
Nadiba nampak terkejut ketika menemukan Kusuma jatuh ke lantai dan mendapati sosok Nimas yang menerobos masuk ke dalam rumahnya tanpa izin, ketika Nadiba bertanya pada wanita ini kenapa datang ke sini justru
Nimas malah marah-marah padanya.
“Kamu pasti yang sudah membujuk wanita itu supaya menggoda Faruq lagi kan?”
“Aku tidak mengerti apa yang sedang kamu bicarakan ini.”
“Sudahlah, berhenti menjadi sok baik dan polos di depanku, Nadiba. Aku tahu bahwa kamu adalah wanita yang licik!”
Kusuma bangun dari lantai dan kemudian menarik Nimas untuk keluar dari rumah ini namun Nimas menolak untuk keluar dan lagi-lagi mendorong tubuh Kusuma hingga jatuh ke lantai. Nadiba yang melihat itu tentu saja merasa tak terima jika ibunya diperlakukan dengan tidak baik oleh Nimas.
“Apa yang sudah kamu lakukan pada ibuku? Apakah kamu tidak tahu apa yang kamu lakukan ini sangat tidak sopan?”
“Aku tidak memiliki urusan dengannya namun dia ingin ikut campur dengan urusanku!”
“Kamu tidak berhak bersikap tidak sopan di rumah ini, Nimas. Kalau memang kamu hanya ingin berbuat onar saja maka lebih baik kamu pergi dari rumah ini!”
Nimas nampak tak percaya ketika Nadiba menyuruhnya pergi dari rumah ini, ia tentu saja tak terima dan menyerang Nadiba, ia menjambak rambut Nadiba dan mengatakan bahwa Nadiba adalah wanita murahan yang berusaha menghancurkan kebahagiaannya. Kusuma kembali menarik Nimas untuk pergi dari rumahnya dan hal tersebut berhasil, Nimas jatuh ke lantai karena didorong oleh Kusuma barusan.
“Berani sekali kamu melakukan tindakan kasar pada putriku, aku tidak akan membiarkanmu melakukan itu lagi padanya apalagi sampai menuduhnya yang tidak-tidak!”
Nimas nampak tak puas hati dengan apa yang Kusuma katakan padanya dan hendak membalas Kusuma namun sebelum hal tersebut terjadi, Nadiba sudah terlebih dahulu mengusir Nimas.
“Aku akan berteriak jika kamu masih mencoba untuk berbuat onar di sini, jadi selagi aku masih berbaik hati dengan tidak mempermalukanmu, lebih baik pergi sekarang juga.”
****
Kusuma nampak meminta maaf pada Nadiba setelah Nimas sudah menjambak rambut Nadiba sementara itu Nadiba mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja dan justru Nadiba menghkawatirkan Kusuma yang didorong oleh Nimas tadi.
“Kamu tak perlu mencemaskan Ibu, Nak karena Ibu baik-baik saja.”
“Ibu yakin? Apakah ada yang sakit?”
“Tidak Nak, Ibu kan sudah mengatakan kalau Ibu baik-baik saja, kamu tak perlu mencemaskan Ibu.”
Nadiba menghela napasnya panjang dan sebenarnya ia tidak tenang meninggalkan ibunya sendirian di rumah namun saat ini dirinya harus pergi bekerja.
__ADS_1
“Kamu tak perlu mencemaskan Ibu, kamu pergilah bekerja.”
“Ibu yakin akan baik-baik saja jika aku tinggal bekerja?”
“Tentu saja Nak, kamu pergilah bekerja dan tak perlu merisaukan Ibu.”
Nadiba menghela napsnya dan kemudian berpamitan pada Kusuma, walaupun berat untuk meninggalkan Kusuma sendirian di rumah ini namun Nadiba memang harus pergi bekerja sat ini juga.
“Baiklah Bu, aku pergi bekerja dulu.”
“Iya Nak, kamu tak perlu mengkhawatirkan Ibu.”
Setelah itu Nadiba pun pergi ke rumah Noah namun sepanjang perjalanan singkat menuju rumah Noah itu, dirinya masih ada perasaan tak tenang meninggalkan sang ibu sendirian di rumah setelah kejadian buruk yang dilakukan oleh Nimas tadi.
“Nadiba, kamu kenapa?” tanya Felix yang tengah berdiri di depan pagar ketika Nadiba tiba di rumah.
****
Nimas nampak tak puas hati setelah apa yang Nadiba dan Kusuma lakukan padanya, ia bersumpah akan melakukan pembalasan pada Nadiba karena ia yakin bahwa Nadiba telah bersekongkol dengan Luna untuk menghancurkan rumah tangganya dengan Faruq, akan tetapi tentu saja Nimas tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. Faruq akan selamanya menjadi suaminya dan tidak ada seorang pun yang akan merebutnya darinya.
“Kamu dari mana, Nimas?” tanya Darsih.
“Apakah kamu baru saja membuat masalah?”
“Apa maksud Ibu dengan membuat masalah?”
“Kamu baru saja membuat masalah dengan Nadiba dan ibunya kan?”
Nimas nampak tak percaya ketika Darsih mengetahui hal tersebut, ia berpikir bahwa Nadiba atau Kusuma yang sengaja menceritakan ini pada ibunya dan tentu saja Nimas akan membuat pembalasan pada mereka berdua.
“Kenapa kamu hanya diam saja?”
“Siapa yang mengatakan itu pada Ibu?”
“Itu tidak penting, kenapa kamu melakukan itu, Nak?”
“Apakah aku harus mengatakannya pada Ibu?”
__ADS_1
“Iya, tentu saja kamu harus mengatakannya padaku, kamu tahu kan kalau tante Kusuma adalah kakakku dan Nadiba adalah kakak sepupumu? Kenapa kamu harus bermusuhan dengan mereka, Nak?”
“Asal Ibu tahu saja kalau Nadiba dalang di balik kemunculan mantan istri Faruq!”
“Apa maksudmu?”
****
Nimas mengatakan pada Darsih bahwa Nadiba sengaja menghubungi Luna dan meminta supaya wanita itu kembali menggoda Faruq setelah mereka berdua bercerai, akan tetapi Darsih sama sekali tidak percaya dengan yang dikatakan oleh Nimas barusan karena ia tahu persis seperti apa Nadiba itu.
“Ibu tak mempercayai ap yang aku katakan?”
“Nak, Ibu mengenal siapa Nadiba, dia tidak mungkin memiliki hati yang kotor sepertimu.”
“Apa maksud Ibu mengatakan kalau hatiku kotor?!”
“Kalau hatimu tidak kotor, maka untuk apa kamu membenci Nadiba padahal dia sama sekali tidak mengganggumu, Nak? Justru kamulah yang Ibu perhatikan sering sekali mencari masalah dengannya.”
“Jadi sekarang Ibu mulai memihak Nadiba? Sebenarnya siapa, sih anak Ibu?!”
“Nak, Ibu mengatakan yang sebenarnya dan kamu harus menerima bahwa di sini kamulah yang salah.”
Namun Nimas tentu saja tidak menerima semua itu, ia masih beranggapan bahwa Nadiba yang bertanggung jawab atas semua ini dan Nadiba harus mempertanggung jawabkan semua yang sudah ia lakukan padanya.
“Pokoknya Ibu tidak akan dapat menghalangiku!”
Nimas kemudian pergi ke kamarnya dengan Darsih yang mengelus dadanya melihat kelakuan Nimas yang semakin hari semakin membuatnya merasa pusing saja.
“Ya Tuhan apa yang sebenarnya terjadi dengan anakku? Kenapa dia bisa berubah menjadi seperti ini?”
****
Kusuma sedang berbelanja di warung membeli kebutuhan rumah tangga, ia kemudian pulang ke rumah setelah dari warung tersebut dan ketika ia sedang berjalan pulang menuju rumahnya nampak ada sebuah mobil dengan
kecepatan tinggi berjalan tidak teratur dengan kecepatan tinggi dan kemudian mobil tersebut menabraknya hingga Kusuma terpelanting ke pinggir jalan dan kepalanya membentur sebuah batu yang kebetulan berada tepat di dekatnya. Mobil tersebut tidak berhenti untuk melihat bagaimana kondisi Kusuma namun mobil tersebut terus melaju dengan kencang hingga tidak lama kemudian warga sekitar mendatangi lokasi kejadian dan terkejut melihat kondisi Kusuma.
“Ayo bawa dia ke puskesmas!”
__ADS_1
Warga pun segera membawa Kusuma menuju puskesmas terdekat sementara itu di dalam mobil yang menabrak Kusuma nampak Nimas menyeringai karena rencananya berhasil.
“Aku sudah mengatakan kalau siapa pun yang mencari masalah denganku akan berakhir tragis.”