
Nadiba menjadi bingung sendiri karena ia tidak mendapatkan pemasukan yang besar seperti dulu ia bekerja pada Noah, bekerja di ladang milik bibinya hanya dilakukannya ketika masa panen saja dan ketika musim cocok tanam seperti ini hingga menunggu panen tidak ada yang dapat ia lakukan. Nadiba sudah mencoba mencari banyak pekerjaan di desa ini akan tetapi ia tidak menemukannya dan malah mengharuskannya untuk pergi ke kota akan tetapi Nadiba tentu saja tidak mau sampai hal itu terjadi.
“Nadiba.”
Nadiba terkejut karena ia bertemu dengan mantan suaminya di dekat rumah tantenya, Nadiba berusaha untuk menghindari Faruq akan tetapi pria itu tidak membiarkannya untuk pergi.
“Kenapa kamu buru-buru sekali?”
“Karena masih ada yang perlu aku kerjakan.”
“Kamu tidak perlu berbohong, Nadiba. Aku tahu bahwa kamu sengaja melakukannya untuk menghindariku kan?”
“Tidak kok, siapa juga yang menghindarimu?”
Faruq menggelengkan kepalanya dan ia mengatakan bahwa tadi secara tidak sengaja mencuri dengar apa yang Nadiba dan Darsih bicarakan di dalam rumah.
“Mas mendengar apa saja?”
“Hampir semuanya, kamu pasti bingung kan untuk mencari pekerjaan lain?”
“Begitulah.”
“Apakah kamu akan kembali bekerja di rumah pak Noah?”
“Sepertinya tidak akan.”
“Baguslah kalau begitu.”
“Apa?”
“Iya, baguslah kalau begitu karena kalau kamu menerima pekerjaan darinya maka sama saja kamu membiarkan pria itu berharap lebih padamu dan kamu juga pasti tidak akan nyaman jika terus bekerja dengannya kan?”
Nadiba memutuskan untuk pulang dan tak mau membahas hal itu dengan mantan suaminya, ketika sampai di rumah, Kusuma langsung bertanya pada Nadiba apa yang terjadi pada putrinya ini dan Nadiba pun mengatakan apa yang tengah ia pikirkan pada sang ibu.
“Menurut Ibu lebih baik kamu kembali saja bekerja di rumah pak Noah.”
__ADS_1
“Tapi Ibu tahu kan bahwa itu sama sekali tidak mudah bagiku, apalagi setelah aku tahu kalau pak Noah memiliki perasaan cinta padaku.”
“Kamu bisa kan bekerja di sana tanpa harus memikirkan hal itu?”
****
Mudah untuk diucapkan akan tetapi sulit untuk dilakukan, begitulah yang Nadiba pikirkan dari apa yang tadi ibunya katakan. Ia tentu saja sebenarnya ingin mengatakan hal tersebut akan tetapi ia menahan dirinya untuk tidak mengatakan itu karena Kusuma adalah ibunya. Nadiba kemudian memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya dan memikirkan langkah apa yang harus ia lakukan setelah ini. Saat ia sedang diam di kamarnya, ponselnya berdering dan ketika melihat layar ponselnya rupanya ada nama Noah yang tertera di sana. Nadiba merasa enggan untuk menjawab telepon dari pria itu hingga Nadiba memutuskan untuk mematikannya saja.
“Maafkan aku pak Noah, aku tak bermaksud seperti itu.”
Tiba-tiba saja Kusuma muncul dari balik pintu kamarnya dan mengatakan pada Nadiba bahwa diluar ada Noah. Ucapan sang ibu barusan membuat Nadiba seketika terkejut karena tak menyangka kalau Noah ada di depan saat
ini padahal baru beberapa saat yang lalu ia menelponnya.
“Apakah Ibu serius?”
“Untuk apa Ibu bercanda untuk hal seperti ini, Nak?”
Nadiba kemudian meminta pada sang ibu untuk berbohong saja kalau ia tidak ada di rumah akan tetapi Kusuma sudah terlanjur mengatakan bahwa Nadiba ada di rumah, maka dengan terpaksa Nadiba harus menemui pria itu
****
Nadiba menyiapkan dirinya untuk menghadapi Noah sebelum benar-benar pergi menemui pria itu yang tengah duduk di kursi ruang tamu rumahnya, ketika ia melihat Nadiba keluar dari dalam rumah maka Noah pun
segera bangkit dari kursinya dan nampak begitu bahagia dengan Nadiba yang mau menemuinya di sini.
“Terima kasih karena kamu sudah mau menemuiku.”
“Untuk apa Pak Noah datang ke sini?”
“Saya datang ke sini karena saya masih berharap kamu mau kembali bekerja di rumah.”
“Saya sudah mengatakannya berulang kali dan saya rasa Pak Noah pasti paham dengan keputusan yang sudah saya buat ini.”
“Saya tahu, akan tetapi kamu pasti saat ini sangat butuh sekali uang kan?”
__ADS_1
“Saya memang butuh uang akan tetapi saya yakin kalau saya pasti bisa mendapatkan uang tersebut tanpa harus bekerja dengan anda.”
“Nadiba, apakah kamu memang benar-benar membenciku sampai-sampai tidak mau bekerja di rumahku? Aku sama sekali tidak memiliki niat yang buruk padamu. Aku hanya ingin membantumu saja.”
“Pak Noah, saya sudah berulang kali mengatakan bahwa saya sama sekali tidak membenci anda, akan tetapi tolong anda hargai keputusan yang sudah saya buat.”
“Kamu yakin akan menolak tawaran saya lagi, Nadiba?”
“Saya yakin Pak Noah.”
Noah lagi-lagi harus menahan kekecewaan karena rupanya Nadiba masih belum juga mau luluh dan bekerja lagi di rumahnya.
****
Setelah Noah pulang ke rumahnya, Kusuma pun kemudian menemui Nadiba untuk membicarakan apa yang tadi tengah ia dan Noah bicarakan. Kusuma tentu saja kecewa dengan keputusan yang sudah Nadiba ambil barusan karena Kusuma menganggap bahwa Nadiba pilih-pilih soal pekerjaan padahal Noah sudah berniat baik padanya.
“Bu, apakah Ibu lupa kalau alasan kenapa aku berhenti dari bekerja di rumah pak Noah adalah karena perasaannya padaku? Aku tidak ingin dia tersiksa dan aku menjadi tidak nyaman.”
“Kamu kan bisa profesional untuk tetap bekerja tanpa harus mencampuri urusan pribadi kan?”
“Aku bisa melakukan itu akan tetapi pak Noah tidak dapat melakukannya.”
“Nadiba, lalu kalau memang kamu tidak mau kembali bekerja di rumah pak Noah maka apa yang harus kita lakukan? Sebentar lagi kita harus membayar biaya sewa rumah ini.”
Nadiba pun jadi memikirkan apa yang ibunya katakan barusan, ia benar-benar merasa pusing sekali saat ini dan ketika ia sedang keluar rumah, secara tidak sengaja ia mencuri dengar pembicaraan antara pemilik rumah kontrakan dengan Noah yang sepertinya tengah membicarakan sesuatu dan tentu saja Nadiba jadi penasaran sebenarnya apa yang tengah mereka berdua bicarakan.
“Kira-kira mereka sedang membicarakan apa, ya?” gumamnya yang kemudian mendekati mereka secara diam-diam.
****
Noah intinya mengatakan bahwa ia tidak akan bertanggung jawab lagi memberikan subsidi uang sewa kontrakan rumah yang disewa oleh Nadiba serta keluarganya ini, tentu saja ucapan dari Noah barusan membuat Nadiba terkejut bukan main dan akhirnya aksi mengupingnya tercium karena Nadiba membuat suara gaduh dan menarik perhatian mereka berdua.
“Nadiba, apa yang kamu lakukan di situ?” tanya Noah penasaran.
“Pak Noah, apakah benar kalau selama ini Pak Noah yang memberikan subsidi atas sewa bulanan rumah ini?” tanya Nadiba penasaran.
__ADS_1
“Iya Pak Noah yang melakukannya selama ini, Nadiba. Asal kamu tahu saja harga sewa rumah ini 2 kali lipat dari uang sewa bulanan yang kamu rutin bayarkan itu!” seru sang pemilik kontrakan.