
Nadiba nampak terkejut dengan apa yang baru saja ia lihat dengan kedua mata kepalanya sendiri yaitu Faruq sengaja didorong oleh Nimas karena membela Nadiba kini setelah Faruq jatuh tak sadarkan diri di tangga bawah, Nimas menatap Nadiba dan wanita itu seperti sangat berambisi untuk membuat Nadiba celaka seperti yang Faruq alami.
“Sekarang giliranmu Nadiba.”
“Nimas, kenapa kamu seperti ini? Mas Faruq adalah suamimu!”
“Aku tak peduli, dia tadi membelamu sekarang juga kamu harus mati!”
Nimas hendak mendorong Nadiba namun sebelum Nimas sempat melakukan itu dirinya sudah ditarik oleh seseorang yang tak lain adalah Felix. Nadiba terkejut dengan kedatangan Felix sementara Nimas berusaha
melepaskan diri dari Felix.
“Lepaskan aku!”
“Nadiba, cepat panggil satpam!”
Nadiba kemudian segera pergi mencari satpam secepat mungkin seperti yang tadi dikatakan oleh Felix, ia berharap semoga saja nasib Felix tidak seperti Faruq yang dijatuhkan oleh Nimas dari tangga tadi. Untungnya saja nasib baik berpihak pada Nadiba karena ia berhasil menemukan satpam dan mereka pun segera dapat meringkus Nimas yang telah berbuat ulah.
“Lepaskan aku!”
Namun tentu saja satpam tak bergeming dan membawa Nimas untuk dimintai keterangan akibat kejahatan yang telah wanita itu lakukan, Faruq sendiri sudah dibawa menuju ruang IGD dan kini tengah ditangani oleh
dokter yang berjaga di sana.
“Kamu benar-benar baik-baik saja kan, Nadiba?”
“Iya Tuan, saya baik-baik saja.”
“Syukurlah kalau memang begitu, itu artinya aku datang tepat waktu.”
“Iya Tuan, anda memang datang tepat waktu tadi.”
Akhirnya dokter keluar dari ruang IGD dan mengatakan kalau kondisi Faruq sudah stabil dan ia bisa dipindahkan ke ruang inap, Nadiba yang mendengar itu sungguh lega bukan main mendengarnya.
“Terima kasih banyak, dokter.”
“Permisi namun pasien harus membayar sejumlah biaya tindakan dan biaya rumah sakit,” ujar perawat yang menghampiri mereka.
“Biar aku saja yang mengurusnya Nadiba,” ujar Felix.
__ADS_1
“Tuan Felix, saya sangat berterima kasih atas kebaikan hati anda.”
****
Darsih yang mendapatkan kabar bahwa Faruq juga ikut dirawat di rumah sakit tempat di mana Kusuma dirawat tentu saja terkejut bukan main, ia segera menjenguk Faruq yang tengah berbaring di atas ranjangnya, ketika ia tiba di sana nampak Nadiba tengah menemaninya.
“Faruq.”
Darsih langsung memeluk Faruq, ia benar-benar takut sekali mendengar tadi Nadiba menelponnya dan mengatakan kalau ada sesuatu hal yang buruk terjadi padanya.
“Apa yang sebenarnya terjadi, Nadiba?”
Nadiba kini bingung apakah ia harus menceritakan semuanya pada Darsih atau tidak, mengingat kalau Darsih tahu mengenai apa yang dilakukan oleh putrinya maka Darsih bisa sangat merasa kecewa.
“Nadiba, kenapa kamu hanya diam saja? Bukankah kamu mengetahui sesuatu?”
“Aku memang mengetahuinya Tante, akan tetapi aku khawatir untuk mengatakannya.”
“Apakah ini semuanya ada kaitannya dengan anakku?”
Nadiba tak menjawab pertanyaan dari Darsih barusan karena benar-benar merasa tidak enak pada sang tante dan sikap diam dari Nadiba itu membuat Darsih mengelus dada dengan kelakuan putrinya.
“Sebenarnya tadi aku menemukan Nadiba yang hendak dicelakai oleh Nimas, akan tetapi beruntungnya aku berhasil menyelamatkan Nadiba sebelum Nimas berhasil mencelakainya,” ujar Faruq.
“Ya Tuhan Nadiba, kenapa kamu tak mau mengatakannya padaku?”
“Bagaimanapun juga kan Nimas anak Tante, aku tak mau membuat hubungan Tante dan Nimas jadi renggang akibat ini.”
****
Mendengar cerita dari Nadiba dan Faruq membuat Darsih benar-benar marah sekaligus kecewa dengan yang dilakukan oleh Nimas pada mereka berdua. Darsih langsung pulang ke rumah dan kebetulan sekali saat ini Nimas
sudah pulang. Darsih tak mau berbasa-basi dengan Nimas, ia langsung menanyakan pada putrina itu kenapa sampai tega melakukan hal keji seperti itu namun Nimas mengatakan bahwa lebih baik Darsih tak perlu ikut campur dalam msalah ini.
“Apa katamu? Kenapa Ibu tak boleh ikut campur dalam masalah ini? Apa yang kamu lakukan adalah sebuah masalah serius, Nak. Kamu nyaris membunuh seseorang dan kalau sampai ada yang melaporkanmu ke polisi maka Ibu yakin kalau kamu akan masuk penjara.”
Namun alih-alih takut dengaan apa yang Darsih katakan barusan, justru Nimas mengatakan pada Darsih bahwa ia sama sekali tak gentar, Nimas mengatakan akan selalu melakukan hal ini sampai Nadiba menderita dan
Faruq menjadi miliknya selamanya.
__ADS_1
“Sadarlah Nak, apa yang kamu lakukan itu sudah bukan lagi tindakan biasa, itu adalah tindakan kriminal!”
“Aku tahu bahwa apa yang aku lakukan tadi sama sekali tak dapat untuk dibenarkan di mata hukum akan tetapi aku melakukan itu karena sebuah sebab dan sebabnya adalah Nadiba!”
****
Kusuma terkejut ketika mendengar Faruq dicelakai oleh istrinya sendiri, Kusuma tak habis pikir dengan Nimas yang terus saja membuat ulah dengan mereka semua. Nadiba mengatakan pada Kusuma untuk jangan mengkhawatirkan Nimas karena ia akan ada di sini bersama dengan ibunya namun Kusuma mengatakan bahwa Nadiba harus pylang karena hari sudah malam dan besok Rama sekolah.
“Tapi kalau aku pulang maka siapa yang akan menjaga Ibu? Kalau nanti malam Nimas kembali lagi, bagaimana?”
Kusuma menenangkan putrinya yang khawatir itu hingga perlahan Nadiba pun menjadi luluh, akan tetapi sebelum benar-benar pergi dari ruangan inap sang ibu, Kusuma meminta Nadiba untuk jangan mengkhawatirkannya
karena ia yakin akan baik-baik saja.
“Lebih baik fokus saja pada Rama, jangan membagi fokusmu pada orang lain Nadiba.”
“Baiklah Bu, aku pulang dulu.”
Nadiba berpamitan pada Kusuma untuk pulang dan untuk pulang sendiri ia akan diantar oleh Felix walaupun Nadiba tela menolak untuk diantarkan pulang namun karena Felix yang terus memaksanya maka Nadiba pun tak
memiliki alasan untuk menolak tawaran yang Felix berikan ini padanya.
“Kenapa kamu sepertinya tidak suka kalau aku mengantarkanmu, Nadiba?”
“Saya bukannya tidak suka dengan tawaran Tuan Felix hanya saja saya bisa pulang sendiri, lagi pula jarak dari rumah sakit ini ke rumah saya juga kan jauh, Tuan Felix sejak siang tadi ada di rumah sakit ini dan menemani saya menunggu ibu saya, pasti Tuan Felix lelah sekali dan butuh istirahat.
****
Nimas nampak mengendap-endap di koridor rumah sakit yang sudah sepi, ketika ia melihat meja perawat jaga nampak kosong dan ini adalah kesempatannya untuk melancarkan aksinya dan kali ini dirinya bertekad
untuk tidak akan gagal lagi.
“Pokoknya kali ini aku akan berhasil, tidak akan ada lagi orang yang akan menghalangiku!”
Nimas berjalan menuju ruangan inap di mana Kusuma berada, di sana memang tidak ada seorang pun dan Kusuma tengah tertidur lelap dan Nimas pun perlahan-lahan mengendap-endap hingga ia berhasil mencapai
pinggir ranjang Kusuma.
“Bersiaplah untuk mati kali ini.”
__ADS_1