Anugerah Cintamu

Anugerah Cintamu
Memulai Permainan


__ADS_3

Nadiba sedang membersihkan rumah dan ia terkejut ketika menemukan Thalia sudah keluar dari dalam kamar dengan membawa sebuah tas besar, Nadiba bertanya pada Thalia hendak pergi ke mana wanita itu.


“Jadi kamu belum tahu Nadiba kalau aku dan suamiku akan segera bercerai?”


“Bercerai, Bu?”


“Iya, kami berdua sudah sepakat untuk bercerai.”


“Tapi saya kan sudah mengatakan kalau saya dan Pak Noah tidak memiliki hubungan khusus.”


“Nadiba, saya sudah tahu kalau kamu dan suamiku tidak memiliki hubungan khusus, kami berpisah bukan karenamu.”


“Tapi Bu ….”


“Percayalah padaku Nadiba, kami berpisah bukan karenamu jadi kamu jangan merasa bersalah akan hal ini.”


Setelah itu Thalia pun pergi meninggalkan Nadiba untuk pergi dari rumah ini namun sebelum ia sempat sampai di pintu depan, ia kembali bertemu dengan Noah yang menanyakan untuk yang terakhir kalinya menyangkut


keputusan yang sudah Thalia buat ini.


“Aku sudah yakin dengan keputusanku jadi jangan menghalangiku.”


Setelah mengatakan itu Thalia pun bergegas pergi dari rumah ini, Noah menatap kepergian istrinya itu dari dalam rumah hingga tidak menyadari kalau Nadiba sudah berdiri di belakangnya.


“Pak.”


“Oh kamu rupanya, ada apa Nadiba?”


“Apakah anda dan istri anda akan bercerai?”


“Memangnya siapa yang bilang begitu?”


“Bu Thalia barusan mengatakan itu pada saya.”


“Jadi dia sudah bercerita padamu, ya?”


“Saya benar-benar minta maaf, Pak.”


“Kenapa kamu meminta maaf? Kamu kan tidak salah apa pun.”


“Saya takutnya berpikir kalau Bu Thalia dan anda berpisah karena saya.”


“Tidak Nadiba, bukan seperti itu kamu tidak perlu merasa bersalah, sekarang kamu lanjutkan saja pekerjaanmu.”


Nadiba pun kemudian pergi meninggalkan Noah untuk melanjutkan kembali pekerjaannya, begitu tiba di lantai dua ia melihat pintu kamar Felix terbuka dan pria itu baru saja keluar dari kamar tersebut.


“Kamu sudah mulai bekerja sekarang?”


“Iya Tuan.”


“Baguslah kalau begitu.”

__ADS_1


Felix kemudian menuruni anak tangga dan sikapnya pada Nadiba sudah tidak seketus pada awal mereka bertemu.


****


Noah bertanya pada Felix mau pergi ke mana putranya itu namun Felix tidak menjawab pertanyaan dari Noah tersebut, ia masuk ke dalam mobilnya dan melajukan kendaraan itu meninggalkan rumah untuk menuju suatu


tempat di kota. Felix bertemu dengan salah seorang detektif swasta yang ia sewa untuk mencari tahu mengenai masa lalu papanya dan wanita yang menjadi biang keretakan rumah tangga mereka.


“Jadi apakah kamu sudah mendapatkan informasi itu?”


“Iya Tuan, ini semua bukti yang anda minta.”


Felix meraih amplop itu dan membukanya, di sana ada beberapa dokumen dan ia nampak membaca dokumen itu dengan seksama, selain itu juga yang menarik perhatiannya adalah fakta bahwa ternyata selingkuhan papanya


itu adalah putri keluarga kaya raya.


“Keluarga Sudira?”


“Iya Tuan, wanita itu adalah putri dari mendiang Tuan Giandi Sudira.”


“Sulit dipercaya.”


“Sekarang wanita itu sudah menikah dengan pria yang dijodohkan oleh mendiang papanya sebelum papanya meninggal dunia.”


“Apakah suami dari wanita itu tahu bahwa anak yang dibesarkan oleh wanita itu bukanlah anak kandungnya?”


“Saya belum mendapatkan informasi lebih jelas soal itu, Tuan.”


“Kalau begitu saya permisi dulu.”


Detektif itu kemudian pergi meninggalkan Felix dengan banyak berkas yang menjadi bukti masa lalu papanya dengan wanita itu, bahkan di sana ada beberapa foto di masa lalu mereka yang membuat Felix mendidih.


“Tunggu pembalasanku.”


****


Nadiba sudah selesai bekerja di rumah Noah dan ia ingin pulang ke rumahnya namun Noah mengatakan bahwa ia akan mengantarkan Nadiba pulang seperti yang sudah ia katakan di awal tadi sebelum Nadiba mulai bekerja, Nadiba tentu saja tidak dapat menolak hal tersebut dan membiarkan Noah mengantarkannya pulang. Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, Nadiba sama sekali tidak mengatakan apa pun pada Noah hingga akhirnya ia sampai di rumah dan ia begitu terkejut ketika rumah yang ia huni bersama keluarganya porak poranda, nampak Kusuma dan Darsih menangis di depan rumah. Buru-buru Nadiba turun dari dalam mobil dan menghampiri mereka berdua, ia bertanya apa yang terjadi saat ini.


“Tadi ada orang jahat yang datang ke sini dan merusak rumah ini, hiks,” isak Kusuma.


“Di mana om Rahmat dan juga Rama?” tanya Nadiba.


“Mereka membawa suamiku dan Rama,” jawab Darsih.


“Apa? Siapa orang jahat itu?”


“Kami tidak tahu Nadiba, tiba-tiba saja orang-orang itu datang dan memporak porandakan rumah, mereka mengambil suamiku dan Rama.”


“Ada apa ini? Kenapa rumah kalian berantakan begini?” tanya Noah yang baru saja turun dari mobil dan menghampiri mereka.


“Tadi kata ibu dan tanteku ada orang jahat yang datang dan membawa om Rahmat serta Rama pergi.”

__ADS_1


“Apa?!”


“Pak Noah, tolong kami, aku takut sesuatu hal yang buruk terjadi pada suamiku dan anaknya Nadiba, tolong kami,” pinta Darsih.


“Tentu saja aku akan menolong kalian, kalian jangan khawatir.”


****


Kusuma, Darsih dan Nadiba menunggu di rumah seperti yang Noah minta, sekarang mereka hanya dapat menanti kabar baik yang akan Noah berikan. Darsih dan Nadiba adalah yang paling sedih dan banyak berdoa semoga


saja Rahmat dan Rama bisa segera diselamatkan dan mereka bisa kembali dalam keadaan hidup.


“Semoga Pak Noah bisa menemukan mereka dan membawanya ke sini dalam keadaan masih hidup.”


“Amiin, kita hanya bisa berdoa saat ini.”


Hari sudah berganti dan semalaman mereka bertiga sama sekali tidak dapat tidur, Nadiba mengatakan bahwa ia akan pergi ke rumah Noah untuk menanyakan bagaimana kabar pencarian Rahmat dan Rama namun belum sempat Nadiba pergi ke rumah Noah, pria itu sudah terlebih dahulu menelponnya.


“Halo Nadiba.”


“Iya Pak Noah, bagaimana hasilnya?”


“Maaf, sampai saat ini aku belum bisa menemukan di mana keberadaan mereka.”


“Begitu rupanya.”


“Hari ini kamu tidak perlu datang untuk bekerja, istirahat saja di rumah.”


“Tapi Pak Noah ….”


“Saya tahu bahwa kamu tidak akan bisa bekerja dalam kondisi mood yang tidak baik seperti itu, maka tolong ikuti saja apa yang saya perintahkan.”


Setelah itu Noah menutup sambungan teleponnya, Darsih dan juga Kusuma segera bertanya pada Nadiba apa yang tadi Noah katakan padanya.


“Pak Noah bilang sampai saat ini mereka belum ditemukan dan ia memintaku untuk tidak pergi bekerja hari ini.”


****


Felix sudah bersiap dengan pakaian formalnya, ia segera keluar kamar dan bergegas untuk menuju kantor tempat di mana wawancara akan dilakukan. Noah yang melihat putranya berpakaian tidak seperti biasanya pun


terheran-heran mau pergi ke mana Felix saat ini.


“Kamu mau ke mana?”


“Aku ada wawancara di sebuah kantor.”


“Papa pikir kamu tidak mau bekerja ketika Papa menyuruhmu pulang ke Indonesia.”


“Aku memang berpikir seperti itu sebelumnya namun aku berubah pikiran karena ada sesuatu yang harus aku lakukan saat ini.”


Felix pun kemudian segera pergi dari rumah menuju sebuah kantor yang ada di kota, ia memarkirkan mobilnya dan menatap gedung yang menjulang tinggi di depannya dengan tangan yang terkepal kuat.

__ADS_1


“Mari kita mulai permainan ini.”


__ADS_2