Anugerah Cintamu

Anugerah Cintamu
Perasaanku


__ADS_3

Nadiba merasa bahwa Faruq bersikap agak aneh saat ini bagaimana tidak mantan suaminya ini secara mengejutkan menanyakan sesuatu hal yang menurutnya tidak patut ditanyakan dan menjurus ke arah masalah pribadi.


“Aku sudah mengatakan bahwa di antara aku dan pak Noah tidak ada hubungan yang lebih kecuali aku bekerja di rumahnya sebagai asisten rumah tangga.”


“Apakah dia menyukaimu?”


“Kamu ini kenapa menanyakan hal-hal tidak masuk akal begitu?”


“Mungkin ini hanya perasaanku saja, akan tetapi sepertinya pria itu menyukaimu.”


“Lantas kalau memang dia menyukaiku memangnya ada masalah?”


“Tentu saja ada masalah, kamu kan ibunya Rama!”


“Aku memang ibunya Rama namun statusku kini bukan lagi istrimu.”


Faruq terdiam mendengar ucapan Nadiba barusan, akan tetapi Faruq kemudian tetap mengatakan bahwa Nadiba jangan coba dekat-dekat dengan Noah karena ia takut kalau pria itu akan melakukan sesuatu hal yang buruk padanya.


“Pak Noah tidak bukanlah orang yang jahat, aku mengenal dia dengan baik.”


“Kamu membela pria itu?”


“Aku bukan membelanya, hanya saja aku mengatakan yang sejujurnya supaya kamu tidak salah paham padanya.”


Faruq nampak tak puas hati dengan ucapan Nadiba yang seperti berat sebelah itu, akan tetapi sebelum ia mendebat kembali Nadiba, Rama dan Kusuma sudha kembali ke ruangan inap ini hingga membuat obrolan mereka


berdua harus terhenti untuk sejenak.


“Kamu sudah makan, sayang?” tanya Nadiba pada Rama.


“Iya Bu, aku sudah makan,” jawab Rama.


“Rama, kamu ikut dengan ayahmu saja pulang, Ibu baik-baik saja di sini,” ujar Nadiba.


“Tidak mau, aku tidak mau pulang, aku mau pulang bersama ayah kalau Ibu sudah sembuh dan keluar dari rumah sakit ini,” ujar Rama.


“Rama begitu mencemaskanmu Nadiba, dia ingin berada di sampingmu jangan mengusirnya begitu,” ujar Faruq.


“Aku tidak mengusirnya, aku hanya tidak mau kalau dia nantinya akan bosan di rumah sakit untuk menungguiku lagi pula ada ibu yang akan menungguiku di sini.”


“Pokoknya aku tidak mau pergi dari sini, aku mau menemani Ibu.”


****

__ADS_1


Faruq dan Kusuma bicara di luar ruangan inap Nadiba, di sana Kusuma menceritakan bagaimana kronologi sampai Nadiba bisa mengalami kecelakaan. Hati Faruq begitu sakit saat mendengar Nadiba sudah dipermainkan


oleh seorang pria yang kurang ajar, rasanya Faruq saat ini hendak membalas perbuatan Felix akan tetapi Kusuma mengatakan bahwa Faruq jangan mencari masalah dengan pria itu.


“Kenapa Ibu malah membela pria itu? Bukankah dia telah menyakiti Nadiba hingga membuatnya masuk rumah sakit?”


“Iya, apa yang kamu katakan memang benar, akan tetapi kalau kamu hendak melakukan sesuatu hal yang buruk padanya maka Nadiba juga pasti tidak akan senang dengan hal itu kan?”


Faruq menghela napasnya panjang, ia kemudian tertarik dengan sosok Noah, ia kembali bertanya pada Kusuma mengenai ada hubungan apa antara Nadiba dan Noah.


“Pak Noah? Mereka memang dekat sekali.”


“Nadiba bilang kalau ia bekerja di rumah pria itu.”


“Apa yang Nadiba katakan benar adanya, dia memang bekerja di rumah pria itu.”


“Apakah pria itu menyukai Nadiba?”


“Dari mana kamu mengetahui hal itu?”


“Jadi itu benar?”


“Iya, itu memang benar, Nadiba pernah bercerita padaku sebelum ini.”


****


Prabu berusaha mencari cara supaya bisa mendapatkan cap jari Ledi agar rencananya mengambil alih perusahaan bisa terlaksana, akan tetapi rasanya sulit sekali ia untuk melakukan hal tersebut karena banyak sekali tantangannya. Akan tetapi karena ia sudah memiliki orang dalam yang bekerja di rumah itu, maka Prabu bisa dengan mudahnya untuk masuk ke dalam rumah dan menghampiri Ledi.


“Akhirnya tidak ada lagi pengacau di antara kita Ledi.”


Prabu pun tanpa membuang waktu langsung mengambil jari Ledi yang sebelumnya sudah penuh dengan tinta dan mencap di bagian kertas tersebut. Prabu nampak tersenyum lebar karena akhirnya rencananya berhasil juga.


“Akhirnya apa yang aku cita-citakan selama ini bisa terwujud juga.”


Ledi merasa marah dengan apa yang telah Prabu lakukan padanya akan tetapi Ledi tidak dapat melakukan apa-apa karena seluruh tubuhnya tidak dapat digerakan termasuk mulutnya. Ia hanya dapat menangis karena Prabu


pasti akan mencuri perusahaannya dan ia tidak dapat melakukan apa pun termasuk untuk memberitahu putrinya mengenai apa yang telah Prabu lakukan padanya tadi. Luna tiba di rumah ketika malam hari dan ia langsung pergi menuju kamar mamanya, Luna bertanya pada Ledi bagaimana kabar mamanya akan tetapi Ledi malah menangis dan Luna tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada sang mama.


“Mama ini kenapa?”


****


Noah kembali datang ke rumah sakit untuk menjenguk Nadiba akan tetapi di sana ia bertemu dengan Faruq yang kebetulan juga sedang menjaga Nadiba, mereka berdua sempat bertatapan sebelum akhirnya Faruq menyapa

__ADS_1


Noah dan mengajak pria itu untuk bicara sebentar dengannya.


“Jadi apa yang hendak kamu bicarakan denganku?”


“Baiklah, saya tidak akan basa-basi, saya harap anda akan mau menjawab pertanyaan saya, apakah anda menyukai Nadiba?”


“Kenapa kamu menanyakan hal seperti itu pada saya?”


“Jawab saja pertanyaan saya.”


Noah menghela napasnya panjang sebelum ia mengatakan dengan jujur memang menyukai Nadiba, sontak saja Faruq merasa kesal dan mengepalkan kedua tangannya, ia merasa cemburu dengan apa yang Noah katakan


barusan.


“Ada apa? Sepertinya kamu tidak suka ketika saya mengatakan itu.”


“Apa yang membuat anda jatuh cinta pada Nadiba?”


“Apakah hal seperti itu harus juga aku ceritakan padamu?”


“Iya, anda harus menceritakan semuanya padaku.”


Noah nampak tersenyum ketika mendengar ucapan Faruq barusan, Noah mengatakan bahwa seharusnya Faruq tidak perlu ikut campur mengenai masalah hubungan antara dirinya dengan Nadiba akan tetapi Faruq mengatakan bahwa ia berhak mengetahuinya.


“Apakah kamu masih mencintai Nadiba?” tanya Noah pada akhirnya.


****


Faruq menjawab pertanyaan yang Noah ajukan barusan tanpa ragu, Faruq mengatakan bahwa ia memang masih mencintai Nadiba dan ia tidak ingin sampai Noah mendapatkan Nadiba. Noah tentu saja tertawa mendengar


ucapan Faruq barusan sementara Faruq sendiri bingung kenapa Noah malah menertawakannya padahal menurutnya jawabannya barusan bukanlah sebuah jawaban


yang lucu.


“Kamu bilang masih mencintainya?”


“Iya, aku memang masih mencintainya.”


“Kalau memang kamu masih mencintainya maka bukankah seharusnya kamu tidka menceraikannya?”


“Saya memiliki alasan kenapa harus menceraikannya waktu itu.”


“Dan semua itu karena uang serta jabatan, begitu? Kamu seharusnya malu pada dirimu sendiri, bagaimana bisa ada orang sepertimu yang sudah membuang seseorang dan kemudian mengklaim bahwa orang itu milikmu lagi.”

__ADS_1


__ADS_2