
Faruq menahan tangan Nimas yang hendak melakukan hal yang buruk pada Luna, tentu saja hal ini membuat Nimas geram bukan main dan meminta Faruq untuk melepaskannya namun Faruq tidak akan mau melepaskannya dari pada kalau ia mengambil langkah tersebut maka Nimas akan melanjutkan aksinya.
“Masuk ke dalam!”
“Aku tidak mau, aku ingin melabrak wanita tidak tahu diri ini!”
Maka kemudian Faruq memaksa Nimas untuk masuk ke dalam dan mengunci pintunya dari luar, ia mengabaikan Nimas yang menggedor pintu untuk meminta dibukakan karena baginya sama saja membiarkan masalah semakin
besar.
“Mau apa lagi kamu datang ke sini?”
“Tentu saja aku ingin bertemu denganmu.”
“Bukankah aku sudah mengatakan padamu bahwa aku tidak ingin menemuimu? Kenapa masih nekat saja datang ke sini?”
“Faruq, aku tahu bahwa sebenarnya kamu masih mencintaiku.”
“Kamu bicara apa, Luna? Bukankah aku sudah pernah mengatakannya berulang kali padamu bahwa aku sama sekali tidak mencintaimu?”
“Kamu tak dapat membohongiku, Faruq, aku yakin kalau kamu masih mencintaiku, maka kembalilah padaku.”
Faruq mengatakan pada Luna untuk segera pergi saja dari sini sebelum masalah semakin besar namun Luna menolak untuk pergi, Faruq menghela napasnya dan mengatakan sampai kapan pun apa yang Luna inginkan tidak
akan pernah berhasil.
“Jadi lebih baik lupakan saja aku, anggap saja kita tidak pernah kenal.”
“Mana bisa seperti itu? Aku tidak akan pernah bisa melupakanmu, Faruq.”
Namun Faruq kemudian meninggalkan Luna begitu saja walaupun Luna memanggil namanya berulang kali, Darsih kemudian mengusir Luna dan mengatakan bahwa sebaiknya Luna tidak perlu datang ke sini lagi dan membuat
keributan lebih lanjut.
“Aku mengatakan ini bukan karena membencimu, aku mengatakan ini demi kebaikanmu.”
“Kalau anda tidak tahu apa-apa, maka jauh lebih baik anda diam saja.”
Setelah mengatakan itu Luna langsung berbalik badan dan pergi dari rumah itu dengan ekspresi yang kesal, Darsih nampak menghela napasnya berat saat melihat tingkah Luna yang benar-benar tidak sopan barusan.
****
Nadiba ditanya oleh Felix apakah ia memiliki hubungan yang baik dengan mantan istri Faruq dan Nadiba mengatakan bahwa hubungannya dengan Luna baik-baik saja sampai saat ini walaupun mereka sempat bersitegang pada awal pernikahan Faruq dengan Luna.
“Memangnya kenapa Tuan menanyakan itu?”
“Tidak, biasanya hubungan mantan istri dengan mantan istri lainnya bisa dikatakan tidaklah baik namun justru yang aku dapatkan sangat berbeda sekali.”
“Saya tidak mau mencari musuh, Tuan.”
__ADS_1
“Lalu apakah kamu ingin mencari jodoh?”
Wajah Nadiba bersemu ketika Felix menanyakan hal itu padanya, Nadiba memutuskan untuk mengalihkan wajah dan kembali fokus pada pekerjaannya, Felix seperti tidak kehilangan akal untuk menggoda Nadiba karena
ia tahu bagaimana cara membuat Nadiba tersipu seperti tadi.
“Tuan tolong hentikan.”
“Kenapa? Bukankah kamu suka kalau aku bersikap manis begini padamu?”
“Felix, jangan mengganggu Nadiba, saat ini kan dia sedang bekerja,” ujar Noah.
“Siapa yang mengganggu? Aku kan sedang membantunya,” ujar Felix.
“Membantu? Membantu membuat wajah Nadiba memerah begitu?”
“Itu Papa tahu.”
“Ah sudahlah, pokoknya jangan ganggu Nadiba ketika dia sedang bekerja kalau kamu selalu mengganggunya bekerja maka dia pasti akan memutuskan pergi dari rumah ini lagi.”
“Apakah benar Nadiba? Kamu akan memutuskan untuk berhenti bekerja di rumah ini lagi?”
“Saya tidak tahu Tuan Felix.”
“Kalau begitu tidak masalah.”
“Apa maksudmu tidak masalah? Kalau Nadiba tidak ada di sini siapa yang akan melakukan pekerjaan rumah?”
“Felix!”
****
Akhirnya jam kerja Nadiba usai dan ia berpamitan pada Noah serta Felix untuk pulang ke rumah, Felix mengantarkan Nadiba sampai teras rumah dan mereka berdua sempat berbincang sebentar sebelum Nadiba pulang ke rumah.
“Terima kasih atas hari ini, Nadiba.”
“Saya hanya mengerjakan apa yang dapat saya lakukan, Tuan.”
“Nadiba.”
“Ada apa, Tuan?”
“Apakah kamu siap untuk membuka hatimu untukku lagi?”
“Kenapa Tuan Felix menanyakan itu?”
“Karena sekarang aku yakin untuk membuka hatiku lagi dan kali ini aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak mengecewakanmu seperti apa yang pernah aku lakukan di masa lalu.”
Nadiba dapat melihat kesungguhan di mata Felix saat pria itu mengatakan hal tersebut yang mana Nadiba jadi salah tingkah namun ia tidak menganggapi apa yang Felix katakan barusan malah ia cenderung untuk
__ADS_1
menghindar.
“Tuan Felix, sepertinya saya harus pulang sekarang, pasti ibu sudah menunggu saya.”
“Apakah kamu belum siap untuk membuka hatimu, Nadiba? Apakah kamu masih meragukanku?”
“Tidak, bukan seperti itu Tuan Felix.”
“Lalu seperti apa?”
****
Nadiba jadi bingung sendiri karena Felix seperti mendesaknya untuk mengatakan apa yang ia rasakan, Nadiba meminta Felix untuk bersabar karena saat ini ia masih memikirkan semuanya. Walau nampak kecewa
dengan jawaban yang Nadiba berikan padanya saat ini namun Felix menerima keputusan Nadiba tersebut.
“Baiklah kalau memang kamu belum siap untuk menjawabnya, akan tetapi aku harap kamu bisa segera memberikan keputusan.”
“Terima kasih karena Tuan sudah mau mengerti.”
Nadiba kemudian berpamitan pada Felix untuk pulang ke rumahnya, Felix menatap kepergian Nadiba tersebut hingga sosok Nadiba menghilang dari pandangannya barulah ia masuk ke dalam rumah. Nadiba sendiri
dalam perjalanan pulang memikirkan apa yang Felix katakan padanya barusan, ia memang mencintai Felix dan dapat melihat serta merasakan ketulusan dalam setiap sorot mata dan kata-kata yang keluar dari mulut pria tersebut namun sampai saat ini Nadiba masih belum ingin mengambil keputusan menenai hubungannya dengan
Felix ke depan akan seperti apa.
“Nadiba, kamu sudah pulang, Nak? Masuklah.”
“Iya Bu.”
Nadiba langsung menuju kamarnya untuk berganti pakaian dan mandi setelahnya ia pergi ke meja makan di mana Kusuma sudah menyiapkan makan malam untuknya.
“Ayo makanlah.”
“Ibu bagaimana?”
“Ibu dan Rama kan sudah makan, sudah cepat habiskan makan malam ini dan kemudian tidur.”
“Iya Bu.”
****
Nimas keesokan paginya menghampiri rumah Nadiba dan mengetuk pintu rumah tersebut dengan sangat kasar dan berteriak memanggil nama Nadiba, Kusuma yang mendengar suara Nimas itu pun membukakan pintu dan benar saja keponakannya itu sudah berdiri di sana sambil berteriak memanggil nama putrinya.
“Mau apa kamu datang ke rumah kami?”
“Nadiba, dia ada di dalam kan? Aku ingin bicara dengannya sekarang juga.”
“Jangan membuat masalah di sini, aku tidak akan membiarkanmu melakukan hal yang buruk pada putriku!”
__ADS_1
Nimas nampak geram dan kemudian mendorong Kusuma hingga jatuh ke lantai, ia masuk ke dalam rumah dan menemukan Nadiba yang terkejut melihat Nimas di dalam rumahnya.
“Mau apa kamu ke sini?”