
Nadiba memang tak memiliki banyak waktu untuk berdebat karena kalau mereka berlama-lama maka mereka bisa ditinggal oleh kereta api. Nadiba dan Rama akhirnya segera masuk ke dalam mobil Felix walaupun sebenarnya
Nadiba merasa tidak enak pada pria ini karena sudah terlalu merepotkannya menjemputnya dan Rama sepagi ini.
“Maaf kalau saya merepotkan anda, Tuan Felix.”
“Kamu ini bicara apa, Nadiba? Saya sama sekali tidak merasa keberatan kok melakukan ini.”
“Tapi Tuan Felix ….”
“Sudahlah jangan banyak bicara, aku sedang fokus mengemudi.”
Nadiba pun akhirnya diam dan menikmati perjalanan dari desa menuju stasiun kereta api, setelah sampai di sana, Nadiba dan Rama segera turun dari dalam mobil pun dengan Felix yang membantu mereka menurunkan barang
bawaan dari bagasi mobilnya.
“Sekali lagi terima kasih.”
“Tidak masalah, jaga dirimu baik-baik di sana dan jangan lupa untuk kembali.”
“Apa?”
“Rama, Om pulang dulu, ya.”
“Hati-hati di jalan Om, terima kasih.”
Felix tersenyum pada Rama dan kemudian segera kembali masuk ke dalam mobil, Nadiba tersadar bahwa saat ini mereka tak memiliki banyak waktu, ia membawa Rama untuk segera masuk ke dalam peron karena ada pengumuman bahwa sebentar lagi kereta yang mereka naiki akan segera diberangkatkan.
“Ayo Nak, cepat.”
“Iya Bu.”
Akhirnya Nadiba dan Rama bisa juga untuk masuk ke dalam kereta sebelum kereta ini mulai berjalan pelan meninggalkan stasiun, mereka kini berjalan mencari tempat duduk yang sesuai dengan boarding pass yang
mereka bawa.
“Ibu mau pergi ke toilet dulu, jangan pergi ke manapun sampai Ibu kembali.”
“Iya Bu.”
Nadiba kemudian pergi ke toilet untuk buang air dan setelahnya ia kembali ke kursinya, ia melihat Rama sedang duduk dengan tenang dan memperhatikan hijaunya sawah diluar sana dari jendela kereta ini.
“Apakah kita masih lama tiba, Bu?”
“Tentu saja sayang masih lama, besok pagi kita baru sampai di sana.”
“Kenapa lama sekali?”
__ADS_1
“Kalau Rama bosan, Rama bisa tidur saja.”
****
Sepanjang perjalanan yang panjang dan membosankan itu Rama mengantuk dan akhirnya anak itu pun tertidur dengan lelap karena sepertinya kelelahan. Nadiba terus menjaga anaknya itu walaupun sebenarnya ia mengantuk
sekali namun ia tak mau melewatkan moment terakhir bersama dengan Rama ini karena ia belum tahu kapan akan kembali berjumpa dengan putranya ini. Tidak terasa akhirnya kereta yang mereka tumpangi tiba juga di stasiun akhir, Nadiba membangunkan Rama yang masih terlelap di sebelahnya, Rama nampak mengerjapkan
mata dan mengumpulkan nyawanya.
“Kita sudah sampai, Bu?”
“Iya Nak, kita sudah sampai.”
Nadiba bangun dari kursinya untuk mengambil barangnya dan Rama yang ditaruh di tempat penyimpanan bagasi di atas, kini Nadiba menggandeng Rama keluar dari gerbong kereta menuju pintu keluar stasiun. Selepas mereka keluar dari stasiun, ia menelpon Faruq untuk mengabarkan mereka sudah tiba di kota ini.
“Kami sudah tiba di stasiun.”
“Baiklah, kalian tunggu saja di sana, aku akan menjemput kalian.”
Setelah mengatakan itu Faruq pun menutup teleponnya dan Nadiba meminta supaya Rama bersabar menunggu sampai Faruq datang. Nadiba dan Rama menunggu di pelataran stasiun hingga akhirnya Faruq pun tiba juga dan
mereka segera masuk ke dalam mobil pria itu.
“Ayah!”
Rama meminta duduk di depan di sebelah ayahnya dan Nadiba pun duduk di belakang seraya memperhatikan kedekatan ayah dan anak tersebut.
****
Ini adalah kali pertama Nadiba menginjakan kaki di rumah yang kini dihuni oleh Faruq dan Luna, Faruq mempersilakan mereka untuk masuk ke dalam dan mengatakan kalau asisten rumah tangga sudah menyiapkan kamar untuk Nadiba.
“Apa?”
“Iya, kamu akan tinggal di sini dulu, masa kamu mau langsung pulang? Memangnya kamu tidak lelah setelah hampir 12 jam berada di dalam kereta?”
Tidak lama kemudian Luna datang menghampiri mereka, ia tersenyum pada Rama dan Nadiba, tentu saja Nadiba merasa asing ketika Luna tersenyum padanya seperti ini karena seingatnya dulu ketika wanita itu bertemu
dengannyya maka Luna akan langsung menatapnya dengan tatapan tajam dan membunuh.
“Selamat datang di rumah lagi, Rama.”
“Terima kasih, Tante.”
“Dan juga selamat datang untukmu di rumah ini, Nadiba.”
“Terima kasih.”
__ADS_1
“Biar asisten rumah tanggaku yang akan membawakan pakaian kalian ke kamar, sebentar lagi aku dan Faruq harus segera pergi ke kantor, kalian bisa istirahat dulu saja di kamar, kalian pasti sangat lelah kan setelah
menempuh perjalanan yang sangat jauh?”
Setelah itu Luna pun mengajak Faruq untuk segera pergi ke kantor karena mereka bisa terlambat kalau berangkat agak siangan, setelah Luna dan Faruq pergi kini asisten rumah tangga datang dan menunjukan di mana kamar untuk Rama dan Nadiba.
“Silakan,” ujar asisten rumah tangga membukakan pintu untuk kamar yang akan Nadiba huni.
“Terima kasih banyak,” ujar Nadiba.
“Untuk kamar Rama di sebelah sini,” ujar asisten rumah tangga membawa Rama menuju kamar anak itu yang rupanya bersebrangan dengan kamar yang Nadiba huni.
“Terima kasih banyak, Bi.”
“Kalau ada sesuatu yang kamu perlukan, panggil saja Bibi.”
“Iya, Bi.”
“Saya permisi dulu, Bu.”
“Iya, Bi.”
****
Nadiba tertidur hingga pukul 4 sore karena saking lelahnya, ia segera keluar dari dalam kamar untuk melihat apakah Rama masih tertidur atau sudah bangun, rupanya saat ia mengintip dari balik pintu kamar itu, Rama masih tertidur dengan lelap dan ia tak tega harus membangunkan anaknya itu maka ia pun perlahan menutup pintu kamar itu dan menuju dapur untuk menyapa asisten rumah tangga.
“Selamat sore, Bi.”
“Selamat sore, saya sudah menyiapkan makan siang untukmu dan Rama.”
“Ah saya jadi merepotkan.”
“Sama sekali tidak, kok.”
Nadiba masih tak menyangka kalau ia bisa menginjakan kaki di rumah mewah ini, ia menatap sekeliling rumah ini dengan takjub dan membuat asisten rumah tangga yang sedang memasak untuk makan malam ini tersenyum.
“Ini baru pertama kalinya kamu datang ke sini?”
“Apa? Oh iya, ini baru pertama kalinya saya datang ke sini.”
“Wajar kalau orang yang baru pertama kali datang ke sini memandang takjub begitu, Rama juga dulu saat pertama kali datang ke sini juga sama sepertimu.”
****
Nadiba mencoba membantu asisten rumah tangga ini dalam menyiapkan makan malam walaupun asisten rumah tangga sudah mencoba menghalangi Nadiba untuk tak membantunya namun Nadiba tetap memaksa supaya membantu asisten rumah tangga ini dengan alasan ia tidak betah kalau tak melakukan apa pun di rumah ini. Sepanjang mereka memasak, Nadiba dan asisten rumah tangga ini saling bertukar cerita mengenai pengalaman mereka masing-masing, asisten rumah tangga ini tak menyangka bahwa ternyata Nadiba juga bekerja sebagai asisten rumah tangga di kota tempat tinggalnya sekarang.
“Nadiba, apa yang sedang kamu lakukan?”
__ADS_1