Anugerah Cintamu

Anugerah Cintamu
Memancing Drama


__ADS_3

Rama masih belum dapat menerima sepenuhnya bahwa kini ayahnya telah menikah lagi dengan Nimas, ketika Nadiba membujuk Rama untuk bertemu dengan Faruq karena pria itu menginginkan bertemu dengan Rama, justru


Rama malah menolaknya dan mengatakan ia tidak mau bertemu dengan Faruq karena pasti ada Nimas di sana.


“Maaf Mas, tapi Rama tetap tidak mau bertemu denganmu,” ujar Nadiba ketika ia bertemu dengan Faruq.


“Tidak apa Nadiba, tapi tolong kamu jangan coba pisahkan aku dengan Rama, ya? Aku sudah cukup merasa bersalah karena pernah mengabaikan kalian dulu.”


“Tidak apa Mas, aku sudah memaafkanmu untuk kejadian waktu itu lagi pula aku yakin sebentar lagi pasti Rama akan memaafkanmu dan hubungan kalian akan kembali baik seperti dulu lagi.”


“Terima kasih Nadiba.”


“Aku permisi dulu, Mas.”


Nadiba pun hendak pergi bekerja namun sayangnya Nimas muncul dan menghadang Nadiba, Nadiba sebenarnya tidak mau mencari gara-gara dengan wanita ini namun justru Nimas sendiri yang mencari gara-gara dengannya.


“Berani sekali kamu mendekati suamiku.”


“Nimas, Nadiba tidak seperti yang kamu pikirkan, aku yang mengajak Nadiba untuk bertemu di sini.”


“Oh jadi kamu masih ingin mengejar-ngejar cinta wanita yang sudah menolakmu ini?”


“Maaf tapi aku tidak memiliki waktu untuk menanggapi dramamu ini.”


Nimas nampak naik pitam setelah Nadiba mengatakan bahwa dirinya melakukan drama, Nimas nampak tak terima dan hendak menampar wajah Nadiba namun sebelum Nimas sempat melakukan itu, Faruq sudah menahan


tangan Nimas terlebih dahulu.


“Aku sudah mengatakan padamu untuk jangan melampaui batas namun kamu sudah sangat keterlaluan saat ini, Nimas!”


“Kamu masih membela Nadiba? Apa-apaan kamu ini, Faruq?! Aku ini istrimu!”


Faruq meminta maaf pada Nadiba atas drama yang diciptakan oleh Nimas ini dan Faruq pun menarik tangan Nimas untuk pergi dari sini walaupun wanita itu sempat menolaknya.


“Kamu ini apa-apaan Faruq? Lepaskan aku!”


Nadiba menghela napasnya melihat Faruq dan Nimas pergi dan ia pun kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah Noah untuk bekerja.


****

__ADS_1


Darsih akhirnya menceritakan pada Kusuma mengenai kenapa Faruq harus menikah dengan Nimas, Kusuma sudah menduga bahwa ini semua adalah akal bulus Nimas untuk menjebak Faruq dalam pernikahan ini dan Darsih


pun mengutarakan hal yang sama dengan yang kakaknya sampaikan barusan.


“Tetapi aku tidak memiliki pilihan lain, aku tidak mau nama keluarga besar kami tercoreng dengan tindakan mereka belum lagi kalau warga desa tahu yang sebenarnya.”


“Iya aku tahu yang menjadi pertimbanganmu dalam melakukan ini, Darsih.”


Ketika mereka tengah mengobrol itu, tiba-tiba saja muncul Nimas dan Faruq yang mana Faruq tengah menarik paksa tangan Nimas untuk masuk ke dalam rumah.


“Faruq, ada apa ini? Kenapa menarik tangan Nimas seperti itu?” tanya Darsih.


“Aku melakukan ini terpaksa karena Nimas sudah keterlaluan, dia mencoba menyakiti Nadiba padahal Nadiba tidak salah apa-apa,” jawab Faruq.


Tentu saja Nimas nampak menampik apa yang dikatakan oleh Faruq barusan, Nimas mengatakan bahwa Nadiba duluan yang mencari gara-gara dengannya hingga ia lepas kendali.


“Aku tahu persis anakku seperti apa jadi tolong jangan


menuduh Nadiba yang bukan-bukan,” tegas Kusuma.


Nimas nampak tak gentar dengan Kusuma, Nimas mengatakan bahwa Nadiba memang wanita rendahan yang mencoba menggoda suaminya, Kusuma yang mendengar anaknya direndahkan dan dihina oleh Nimas pun naik pitam namun untung saja Faruq berhasil membawa Nimas masuk ke dalam kamar sebelum Nimas makin menjadi-jadi.


****


“Saya sama sekali tidak menyesali keputusan saya untuk menolak mas Faruq kembali pada saya Pak Noah, hanya saja saya kasihan padanya.”


“Kenapa kamu harus kasihan?”


“Nimas itu sepertinya begitu terobsesi pada mas Faruq, dia sepertinya tidak mencintai mas Faruq dengan tulus.”


“Bahkan walaupun kamu sudah tidak bersamanya lagi kamu masih memikirkan hal terbaik untuknya Nadiba.”


“Walaupun kami sudah berpisah dan tidak dapat kembali seperti dulu lagi namun bukan berarti kami harus saling bermusuhan kan, Pak Noah?”


“Saya salut dengan kamu Nadiba, kamu bisa berdamai dengan mantan suamimu bahkan bisa akrab layaknya teman sekarang. Saya saja dengan mantan istri saya sampai sekarang tidak pernah bertegur sapa lagi.”


Nadiba hanya tersenyum menanggapi ucapan Noah barusan dan wanita itu memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya.


“Saya permisi dulu, Pak Noah.”

__ADS_1


****


Darsih mencoba bicara dengan Nimas untuk jangan memancing keributan dan drama lain apalagi dengan Nadiba, Darsih mengatakan bahwa Nadiba adalah orang yang baik dan tidak mungkin dia mencari masalah dengan Nimas duluan. Pembelaan dari ibunya barusan membuat Nimas naik pitam, ia merasa bahwa ibunya ini lebih percaya dengan Nadiba ketimbang dirinya.


“Ibu mengatakan itu karena Ibu tahu siapa Nadiba yang sebenarnya, Nimas.”


“Sebenarnya siapa sih anak Ibu? Aku atau wanita itu?”


“Nimas, bukankah sebelumnya kamu dan Nadiba sangat dekat sekali? Kenapa sekarang kamu tidak mencoba untuk kembali berbaikan dengannya seperti dulu lagi?”


“Apa kata Ibu? Aku harus kembali berbaikan dengan Nadiba? Apakah Ibu sudah lupa siapa yang telah membuat ayah meninggal dunia?”


“Nimas, bukan Nadiba yang melakukan itu.”


“Sudahlah, percuma saja kalau bicara dengan Ibu karena pada akhirnya Ibu pasti akan membela Nadiba!”


Nimas langsung pergi begitu saja meninggalkan Darsih padahal ibunya itu belum selesai bicara, Darsih hanya dapat menghela napasnya berat dengan kelakuan Nimas yang sama sekali tidak berubah.


“Faruq.”


“Ada apa, Tante?”


“Tolong maafkan aku karena aku sudah memaksamu menikah dengan Nimas, aku sejujurnya merasa tidak enak karena telah memaksamu melakukan itu.”


“Tidak apa Tante, aku sudah tidak memikirkannya.”


“Dan satu hal lagi, kalau bisa tolong kamu bantu aku untuk mengubah Nimas menjad orang yang lebih baik lagi, ya?”


****


Nadiba menyelesaikan pekerjaannya pada sore menjelang malam hari dan saat itu Felix baru saja kembali ke rumah. Felix langsung menanyakan apakah Nadiba sudah mau pulang ke rumahnya dan Nadiba menganggukan


kepalanya.


“Kalau begitu biar aku mengantarmu pulang.”


“Tidak perlu Tuan Felix, rumah saya dari sini kan dekat sekali, lagi pula Tuan kan baru pulang pasti lelah setelah menyetir mobil dengan jarak yang jauh.”


“Tidak apa Nadiba, aku ingin mengantarkanmu karena aku sudah menyiapkan ini untuk Rama.”

__ADS_1


Felix memperlihatkan pada Nadiba ia membawa makanan dan juga mainan untuk Rama, Nadiba tentu saja jadi merasa tidak enak pada Felix.


“Sudahlah kamu jangan merasa tidak enak begitu, ayo.”


__ADS_2