
Nadiba mengatakan pada Felix bahwa ia tidak memiliki pilihan lain selain tinggal di sini, ketika Felix menawarkan untuk pindah ke rumah yang lebih layak Nadiba menolak dengan alasan rumah ini sudah lebih dari cukup maka Felix pun tidak dapat memaksa Nadiba untuk mau menerima saran darinya.
“Baiklah kalau memang maumu seperti itu, maka aku tidak akan dapat memaksa.”
“Terima kasih banyak karena Tuan Felix mau memahami apa yang saya inginkan.”
“Kalau begitu, aku permisi dulu.”
“Iya Tuan, hati-hati di jalan.”
Nadiba mengantarkan Felix sampai ke depan tempat di mana Felix memarkirkan mobilnya, Felix nampak melambaikan tangannya pada Nadiba sebelum ia masuk ke dalam mobilnya dan Nadiba membalas lambaian tangan tersebut. Mobil yang Felix kemudikan sudah pergi meninggalkan rumah dan Nadiba hendak masuk ke dalam rumah namum tiba-tiba saja pemilik rumah kontrakan memanggilnya.
“Ada apa, Bu?”
“Siapa pria itu? Sepertinya kamu dekat sekali dengan dia, ya? Apakah dia itu orang kaya?”
“Saya bekerja di rumahnya, Bu.”
“Benarkah? Kok kalau dia hanya majikanmu sepertinya dia sangat baik padamu, sih? Pasti ada sesuatu hal yang tengah kamu sembunyikan dariku, ya? Apakah sebenarnya kamu ini perusak rumah tangga orang?”
“Anda jangan bicara sembarangan, ya. Saya bukan wanita seperti itu.”
“Kok kamu jadi malah marah padaku, sih?”
“Tentu saja saya marah karena anda sudah menuduh saya yang bukan-bukan.”
“Kalau memang kamu tidak seperti itu, maka seharusnya kamu tidak perlu marah kan?”
Nadiba menghela napasnya, ia pun segera pamit untuk masuk ke dalam rumah mengabaikan wanita pemilik rumah kontrakan yang memakinya dengan kata-kata tidak sopan.
“Nadiba.”
“Ibu belum tidur?”
“Belum, apa yang barusan terjadi, Nak?”
“Bukan apa-apa, Bu. Ibu tak perlu risau.”
“Kamu yakin, Nak?”
“Tentu saja, Bu.”
Kusuma pun menganggukan kepalanya dan Nadiba mengajak ibunya itu untuk masuk kembali ke dalam kamar karena memang hari sudah sangat malam.
****
__ADS_1
Keesokan harinya Nadiba pergi bekerja seperti biasa ke rumah Noah, akan tetapi sesuatu hal yang tidak terduga malah terjadi saat ia masuk ke dalam rumah itu, Felix melamarnya untuk mau menikah dengannya di depan
Noah dan Thalia. Nadiba sendiri nampak terkejut karena semua ini begitu mendadak untuknya dan ia sama sekali tidak ada persiapan ketika Felix melakukan ini.
“Kok kamu hanya diam saja, Nadiba? Apakah kamu berubah pikiran?”
“Tidak Tuan, hanya saja… ini mendadak sekali, saya tidak menyangka kalau anda akan melamar saya di depan kedua orang tua anda.”
“Kan sudah aku bilang padamu bahwa setelah aku kembali dari Australia maka aku akan melamarmu, apakah kamu melupakan itu?”
“Nadiba, jadi bagaimana? Kamu mau kan menikah dengan Felix?” tanya Thalia.
“Jangan buat kami semua kecewa, Nadiba,” ujar Noah.
Nadiba kemudian menganggukan kepalanya tanda ia setuju untuk menikah dengan Felix dan tentu saja jawaban dari Nadiba itu disambut oleh kebahagiaan Felix dan kedua orang tuanya. Thalia memeluk Nadiba dan mengatakan
bahwa ia yakin Nadiba akan menjadi seorang istri yang baik untuk putranya.
“Nyonya ….”
“Tolong kamu maklumi dia kalau kadang-kadang dia suka beriskap kekanakan, ya?”
“Mama, jangan mengatakan hal yang aneh tentangku di depan Nadiba,” keluh Felix.
“Memangnya kenapa? Mama kan hanya mengatakan yang sejujurnya pada Nadiba supaya nanti dia tidak terkejut melihat sikap aslimu.”
****
“Iya, saya akan mencobanya.”
“Kamu tak perlu bicara terlalu formal begitu, Nadiba,” ujar Noah.
“Apa yang papaku katakan benar, kamu jangan bicara terlalu formal begitu,” ujar Felix.
“Maaf, soalnya ini sudah menjadi kebiasaan.”
“Kalau begitu kamu pasti dapat mengubah kebiasaan itu kan?”
“Iya, saya akan mencobanya.”
Noah dan Felix kemudian membicarakan soal kemungkinan rumah yang akan Felix dan Nadiba tinggali namun Nadiba seperti kurang menyimak pembicaraan keduanya hingga Thalia menegur Nadiba dan membuatnya terkejut.
“Nadiba, sepertinya ada sesuatu yang kamu pikirkan sejak tadi, ya?”
“Nyonya ….”
__ADS_1
“Apa yang sebenarnya sedang kamu pikirkan, Nadiba?”
“Anu… saya memikirkan soal ibu saya, kalau nanti saya menikah maka saya khawatir kalau ibu akan tinggal sendirian.”
“Oh soal itu, kamu tak perlu khawatir karena ibumu dapat tinggal bersama kita,” ujar Felix.
“Apakah Tuan sama sekali tidak keberatan untuk hal itu?”
“Tentu saja tidak, aku tahu bahwa kamu ingin menjadi anak yang berbakti untuk orang tuamu maka aku sama sekali tidak keberatan untuk itu.”
****
Kusuma tengah menjemur pakaian di depan halaman rumah ketika pemilik rumah kontrakan mendatanginya dan mengeluhkan sikap Nadiba yang kurang ajar padanya kemarin, Kusuma meminta maaf atas sikap Nadiba kemarin dan meminta untuk pemilik rumah kontrakan tidak mengambil hati dengan sikap Nadiba.
“Anakmu itu pasti seorang wanita perusak rumah tangga orang kan?”
“Apa maksud anda?”
“Iya, kemarin dia membawa pria asing masuk ke dalam rumah dan sepertinya hubungan mereka tak biasa sekali.”
“Tolong anda jangan bicara sembarangan, putri saya bukan seperti apa yang anda tuduhkan barusan.”
“Reaksimu sama persis dengan Nadiba, kalian sama-sama marah ketika aku mengatakan bahwa anakmu itu adalah perusak rumah tangga orang, jangan-jangan kamu tahu bahwa anakmu itu melakukan tindakan mengerikan seperti itu namun kamu membiarkannya karena kalian tidak memiliki cukup uang? Ya Tuhan, kasihan sekali kalian.”
Kusuma nampak kesal dengan ucapan pemilik rumah kontrakan barusan, akan tetapi ia tak mau terlalu mengambil pusing ucapannya dan segera masuk ke dalam rumah walaupun pemilik rumah kontrakan memanggilnya
untuk kembali.
“Astaga, kelakuan dia dan putrinya itu sama saja, sama-sama menyebalkannya.”
Kusuma masuk ke dalam rumah untuk meredakan emosinya, ia tak menyangka putrinya akan diejek dan dihina seperti itu oleh pemilik rumah kontrakan ini.
****
Nadiba pulang lebih awal namun ia tidak pulang sendirian melainkan bersama dengan Felix yang mengantarkannya, Kusuma nampak terkejut ketika Nadiba sudah pulang jam segini apalagi ia datang bersama dengan Felix dan kedua orang tuanya.
“Nak, ada apa ini? Kenapa jam segini sudah pulang?”
“Begini Bu, Tuan Felix ingin mengatakan sesuatu pada Ibu.”
“Apa?”
“Iya Bu Kusuma, alasan saya datang ke sini adalah ingin melamar Nadiba secara resmi di depan anda untuk menjadi calon istri saya.”
Kusuma nampak terkejut dengan ucapan Felix barusan, ia meyakinkan dirinya bahwa ini bukanlah mimpi dan Nadiba mengatakan bahwa ini bukanlah mimpi melainkan kenyataan.
__ADS_1
“Jadi apakah Bu Kusuma memberikan saya izin untuk menikahi putri anda?”
“Saya akan menyerahkan semua keputusan pada Nadiba karena dia yang akan menjalaninya.”