
Nadiba merasa tidak enak sejujurnya jika harus kembali ke rumah Noah dan menumpang tinggal di rumah ini, akan tetapi dirinya tidak memiliki pilihan lain selain harus tinggal di sini karena memang mereka tidak memiliki tempat tinggal lain lagi. Noah dan Felix nampak sama sekali tidak keberatan jika Nadiba dan keluarganya menumpang tinggal di sini, malah mereka nampak senang karena rumah menjadi lebih ramai jika ada Kusuma dan Rama yang
ikut tinggal di sini.
“Bukankah ini jauh lebih baik, Nadiba? Kamu jadi tidak perlu jauh-jauh pulang pergi dari rumah kontrakan ke rumah ini untuk bekerja?” tanya Felix ketika Nadiba menyiapkan sarapan di dapur pagi ini.
“Tuan ….”
“Lagi pula tidak lama lagi kan kita akan menikah,” ujar Felix yang membuat Nadiba agak merona.
Felix yang melihat ekspresi dari Nadiba barusan nampak senang dan ia dengan sengaja menggoda Nadiba dengan mengatakan bahwa Nadiba sudah tidak sabar untuk menikah dengannya.
“Tuan Felix, bukankah lebih baik kita tidak membicarakan hal ini?”
“Kenapa memangnya? Apakah kamu tidak menyukainya?”
“Bukannya saya tidak suka, hanya saja…rasanya masih canggung saja jika membicarakan hal tersebut.”
Noah muncul di dapur dan menanyakan apakah semalam Nadiba tidur dengan nyenyak dan Nadiba menjawab bahwa ia tidur dengan nyenyak semalam, Noah pun ikut-ikutan menggoda bahwa ini adalah simulasi Nadiba untuk
memasak tiap pagi untuk Felix ketika mereka sudah menikah kelak.
“Pak Noah.”
“Kenapa? Apakah saya salah bicara? Lagi pula memang tidak lama lagi kan kamu dan Felix akan menikah.”
Akhirnya sarapan pun sudah dibuat dan Nadiba pun menyiapkan semua sarapan di atas meja makan, Rama dan Kusuma sudah bersiap untuk sarapan di meja makan begitu pula dengan Felix dan Noah.
“Ayo Nadiba, kenapa malah berdiri di sana? Kamu juga harus sarapan kan?” ujar Noah.
“Iya Pak Noah.”
__ADS_1
Nadiba pun duduk di kursi yang berada di sebelah Kusuma dan memulai menyantap sarapan paginya dengan agak canggung.
****
Hari pernikahan Nadiba dan Felix pun akhirnya tiba juga, Nadiba nampak tak menyangka bahwa hari pernikahannya dengan Felix sudah di depan mata. Selama beberapa pekan bersama Felix tinggal di rumah Noah membuat perlahan Nadiba dapat berbaur dengan calon suami dan mertuanya itu, Felix dan Noah memerlakukannya dengan baik dan hal tersebut membuat Nadiba tersentuh. Kabar baiknya setelah Nadiba dan keluarganya memutuskan pindah ke rumah Noah, maka tidak ada lagi teror yang menimpa keluarga mereka hingga hari ini di mana pernikahan antara Nadiba dan Felix akan berlangsung.
“Kamu nampak tegang sekali, Nak,” ujar Kusuma saat melihat Nadiba di ruang rias.
“Sejujurnya iya, Bu, aku tahu ini bukan yang pertama kali aku menikah tapi tetap saja aku tidak dapat memungkiri bahwa aku tegang sekali saat ini,” ujar Nadiba.
Kusuma menggenggam tangan Nadiba dengan lembut dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja, ia meminta Nadiba untuk tak perlu memikirkan apa pun di hari ini karena hari ini adalah hari yang berbahagia
untuknya.
“Kamu sudah melalui banyak sekali penderitaan dalam hidupmu dan sekarang saatnya kamu untuk bahagia, jadi tak perlu memikirkan apa pun sekarang.”
“Iya Bu, terima kasih banyak,” ujar Nadiba yang kemudian memeluk Kusuma dengan haru.
****
undangan yang terlihat dalam acara akad nikah itu antara lain Luna dan Faruq, keduanya memang Nadiba undang ke acara pernikahannya dengan Felix. Faruq sendiri nampak bergejolak batinnya saat melihat Nadiba menikah dengan Felix karena sejujurnya Faruq masih mencintai Nadiba akan tetapi ia tidak dapat memaksakan diri supaya Nadiba menerimanya. Faruq pada akhirnya harus merelakan wanita itu menikah dengan pria yang ia cintai dan Faruq pun ikut berbahagia untuk pernikahan keduanya.
“Selamat Nadiba, akhirnya kamu dapat menemukan kebahagiaanmu,” ujar Faruq saat menyalami Nadiba selepas acara akad nikah berlangsung.
“Terima kasih karena Mas Faruq sudah mau datang,” ujar Nadiba.
Luna pun ikut memberikan selamat pada Felix dan Nadiba, Luna nampak ikut bahagia ketika menyaksikan akad nikah Nadiba dan Felix, ia pun berharap bahwa kelak dirinya dan Faruq bisa kembali bersama seperti dulu.
“Aku harap kalian berdua selalu bahagia sampai maut memisahkan,” ujar Luna.
“Terima kasih banyak, aku harap kamu juga segera menemukan kebahagiaanmu,” ujar Nadiba.
__ADS_1
Luna hanya tersenyum menanggapi ucapan Nadiba barusan, selepas acara itu Luna dan Faruq memutuskan untuk pulang namun tentu saja tidak pulang ke kota karena jaraknya lumayan jauh dari sini.
****
Selepas pesta pernikahan yang dilangsungkan hari itu, Felix mengajak Nadiba untuk menghabiskan bulan madu mereka di sebuah hotel untuk beberapa hari ke depan sementara itu Kusuma dan Rama untuk sementara
waktu tinggal di rumah yang akan menjadi rumah di mana Nadiba dan Felix akan tinggal. Sesaat setelah Rama berangkat ke sekolah, ada seseorang yang muncul di gerbang dan tindak tanduknya sangat mencurigakan dari pengelihatan Kusuma, tentu saja Kusuma khawatir kalau orang itu ingin melakukan kejahatan padanya.
“Kenapa sepertinya orang itu begitu mencurigakan, ya?”
Tidak lama kemudian akhirnya orang yang memiliki sikap mencurigakan itu pergi meninggalkan rumah dan Kusuma dapat bernapas lega, untuk beberapa saat hingga akhirnya tiba waktunya untuk Rama pulang sekolah dan
Kusuma harus menjemput Rama ke sekolah untuk memastikan bahwa anak itu pulang dengan selamat dan tak terjadi apa pun padanya akan tetapi ketika Kusuma dalam perjalanan menuju sekolah Rama seseuatu hal yang buruk terjadi karena sebuah mobil berhenti tepat di sebelahnya dan ada orang yang tadi bersikap mencurigakan turun dari mobil itu kemudian meringkus Kusuma untuk masuk ke dalam.
“Kalian siapa? Lepaskan aku!”
“Diam kamu!”
Orang itu membawa masuk Kusuma yang masih melawan dan kemudian mobil pun melaju menuju sebuah bangunan tua yang terbengkalai. Letak bangunan itu sangatlah jauh dari permukiman warga sementara sepanjang perjalanan mulut dan tangan Kusuma dilakban dan diikat.
****
Rama merasa aneh ketika sampai di rumah, ia tidak menemukan neneknya dan rumah dalam keadaan terkunci hingga ia tak dapat masuk ke dalam rumah.
“Kok aneh sekali? Di mana nenek, ya?”
Rama mencoba menghubungi Kusuma lewat ponselnya namun sayangnya nomor Kusuma tidak aktif hingga Rama memutuskan untuk menelpon Nadiba untuk menanyakan barang kali ibunya itu tahu di mana neneknya berada.
“Ada apa Rama? Kenapa kamu menelpon?”
“Bu, apakah nenek ada di sana?”
__ADS_1
“Nenek? Dia tidak ada di sini, kenapa memangnya kamu bertanya seperti itu?”
“Di rumah ketika aku kembali dari sekolah nenek tidak ada, pintu rumahnya dikunci dan aku tidak dapat masuk ke dalam.”