benar-benar mencintaimu, Nadiba. Jadi lebih baik kamu jangan bermimpi terlalu tinggi untuk dapat bersamanya karena hal tersebut adalah sesuatu hal yang sangat tidak mungkin terjadi!”
Sesaat setelah wanita itu mengatakan hal tersebut, Felix keluar dari kamar mandi dan nampak heran karena kekasihnya itu berdiri dekat dengan Nadiba saat ini
“Apa yang kalian lakukan di sana?”
“Bukan apa-apa, aku hanya memberikan peringatan pada wanita ini supaya jangan melewati batas.”
“Kamu tak perlu takut padanya karena aku sama sekali tidak pernah mencintainya.”
****
“Nadiba.”
“Oh Pak Noah sudah pulang rupanya.”
“Kamu kenapa? Apakah ada sesuatu hal yang terjadi padamu selama saya pergi?”
“Saya baik-baik saja Pak Noah, oh ya kapan saya boleh menempati kembali rumah kontrakan itu? Ibu saya sudah menanyakannya.”
“Sekarang pun kalau kamu mau menempatinya juga tidak masalah, silakan saja.”
“Pak Noah serius?”
“Tentu saja saya serius, apakah kamu mau saya bantu memindahkan barang-barangmu lagi ke sana?”
“Ah tidak perlu Pak Noah, saya bisa melakukannya sendiri. Saya sangat berterima kasih atas kebaikan hati Pak Noah ini.”
“Tidak masalah Nadiba, saya senang dapat membantu kamu.”
Nadiba pun pamit untuk kembali melanjutkan pekerjaannya dan selepas Nadiba pergi kini Noah mengatakan sesuatu lebih tepatnya seperti bergumam.
__ADS_1
“Dan aku senang karena akhirnya kamu tidak akan pernah lari dariku, selamanya.”
Nadiba agak tergesa-gesa ketika mengerjakan pekerjaannya hari ini karena ia takut kalau ia berlama-lama di sini maka akan bertemu lagi dengan Felix dan kekasihnya, hal tersebut yang sangat ia hindari saat ini.
“Pak Noah, saya sudah menyelesaikan pekerjaan saya,” ujar Nadiba yang langsung meminta izin pulang pada Noah.
****
Noah sudah berusaha mengantarkan Nadiba pulang dengan berbagai cara akan tetapi Nadiba masih saja menolak dan mengatakan bahwa ia dapat melakukannya sendiri.
“Saya menghargai kebaikan Pak Noah, akan tetapi saya dapat melakukannya sendiri.”
“Apakah kamu yakin dapat pulang sendiri, Nadiba? Saya takut kalau kamu kenapa-kenapa lagi di jalan kalau pulang sendiri.”
“Sejak hari pertama saya bekerja di sini hingga sekarang, saya tidak pernah menemukan apa pun yang dapat mengancam diri saya, jadi Pak Noah tak perlu mengkhawatirkan saya.”
“Baiklah kalau memang begitu.”
Dengan berat hati Noah mengizinkan Nadiba untuk pulang sendirian ke rumahnya walaupun sebenarnya dirinya ingin sekali mengantarkan Nadiba pulang karena ia merasa kesempatan itu tidak akan pernah sering ia dapatkan
akan tetapi sayangnya Nadiba tidak memberikannya izin dan ia tak bisa melakukan apa pun selain harus menerimanya. Ketika Nadiba baru saja membuka pintu pagar rumah nampak mobil yang Felix tumpangi baru saja tiba di sana, Nadiba sekalian membukakan gerbang supaya mobil Felix bisa masuk dan kemudian ia memilih untuk
langsung pergi dari rumah tersebut tanpa membantu Felix untuk menutup pintu.
“Nadiba, kamu pasti cemburu dan sakit hati sekali, ya? Rasakan!”
Felix pun turun dari dalam mobilnya dan menutup serta mengunci pagar rumah sebelum masuk ke dalam.
****
Nadiba pulang ke rumah dan disambut oleh Kusuma, sang ibu langsung menanyakan pada Nadiba mengenai kapan mereka boleh pindah ke rumah itu dan Nadiba mengatakan bahwa besok mereka sudah boleh pindah ke sana.
“Syukurlah kalau begitu, berarti malam ini Ibu harus mengemasi pakaian Ibu.”
Kusuma kemudian segera masuk ke dalam kamar untuk mengemasi semua pakaiannya sementara itu Nadiba masih memikirkan apa yang dikatakan oleh kekasih Felix padanya hingga ia tak menyadari kalau Faruq tengah
berdiri tepat di belakangnya.
“Nadiba, apakah kamu benar-benar akan pindah dari rumah ini?”
Sontak saja pertanyaan dari Faruq yang berada tepat di belakangnya membuat Nadiba terkejut bukan main karena sebelumnya ia memang sedang tidak fokus.
“Mas Faruq?”
__ADS_1
“Aku mohon padamu Nadiba, jangan pergi dari rumah ini.”