
Noah sekali lagi meminta maaf atas apa yang sudah ia katakan pada Faruq karena ia mengatakan kalau ia melakukan semua ini supaya Nadiba tidak lagi diganggu oleh Faruq dan Nadiba mengerti maksud Noah ini.
“Apakah kamu tidak dapat membuka hatimu pada orang lain selain anakku, Nadiba?”
“Maaf Pak Noah, saya tidak dapat menjawab pertanyaan itu.”
Noah nampak tersenyum getir karena ia tahu jawaban dari Nadiba itu tentu saja tidak, ia merasa iba pada Nadiba karena terus saja mencintai orang yang tidak dapat mencintainya, Noah juga baru menyadari kalau sekuat apa pun ia mencoba untuk mendekati Nadiba dan membuat wanita ini menjadi miliknya, Nadiba tetap saja tidak akan pernah menjadi miliknya.
“Saya ingin meminta maaf padamu Nadiba.”
“Kenapa Pak Noah meminta maaf?”
“Karena saya baru sadar kalau ternyata saya selama ini begitu berambisi kamu menjadi milik saya tanpa memikirkan bagaimana perasaanmu.”
“Tidak apa Pak Noah, syukurlah kalau Pak Noah sekarang sudah mengerti dan saya harap Pak Noah selamanya akan mengerti.”
“Iya Nadiba, saya minta maaf.”
Akhirnya Nadiba pun turun dari mobil Noah dan masuk ke dalam rumahnya, Noah menghela napasnya panjang dan kemudian segera pulang ke rumahnya. Ketika tiba di rumah, ia melihat Felix yang nampak tidak baik-baik saja saat ini.
“Kamu kenapa, Felix?”
“Bukan urusan Papa!”
Felix kemudian pergi meninggalkan Noah dan Noah tentu saja tak dapat berbuat banyak, ia akan membiarkan Felix seperti itu hingga emosinya perlahan mereda, saat ia masuk ke dalam kamarnya nampak ponselnya berdering menandakan ada panggilan masuk yang rupanya itu dari wanita itu.
“Mau apa lagi wanita ini menelponku?”
Noah pun kemudian menjawab telepon dari wanita yang dulunya adalah masa lalunya tersebut.
“Mau apa kamu menelponku?”
“Kamu dan Felix adalah dalang di balik semua ini kan?”
“Aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan!”
“Lihat portal berita sekarang juga, pasti kalian yang sengaja ingin menghancurkanku kan!”
****
Noah pun kemudian melihat portal berita yang mana di sana banyak sekali pemberitaan mengenai wanita itu dan skandal hubungan gelap mereka di masa lalu yang mana di sana juga dimuat sampai mereka memiliki anak.
Noah tentu saja tidak tahu menahu mengenai hal ini karena memang dia bukan dalang di balik semua ini, Noah kemudian mencoba menelpon Thalia karena siapa tahu mantan istrinya itu adalah dalang di balik semua ini.
“Mau apa kamu menelponku?”
“Apakah semua ini ulahmu?”
__ADS_1
“Aku tidak memiliki waktu untuk bicara omong kosong denganku.”
“Aku bicara soal pemberitaan di media sekarang, kenapa mereka mengungkap hubungan masa laluku?”
“Mana aku tahu, kenapa menelponku hanya untuk masalah yang tidak aku ketahui? Buang-buang waktu saja.”
Setelah itu Thalia menutup sambungan teleponnya, kini kecurigaan Noah pun tertuju pada Felix, ia yakin bahwa Felix dalang di balik semua ini. Noah kemudian mendatangi kamar Felix untuk bicara hal ini dengan anaknya, akan tetapi sebelum ia mengetuk pintu kamar Felix terdengar suara barang yang dibanting dari dalam kamar yang membuatnya terkejut.
“Felix?”
Noah kemudian segera membuka pintu kamar Felix dan menemukan kamar anaknya itu seperti kapal pecah dan yang membuatnya terkejut adalah Felix menyakiti dirinya sendiri.
“Felix, apa yang terjadi padamu?”
“Aku tidak sanggup lagi hidup, aku mau mati saja!”
****
Keesokan harinya Nadiba kembali datang ke rumah Noah untuk bekerja akan tetapi tidak biasanya ketika pagi ini Noah nampak begitu murung, Nadiba penasaran dengan sikap Noah yang tak biasanya ini pun bertanya
apa yang terjadi pada majikannya ini.
“Felix kemarin menyakiti dirinya sendiri.”
“Tuan Felix menyakiti dirinya sendiri?”
“Kalau saya boleh tahu apa yang terjadi pada tuan Felix, Pak Noah?”
Noah pun kemudian menceritakan apa yang terjadi pada Felix semalam dan Nadiba nampak merasa sedih sekali saat mendengar cerita pria yang ia cintai menderita begitu hebat akibat pengkhianatan yang dilakukan oleh
kekasihnya.
“Dia benar-benar hancur dan berniat untuk mengakhiri hidupnya semalam, dia merasa sangat hancur karena tidak menyangka kalau wanita itu ternyata bermain api dengan orang lain di belakangnya selama ini.”
“Jadi apa yang saya lihat waktu itu ternyata benar.”
“Begitulah Nadiba.”
“Lalu bagaimana kondisi tuan Felix sekarang?”
“Dia masih mengurung dirinya di dalam kamar, coba saja kamu bujuk dia keluar dan sarapan, saya telah mencobanya namun dia menolak, mungkin kalau kamu yang melakukan maka dia mau melakukannya.”
“Tapi saya tidak yakin kalau tuan Felix akan mau.”
“Bukankah ini adalah saat yang tepat supaya kamu bisa dekat kembali dengan Felix?”
“Pak Noah ….”
__ADS_1
“Tunggu apalagi Nadiba, ini adalah saat yang tepat.”
****
Rama sedang bicara dengan Faruq mengenai ia sudah berusaha membujuk Nadiba untuk kembali bersama dengan Faruq akan tetapi ibunya itu tetap saja tidak mau melakukan seperti apa yang ia inginkan.
“Apakah ibu sudah tidak menyayangiku lagi?”
“Kamu jangan bicara seperti itu Rama, dia sangat menyayangimu.”
“Kalau memang ibu sayang padaku, kenapa dia tidak mau kembali pada Ayah?”
“Karena dia sudah menentukan sikap, Rama.”
“Maksud Ayah?”
“Sepertinya selama ini Ayah yang terlalu bersemangat untuk kembali memperbaiki hubungan kami namun Ayah melupakan satu hal bahwa Ayah tidak dapat memaksa seseorang untuk menerima Ayah kembali.”
“Aku tidak mengerti apa yang Ayah katakan saat ini.”
“Kelak saat kamu dewasa nanti, kamu akan mengerti apa yang Ayah katakan, Nak.”
“Jadi maksud Ayah barusan itu seperti apa?”
“Maksud Ayah adalah mungkin saja Ayah dan ibu tidak bisa kembali seperti dulu akan tetapi Ayah akan selalu menyayangimu walaupun kita tidak bisa tinggal satu rumah lagi.”
“Kenapa begitu, Ayah? Aku tidak suka begitu, aku akan mencoba membujuk ibu lagi supaya mau kembali pada Ayah.”
Faruq hanya tersenyum mendengar ucapan Rama barusan dan ia kemudian memeluk Rama, andai Nadiba terketuk pintu hatinya untuk menerimanya lagi tentu saja ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.
****
Nadiba mencoba untuk mengetuk pintu kamar Felix dan memanggil namanya, akan tetapi tidak ada respon dari dalam yang membuat Nadiba khawatir kalau Felix jangan-jangan melakukan sesuatu hal yang buruk di dalam
sana.
“Tuan Felix, anda dapat mendengar suaraku kan? Tolong jawablah, jangan membuatku khawatir seperti ini.”
“PERGI SEKARANG JUGA! AKU TIDAK INGIN DIGANGGU OLEH SIAPA PUN!”
“Tapi Tuan ….”
“AKU BILANG PERGI! APAKAH KAMU INI TULI?!”
Nadiba tentu saja sakit mendengar apa yang Felix katakan padanya barusan akan tetapi ia harus memastikan kalau Felix di dalam sana baik-baik saja.
“Tuan Felix aku ….”
__ADS_1
PRANG