
Nadiba nampak terkejut dengan apa yang ditanyakan oleh Kusuma, ia sama sekali tidak menyangka kalau Kusuma akan menanyakan hal tersebut.
“Kamu kenapa hanya diam saja, Nak?”
“Aku ….”
“Tidak apa, Nak, kamu bisa jujur pada Ibu.”
Nadiba nampak menghela napasnya panjang sebelum akhirnya ia memilih untuk jujur pada sang ibu mengenai apa yang ia rasakan pada Felix dan Kusuma pun mendengarkan penjelasan Nadiba itu tanpa berniat memotongnya sampai Nadiba benar-benar menyelesaikan ceritanya.
“Sudah Ibu duga kalau memang kamu masih mencintai tuan Felix.”
“Akan tetapi tuan Felix tidak mencintaiku juga, Bu. Aku memutuskan untuk mundur saja dari pada harus terluka lebih dalam lagi.”
Kusuma tentu saja merasa iba dengan apa yang dirasakan oleh Nadiba saat ini, ia tahu bahwa Nadiba sangat tersiksa dengan perasaannya yang mencintai orang yang tak mencintainya padahal ada dua orang lain yang
tengah memperebutkannya.
“Ibu tidak dapat melakukan apa pun untuk masalah yang sedang kamu hadapi saat ini, Nak, akan tetapi Ibu berharap kalau kamu memiliki solusi dari masalah yang tengah kamu hadapi saat ini.”
“Terima kasih karena Ibu mau mendengrkan keluh kesahku.”
“Tidak masalah, Nak.”
Akhirnya Nadiba bisa merasa lega juga setelah ia bercerita pada sang ibu, ia beruntung karena memiliki seorang ibu seperti Kusuma yang benar-benar pengertian. Hingga akhirnya pagi hari pun menjelang dan Nadiba sudah kembali bersiap untuk bekerja di rumah Noah.
“Kamu yakin cukup tidur semalam? Apakah tidak sebaiknya kamu izin saja tidak masuk kerja pada pak Noah? Ibu yakin kalau pak Noah pasti akan mengizinkan itu.”
“Aku tahu kalau pak Noah pasti akan mengizinkan, akan tetapi aku tidak mau melakukannya karena tidak enak padanya, pak Noah sudah terlalu baik pada kita.”
“Baiklah, terserah saja apa yang menjadi keputusanmu akan tetapi kalau memang kamu tidak sehat alangkah jauh lebih baiknya kamu segera pulang saja dan tak memaksakan diri untuk tetap bekerja.”
“Aku akan mengingat nasihat Ibu barusan, aku pergi dulu.”
****
Noah menyambut Nadiba pagi ini dan ia mempersilakan Nadiba untuk masuk, Nadiba masih teringat bagaimana respon Felix atas apa yang ia tunjukan pada pria itu malam itu. Noah mengatakan pada Nadiba bahwa Felix
sedang tidak ada di rumah saat ini dan hal tersebut membuat Nadiba cukup lega.
“Dia sedang menemui kekasihnya itu.”
“Dia menemuinya?”
__ADS_1
“Iya, saya tidak tahu apa yang akan mereka bahas.”
Nadiba menganggukan kepalanya dan bersiap untuk melakukan pekerjaannya, Noah merasa bahwa Nadiba sepertinya kurang ridur karena Nadiba seperti tidak fokus bekerja dan nyaris saja ia jatuh ke lantai akibat menabrak
ember berisi air cucian pel.
“Nadiba, kamu baik-baik saja?”
“Saya baik-baik saja Pak Noah, maaf karena telah membuat kekacauan di rumah ini akan tetapi saya akan segera membersihkan ini.”
“Tidak perlu Nadiba, sepertinya kalau saya perhatikan kamu sekarang sedang kurang sehat, ya?”
“Saya sehat Pak Noah.”
“Tidak Nadiba, saya yakin kalau kamu sedang tidak baik-baik saja, lebih baik kamu pulang saja sekarang.”
“Saya baik-baik saja Pak Noah.”
“Tidak Nadiba, kamu sedang tidak baik-baik saja, percayalah saya tahu apa yang sedang kamu rasakan saat ini.”
Nadiba terdiam mendengar ucapan Noah barusan, ia merasa terharu karena Noah begitu perhatian padanya akan tetapi ia tak dapat membalas perasaan Noah.
“Saya minta maaf Pak Noah.”
****
Nadiba.
“Kenapa Mas ada di sini?”
“Kamu tidak baik-baik saja Nadiba, apa yang terjadi padamu? Apakah pria ini berbuat sesuatu hal yang buruk padamu?”
“Tidak Mas, ini bukan karena pak Noah.”
“Nadiba begini karena anak saya.”
Faruq nampak terkejut dengan ucapan Noah barusan, Nadiba pun meminta supaya Noah untuk tidak mengatakan hal tersebut pada Faruq akan tetapi Noah tetap saja memberitahunya pada Faruq dengan harapan pria ini akan
kecewa karena Nadiba ternyata masih mencintai Felix.
“Dia seperti ini karena Felix, asal kamu tahu saja Nadiba itu mencintai anak saya.”
“Tidak mungkin apa yang dia katakan kan, Nadiba?”
__ADS_1
“Pak Noah tolong jangan membuat situasi semakin panas seperti ini.”
“Siapa yang membuat situasi semakin panas, Nadiba? Saya hanya ingin memberitahu mantan suamimu ini supaya tidak berharap lebih padamu karena kalau berharap lebih maka jatuhnya akan sakit sekali.”
“Nadiba, tolong katakan apa yang dia katakan itu tidak benar kan?”
“Nadiba, jangan tutupi apa pun dari mantan suamimu ini, katakan saja yang sebenarnya.”
****
Faruq memaksa Nadiba mengatakan semuanya dan pada akhirnya Nadiba memutuskan untuk jujur pada Faruq bahwa ia memang memiliki rasa pada Felix, tentu saja hati Faruq hancur dengan kenyataan yang harus ia dapatkan
secara langsung dari mulut Nadiba. Noah sendiri nampak begitu puas dengan ekspresi yang ditunjukan oleh Faruq, ia yakin bahwa setelah ini maka Faruq tidak akan lagi mengusik Nadiba.
“Mas Faruq sudah mendengar jawabannya kan? Sekarang tolong biarkan aku pergi.”
“Tidak Nadiba, semua yang kamu katakan itu pasti tidak benar kan? Apa yang sudah dia perintahkan padamu sampai kamu tega menipuku begini?”
“Saya sama sekali tidak menyuruh Nadiba berbohong asal kamu tahu saja, Nadiba mengatakan yang sejujurnya mengenai perasaannya pada anakku.”
“Tidak, semua ini tidak benar!”
“Mau kamu berteriak sekalipun semua tidak akan berubah, Nadiba tetap mencintai anakku dan kamu jangan pernah berharap akan mendapatkan Nadiba kembali.”
Faruq nampak tak percaya dengan semua yang dikatakan oleh Noah, ia meminta supaya Nadiba mengatakan bahwa semua itu bohong akan tetapi tentu saja Nadiba tak melakukan itu karena apa yang Noah katakan itu
memang benar adanya.
“Nadiba memilih untuk diam maka kamu harus menerima kenyataan pahit ini.”
Noah pun kemudian membawa Nadiba masuk ke dalam mobilnya, Faruq nampak berusaha menahan Nadiba supaya tidak masuk ke dalam mobil namun Noah mendorong Faruq hingga pria itu terjatuh dan Nadiba bisa masuk
ke dalam mobil.
****
Noah mengantarkan Nadiba pulang ke rumahnya, ketika sudah sampai di depan rumah, Nadiba berterima kasih pada Noah karena sudah mau mengantarkannya pulang, ketika Nadiba hendak turun dari dalam mobilnya, Noah menahan tangan Nadiba supaya Nadiba tidak pergi terlebih dahulu.
“Saya minta maaf karena sudah mengatakan itu pada mantan suamimu, akan tetapi saya mengatakan itu supaya mantan suamimu itu tidak mengganggumu lagi.”
“Tidak apa Pak Noah, apa yang Pak Noah katakan itu memang benar tadi.”
“Saya benar-benar minta maaf.”
__ADS_1
“Saya permisi dulu.”