
Nadiba akhirnya masuk ke dalam mobil Noah dan melambaikan tangan pada ibunya yang berdiri di depan rumah untuk melepaskan kepergian putrinya menjemput Rama di kota. Nadiba merasa tidak nyaman karena harus satu
mobil dengan Noah apalagi Noah memintanya untuk duduk di kursi penumpang depan dan tidak mengizinkan Nadiba pindah ke belakang dengan alasan ia ingin mengobrol dengan Nadiba supaya tidak mengantuk.
“Kenapa sejak tadi kamu hanya diam saja? Saya memintamu duduk di sini kan untuk membuatmu mengobrol.”
“Maaf Pak Noah, akan tetapi sejujurnya saya tidak nyaman dengan semua ini.”
“Kalau memang kamu belum merasa nyaman nanti juga kamu akan merasa nyaman, percayalah padaku.”
Nadiba tidak menanggapi apa yang dikatakan oleh Noah itu, dirinya terus saja diam dan menatap keluar jendela menikmati perjalanan hingga Noah memberhentikan mobilnya di sebuah rest area.
“Saya mau buang air dulu, kamu mau juga sekalian?”
“Saya tidak ingin buang air.”
“Kalau begitu kamu tunggu dulu di sini.”
Noah keluar dari dalam mobil kemudian pergi ke toilet untuk buang air sementara Nadiba tetap di dalam mobil, ia melihat arloji yang dikenakannya, rasanya masih sangat lama sekali waktu untuk mereka tiba di kota
padahal ia sangat ingin sekali secepatnya bertemu dengan Rama. Noah sejak tadi seperti sengaja mengemudikan mobil secara perlahan akan tetapi Nadiba tidak bisa protes pada gaya mengemudi Noah karena statusnya yang hanya menumpang di dalam mobil ini.
“Kenapa dia belum juga kembali, ya?”
Nadiba merasa heran karena sudah cukup lama Noah tidak kunjung kembali padahal katanya ia hanya ingin buang air saja, apakah di sana toiletnya mengantre? Nadiba yang penasaran pun memutuskan untuk turun dari
mobil dan mencari Noah, akan tetapi baru saja ia turun, dirinya sudah melihat Noah dari kejauhan tengah berjalan ke arahnya dengan membawa sesuatu.
“Pak Noah kenapa lama sekali?”
“Saya minta maaf karena telah membuatmu menunggu, saya membelikan kopi hangat ini untukmu.”
“Apa?”
****
Sepanjang perjalanan Noah berusaha mengajak Nadiba
mengobrol akan tetapi Nadiba masih saja membatasi pembicaraan dengan pria ini
karena dirinya masih belum nyaman untuk hal itu. Noah sendiri menghela napasnya
panjang karena usahanya untuk mendekati Nadiba masih belum membuahkan hasil
seperti yang ia inginkan. Hari sudah sangat malam dan mereka masih sangat jauh
sekali dari tujuan, Noah memutuskan mampir di sebuah hotel untuk menginap,
Nadiba nampak agak kesal karena kini semakin lama saja mereka sampai di kota.
__ADS_1
“Maaf kita lanjutkan perjalanan besok pagi saja, ya? Aku
mengantuk sekali.”
Nadiba tidak mengatakan apa pun, ia ikut turun dari
dalam mobil Noah akan tetapi ia tidak ikut masuk ke dalam hotel melainkan ia
berjalan menuju pintu keluar hotel, Noah yang melihat itu tentu saja langsung
berlari menghampiri Nadiba seraya menahan tangan wanita itu untuk jangan pergi.
“Nadiba, kamu mau ke mana?”
“Saya tentu saja ingin pergi ke kota.”
“Tapi hari sudah malam, Nadiba.”
“Saya tahu tapi saya harus pergi ke kota sekarang.”
“Besok pagi kan kita akan melanjutkan perjalanan lagi.”
“Saya tidak bisa menunggu sampai besok pagi, kalau
memang Pak Noah ingin beristirahat sampai besok pagi silakan saja, akan tetapi
saya akan tetap melanjutkan perjalanan hingga saya tiba di kota baru saya bisa
Setelah mengatakan itu Nadiba melepaskan cengkraman
tangan Noah yang tadinya menahannya, kini Nadiba berjalan menyusuri jalan
menuju terminal bus terdekat akan tetapi Noah kembali menahannya.
****
Nadiba merasa kesal karena Noah selalu saja menahan tangannya, ia mengatakan pada Noah untuk jangan menghalanginya kali ini.
“Saya tidak bisa melakukan itu Nadiba, hari sudah malam dan terlalu berisiko kalau sampai kamu pergi sendirian malam-malam begini.”
“Saya bisa naik bus malam, itu sama sekali tidak berbahaya.”
“Siapa yang bilang tidak berbahaya?”
“Pak Noah, tolong izinkan saya pergi.”
“Saya tidak bisa membiarkan kamu pergi sendirian Nadiba.”
Nadiba kembali melepaskan tangan Noah dan mengatakan pada pria itu untuk jangan lagi menghalanginya.
__ADS_1
“Saya tidak memaksa Pak Noah ikut dalam perjalanan ini, kalau memang Pak Noah tidak sanggup maka saya juga tidak memaksakannya, saya bisa cari alternatif lain.”
“Kamu melakukan semua ini karena tidak nyaman pada saya kan?”
“Iya, sejujurnya saya tidak nyaman karena perasaan Pak Noah pada saya.”
“Jadi begitu rupanya?”
Nadiba menghela napasnya berat dan meminta maaf pada Noah karena harus mengatakan hal ini, akan tetapi Nadiba tidak bisa terus menerus menghindari dan memendam ini, cepat atau lambat dirinya harus mengatakan kejujurannya pada Noah.
“Saya minta maaf Pak Noah, akan tetapi saya harus tetap pergi malam ini.”
****
Sekuat apa pun Noah mencoba untuk membuat Nadiba tetap tinggal bersamanya untuk malam ini, Nadiba memiliki alasan kuat untuk tetap melanjutkan perjalanan ke kota malam ini juga. Ia menolak ketika Noah memintanya untuk menginap dulu di hotel sampai besok pagi. Nadiba pun menemukan bus terakhir menuju kota dan ia langsung naik bus itu sebelum Noah kembali mengejarnya dan membuatnya tidak bisa berangkat malam ini.
“Maafkan saya Pak Noah.”
Nadiba pun tertidur di dalam bus hingga ia tiba di terminal keesokan paginya, setelah turun dari bus Nadiba pun menelpon Faruq untuk memberikan kabar bahwa ia sudah tiba di terminal dan harus ke mana dia dari
terminal ini.
“Aku akan menjemputmu di sana.”
“Tidak perlu Mas, aku bisa pergi sendiri.”
“Tidak kamu tunggu saja di sana.”
Faruq kemudian menutup sambungan teleponnya dan Nadiba tidak dapat melakukan apa pun selain menunggu mantan suaminya itu datang menjemputnya, tidak berselang lama akhirnya Faruq datang juga dan membawakan
tas Nadiba menuju rumah kontrakan Luna yang baru.
“Selamat datang di rumah,” ujar Faruq saat mereka tiba di rumah ini.
Nadiba nampak tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini, rumah ini mengingatkannya pada rumah yang ia huni dulu saat pertama kali menikah dengan Faruq.
****
Rama memeluk Nadiba dengan erat dan mengatakan bahwa ia ingin pulang saja sekarang, Nadiba pun menanyakan apakah Rama yakin untuk ikut pulang sekarang dengannya dan kembali bersekolah di sekolahnya dulu di desa dan Rama pun menganggukan kepalanya.
“Iya Bu, aku mau.”
Nadiba pun menganggukan kepalanya, ia langsung berpamitan pada Faruq dan Luna serta Ledi untuk segera pulang ke desa, akan tetapi Faruq merasa kasihan jika Nadiba langsung pulang begitu saja padahal baru beberapa saat ia sampai di sini.
“Nadiba apakah kamu yakin ingin segera pulang?”
“Iya Mas, lebih baik aku dan Rama segera pulang saja.”
“Tapi kamu kan baru sampai.”
__ADS_1
“Aku tidak mau merepotkan kalian, lagi pula aku baik-baik saja.”