
Noah dipaksa untuk turun dari dalam mobilnya oleh orang tak dikenal ini namun ia tak mau melakukannya karena merasa dalam bahaya yang luar biasa jika ia berani turun, ia kemudian mencoba menelpon Felix namun
sebelum ia berhasil melakukan itu, kaca mobilnya sudah dipecah dari luar oleh orang tersebut hingga ponselnya bisa diambil dan dibuang begitu saja.
“Sudah aku bilang keluar kamu!”
Tangan orang tersebut berhasil meraih baju yang Noah kenakan dan memaksa supaya Noah membukakan pintu mobilnya namun Noah tak mau melakukan itu, ia malah melajukan mobilnya menabrak sepeda motor yang
menghadang jalannya. Tidak tinggal diam kedua orang itu mengejar mobil Noah dengan kecepatan tinggi dan kembali mengeluarkan tembakan peringatan ke arah mobil Noah namun hal tersebut tidak berhasil membuat Noah berhenti malah ia mengarahkan mobilnya menuju kantor polisi yang mana orang yang mengejarnya itu tidak mau berurusan dengan polisi maka mereka berdua langsung putar arah.
“Akhirnya aku berhasil melarikan diri dari mereka.”
Polisi yang berjaga di pos nampak terkejut melihat keadaan Noah yang bersimbah darah akibat terkena pecahan kaca mobilnya, polisi membawa Noah menuju rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan selanjutnya. Ketika itu polisi memberitahu keluarga Noah apa yang terjadi paada pria itu, Felix yang menerima kabar bahwa papanya mengalami hal buruk pun segera menuju rumah sakit untuk melihat bagaimana kondisi Noah saat ini.
“Papa.”
“Felix.”
Felix langsung menghampiri papanya yang tengah terbaring di ranjang rumah sakit, ia bertanya pada Noah apa yang sebenarnya terjadi dan kenapa papanya bisa berakhir di rumah sakit ini. Noah menceritakan semua yang ia alami tadi dan kenapa dirinya bisa berakhir di rumah sakit ini. Felix tentu saja yang mendengar cerita sang papa terkejut bukan main karena rupanya ada orang yang sengaja ingin berbuat jahat pada papanya.
“Kira-kira siapa orang itu, ya?”
“Papa juga tidak tahu akan tetapi mereka pasti orang suruhan.”
****
Nadiba terkejut mendapati berita di televisi ketika menayangkan berita mengenai Noah yang dikeroyok orang tak dikenal semalam, Nadiba hendak pergi ke rumah Noah untuk menanyakan apakah hal tersebut benar
atau tidak akan tetapi sebelum ia pergi, Felix sudah memberikannya kabar bahwa Nadiba tidak perlu datang bekerja hari ini karena papanya dan dirinya tengah berada di rumah sakit.
“Tuan Felix, di rumah sakit mana?”
Felix pun segera memeberitahu Nadiba di mana lokasi rumah sakit ini dan Nadiba yang tahu di mana lokasi rumah sakit tersebut segera pergi ke sana setelah sebelumnya ia berpamitan pada Kusuma dan ibunya itu meminta Nadiba membawakan sedikit buah tangan untuk Noah yang sedang sakit.
“Hati-hati di jalan, Nak.”
__ADS_1
“Iya Bu, Ibu sendiri juga hati-hati, kalau ada sesuatu maka segera kabari aku.”
“Iya Nak.”
Nadiba pun segera pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Noah, sepanjang perjalanan menuju rumah sakit dirinya bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada Noah. Akan tetapi dirinya berharap kalau kondisi Noah
akan semakin membaik dan pria itu dapat diizinkan pulang oleh dokter. Akhirnya Nadiba pun tiba di rumah sakit tempat di mana Noah dirawat, di depan rumah sakit itu sudah banyak sekali wartawan yang berkumpul karena mereka ingin mencari tahu seperti apa kondisi Noah terkini.
****
Nadiba akhirnya tiba di ruangan inap Noah, Felix nampak tak percaya kalau Nadiba akan datang ke rumah sakit ini.
“Kamu baik-baik saja kan? Apa media menanyakan sesuatu padamu?”
“Tidak Tuan, sepertinya mereka tidak mengenaliku.”
“Syukurlah kalau begitu, apakah di rumah kami juga ada awak media?”
“Iya Tuan, mereka juga ada di sana.”
“Semoga saja begitu, Pa. Sejujurnya aku tidak suka jika kita diliput oleh media.”
Nadiba kemudian bertanya apa yang sebenarnya terjadi pada Noah, Noah pun kemudian menceritakan pada Nadiba apa yang terjadi padanya tadi malam dan kenapa ia bisa berakhir di rumah sakit ini. Nadiba yang mendengar cerita Noah nampak menutup mulutnya tak percaya dengan yang Noah alami, akan tetapi untungnya saja nyawa Noah tidak terenggut akibat ulah orang-orang tersebut.
“Lalu apa yang akan Papa lakukan selepas ini?”
“Yang jelas Papa akan mencari tahu siapa yang menyuruh orang-orang tersebut mencelakai Papa.”
“Pasti mereka menolak kan?”
“Iya, Papa sudah tahu bahwa mereka pasti akan menolak memberitahu Papa siapa yang paling bertanggung jawab atas kejadian ini namun Papa yakin akan dapat mengungkap siapa pelakunya.”
****
Nimas diam-diam menerima telepon dari orang suruhannya yang mana mereka tidak berhasil membunuh Noah karena pria itu melarikan diri ke kantor polisi. Nimas tentu saja geram dengan orang suruhannya yang tidak becus
__ADS_1
dalam menjalankan aksinya.
“Kalian bodoh sekali!”
“Kami sudah mencoba sebisa mungkin untuk melakukan seperti apa yang anda suruh, akan tetapi rupanya tidkalah mudah untuk mengalahkan si tua bangka itu.”
“Aku kan sudah menyuruh kalian membunuhnya, apakah itu adalah sebuah hal yang berat untuk kalian lakukan?!”
“Maaf, akan tetapi kami telah mencobanya.”
Nimas merasa jengkel dengan alasan yang dibuat oleh orang suruhannya ini, ia menganggap bahwa orang suruhannya hanya mencari alasan saja karena jika Noah selamat dari insiden ini maka ia pasti akan mencari tahu
siapa dalang di balik orang yang menyuruhnya melakukan hal buruk kemarin.
“Pokoknya awas saja kalau kalian berani buka mulut atas apa yang telah kalian lakukan pada pria itu!”
“Kami sudah berjanji tidak akan membuka mulut kami pada anda, maka anda jangan khawatir.”
Nimas nampak tak bisa terlalu percaya dengan yang dikatakan oleh orang suruhannya ini karena ia yakin sekali bahwa mereka tidak dapat dipegang kata-katanya.
“Baiklah kalau memang begitu, akan tetapi kalian berdua awas saja sampai buka mulut dan menyeretku ke dalam masalah ini!”
****
Nimas baru saja selesai bertelpon dan berbalik badan, ia terkejut menemukan Faruq tengah berdiri di belakangnya dan menatapnya penuh kecurigaan. Nimas sendiri nampak berusaha tenang dan tak membuat curiga Faruq.
“Apa yang kamu lakukan di sini?”
“Kamu baru bertelepon dengan siapa?”
“Dengan temanku.”
Akan tetapi Faruq tak memercayai apa yang Nimas katakan barusan, karena ia hampir mendengar semua percakapan wanita ini dengan orang yang berteleponnya tadi. Nimas sendiri berusaha mengatakan bahwa ia sama
sekali tidak berbohong namun Faruq tetap tak percaya, ia memilih untuk diam dan tak mengatakan apa apun, Faruq malah hendak masuk kembali ke dalam rumah namun Nimas menahannya.
__ADS_1
“Tolong kamu percaya padaku.”