Anugerah Cintamu

Anugerah Cintamu
Curiga Pada Seseorang


__ADS_3

Nadiba yang tengah bekerja di rumah Noah terkejut ketika mendapatkan berita kalau ibunya mengalami kecelakaan dan kini sedang mendapatkan perawatan di puskesmas desa, Nadiba kemudian memberitahu hal ini pada Felix dan mereka pun segera pergi ke puskesmas desa setempat di mana Kusuma tengah mendapatkan perawatan namun sayangnya justru saat mereka pergi ke sana, Nadiba tidak menemukan Kusuma dan menurut dokter yang berjaga di sana karena keterbatasan alat medis di puskesmas ini maka mereka merujuk Kusuma menuju rumah sakit umum daerah yang ada di kota. Nadiba dan Felix segera menuju rumah sakit umum daerah di kota, Nadiba nampak tegang sekali di dalam mobil sementara Felix berusaha untuk menenangkannya.


“Tenanglah Nadiba.”


“Iya Tuan.”


Walaupun Felix sudah berusaha untuk menenangkannya namun Nadiba masih saja merasa khawatir kalau kondisi ibunya sedang tidak baik-baik saja karena harus dirujuk ke rumah sakit umum daerah. Akhirnya setelah menempuh perjalanan ke kota, mereka tiba juga di rumah sakit itu dan Nadiba langsung bertanya pada petugas di pusat informasi mengenai ibunya.


“Terima kasih.”


Nadiba yang telah mendapatkan informasi mengenai di mana Kusuma dirawat saat ini, segera menuju ruangan inap Kusuma. Sesampinya ia di sana, ia langsung memeluk ibunya dengan haru.


“Ibu baik-baik saja kan?”


“Seperti yang kamu lihat, Nadiba. Menurutmu apakah Ibu baik-baik saja?”


Kusuma hanya mengalami luka di kepala namun untungnya tidak sampai merusak saraf yang ada di kepala ibunya namun karena luka tersebut kepala Kusuma harus diperban.


“Syukurlah kalau Ibu baik-baik saja, aku khawatir sekali saat di puskesmas dikatakan Ibu dirujuk ke rumah sakit umum daerah.”


“Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Bu Kusuma bisa seperti ini?” tanya Felix penasaran.


Kusuma pun menceritakan apa yang terjadi padanya sebelum ia tak sadarkan diri, Felix dan Nadiba menyimak dengan seksama cerita Kusuma tersebut hingga akhirnya mereka mengerti apa yang terjadi pada Kusuma.


“Apakah Ibu ingat mobilnya seperti apa?”


****


Kusuma sudah diizinkan pulang oleh dokter karena luka yang dialami oleh wanita itu tidaklah separah apa yang dibayangkan oleh Nadiba, kini mereka diantarkan pulang dengan menggunakan mobil Felix. Nadiba dan Kusuma


sangat berterima kasih pada Felix karena pria ini sudah mau mengantarkan mereka pulang.


“Tidak masalah Bu, Nadiba, kan rumah kita dekat.”


Ketika mereka turun dari mobil nampak Rama yang telah menunggu di depan rumah dan langsung menghampiri mereka.


“Nenek kenapa, Bu?”


“Nenek hanya jatuh tadi, kamu jangan khawatir,” ujar Kusuma.


“Iya Rama, kamu tak perlu khawatir karena Nenek baik-baik saja,” ujar Nadiba.


Akhirnya mereka masuk ke dalam rumah dan Felix pamit untuk pulang ke rumah, Felix juga mengatakan pada Nadiba untuk tidak perlu kembali bekerja lagi setelah ini.

__ADS_1


“Kamu menjaga ibumu saja.”


“Tapi Tuan Felix, pekerjaan saya kan belum selesai.”


“Tidak apa Nadiba, ibumu jauh lebih membutuhkanmu saat ini.”


“Terima kasih banyak, Tuan.”


Felix kemudian masuk ke dalam mobilnya sementara Nadiba mengantarnya sampai depan, setelah mobil Felix pergi kini Nadiba pun masuk ke dalam rumah untuk menemui Kusuma.


“Apakah Ibu memerlakukan sesuatu?”


“Tidak Nak, Ibu hanya ingin istirahat.”


“Kalau begitu, lebih baik Ibu istirahat saja sekarang.”


Kusuma kemudian pergi ke kamarnya untuk beristirahat sementara Nadiba sendiri menghela napasnya panjang, ia benar-benar penasaran siapa sebenarnya yang telah mencelakai ibunya.


****


Keesokan harinya Nadiba datang ke rumah Darsih untuk membawakan tantenya itu makanan yang ia buat, Darsih menyambutnya dengan ramah dan mempersilakan Nadiba untuk masuk ke dalam namun sebelum masuk ke dalam


nampak Nadiba memerhatikan mobil milik Nimas yang terparkir di halaman rumah.


“Oh tidak apa-apa Tante.”


“Kalau begitu, marilah masuk dulu.”


Nadiba pun kemudian melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah dan ketika ia tengah berbincang dengan Darsih mengenai kecelakaan yang menimpa Kusuma, Nimas muncul dari dalam rumah dan menatap


Nadiba tajam.


“Mau apa kamu datang ke rumah ini?”


“Nimas, Nadiba hanya mengantarkan makanan ini saja, dia tidak memiliki niat buruk jadi turunkan nada bicaramu.”


“Aku tak percaya kalau dia datang ke sini hanya untuk itu, dia pasti sengaja datang ke sini untuk menggoda Faruq.”


Nadiba nampak tak percaya dengan tuduhan yang ditunjukan oleh Nimas padanya, tentu saja Nadiba tak menerima itu dan mengatakan bahwa ia datang ke sini memang hanya untuk mengantarkan makanan ini untuk mereka.


“Ngomong-ngomong mobilmu kenapa ada yang penyok di sisi sebelah kanannya?”


“Apa maksudmu? Penyok apanya?”

__ADS_1


“Itu, aku melihat ada yang penyok,” tunjuk Nadiba pada bagian yang agak penyok pada mobil Nimas.


****


Nimas nampak kesal karena Nadiba menyinggung soal mobilnya yang penyok, ia justru menuduh kalau Nadiba yang sengaja merusak mobilnya. Tentu saja Nadiba menolak tuduhan itu dan Darsih pun juga membela Nadiba kalau keponakannya itu tidak bersalah.


“Kamu ini sebenarnya kenapa, Nimas?”


“Aku tidak apa-apa, kenapa Ibu menanyakan itu?”


“Karena Ibu merasa kalau ada sesuatu hal yang membuatmu tegang.”


“Tegang? Apa maksud Ibu aku tegang? Aku baik-baik saja.”


Nadiba kemudian berpamitan pada Darsih dan Nimas karena ia harus segera pergi bekerja di rumah Noah, barulah selepas Nadiba pergi itu Darsih menanyakan apakah Nimas mengetahui sesuatu mengenai kecelakaan yang menimpa Kusuma atau tidak.


“Kenapa Ibu malah menanyakan aku mengenai sesuatu hal yang tidak aku ketahui?!”


“Kenapa kamu malah menaikan nada bicaramu begitu, Nak?”


“Karena secara tidak langsung Ibu sudah menuduhku yang menjadi dalang kecelakaan ibunya Nadiba.”


Setelah mengatakan itu, Nimas langsung pergi begitu saja meninggalkan Darsih yang sebenarnya masih mau bicara dengan putrinya itu namun sayangnya Nimas sudah tidak mau melanjutkan pembicaraan ini dengannya.


“Ya Tuhan, semoga saja semua itu tidak benar, tidak mungkin kan kalau Nimas yang sengaja mencelakai kakakku sendiri?”


Darsih menggelengkan kepalanya, ia berusaha mengenyahkan pikiran buruk itu dari kepalanya sementara itu diam-diam Nimas mengintip dari balik dinding dan memerhatikan tingkah ibunya tersebut.


“Maafkan aku Bu, akan tetapi aku tidak memiliki pilihan lain.”


****


Nadiba sejujurnya tidak mau menuduh bahwa Nimas yang telah melakukan hal buruk pada ibunya namun entah kenapa dengan reaksi yang Nimas berikan padanya saat bertanya mengenai mobil yang penyok itu membuatnya agak curiga.


“Kamu kenapa, Nadiba?” tanya Noah.


“Pak Noah.”


“Aku dengar dari Felix kalau kemarin ibumu mengalami kecelakaan.”


“Iya Pak Noah, itu benar tapi sekarang beliau sudah ada di rumah.”


“Syukurlah kalau memang luka yang ia derita tidaklah parah.”

__ADS_1


“Pak Noah, apakah ada kamera CCTV di jalan dekat lokasi kejadian tempat ibuku mengalami kecelakaan?”


__ADS_2