Anugerah Cintamu

Anugerah Cintamu
Konflik Rumah Tangga


__ADS_3

Nadiba terjatuh dalam dekapan Noah dan tentu saja Nadiba langsung buru-buru membenarkan posisi berdirinya sekaligus meminta maaf pada majikannya ini karena ia merasa sudah berbuat sesuatu hal yang tidak sepatutnya.


“Kenapa kamu meminta maaf padahal kamu tidak melakukan kesalahan apa pun.”


“Namun tadi saya jatuh dalam pelukan Pak Noah, saya merasa itu sesuatu hal yang salah.”


“Kalau ada seseorang yang seharusnya meminta maaf itu adalah saya karena tadi saya memanggil kamu dan membuatmu terkejut hingga terjatuh.”


“Tadi Pak Noah kenapa memanggil saya?”


“Oh, begini kemarin kita tidak memiliki waktu banyak untuk bercerita, aku penasaran dengan kisah hidupmu.”


“Apa?”


“Maaf kalau aku ingin mengetahui sesuatu hal yang akan privasi, tetapi aku tidak bermaksud buruk dengan mengulik informasi pribadi darimu.”


“Saya tahu maksud Pak Noah, saya seorang janda dan memiliki seorang anak yang kini berusia 10 tahun.”


“Oh begitu rupanya, apakah mantan suamimu sudah meninggal dunia?”


“Tidak, kami bercerai karena dia memilih wanita lain.”


“Aku minta maaf karena tidak tahu soal itu.”


“Tidak apa Pak, lagi pula saya sama sekali tidak masalah kalau harus membagikan hal tersebut karena menurut saya kegagalan dalam berumah tangga bukanlah sebuah aib yang harus ditutupi.”


“Kalau begitu saya pergi dulu, kamu lanjutkan saja pekerjaanmu.”


“Baik Pak.”


Noah kemudian pergi meninggalkan Nadiba yang kemudian wanita itu mulai kembali mengerjakan pekerjaannya yang tadi sempat tertunda akibat Noah datang. Nadiba melakukan pekerjaannya dengan baik dan cekatan


hingga Noah kagum padanya, pria itu masih diam-diam memperhatikan Nadiba dari


jauh hingga akhirnya saat jam bekerjanya usai dan Nadiba pun pamit untuk pulang ke rumah.


“Saya permisi dulu Pak.”


“Iya, terima kasih atas kerja kerasmu hari ini.”


Nadiba sudah hendak pergi keluar rumah namun Noah tiba-tiba saja memanggilnya dan mengatakan bahwa ia akan memberikan sesuatu pada Nadiba.


“Kamu tunggu sebentar di situ.”


Noah kemudian masuk ke dalam sebuah ruangan dan mengambil sesuatu dari dalam sana, setelahnya ia membawakan sebuah plastik yang berisi makanan untuk dibawa pulang oleh Nadiba.


“Kamu bisa bawa pulang ini.”


“Pak, anda tidak perlu melakukan ini.”


“Sudah ambil saja, untuk anakmu makan malam.”


“Terima kasih banyak, Pak.”


****

__ADS_1


Sementara itu di sisi lain nampak Luna kesal sekali karena sikap Faruq padanya belakangan ini berubah, sikap Faruq sama sekali berbanding terbalik dengan sikap Faruq sebelum mereka menikah yang mana pria


itu begitu romantis dan perhatian.


“Sepertinya kamu sedang kesal saat ini,” ujar Ledi menghampiri putrinya yang sedang duduk di taman belakang rumah.


“Begitulah.”


“Apakah ini menyangkut soal suamimu?”


“Iya, itu benar.”


“Bukankah sudah Mama katakan bahwa dia itu bukanlah pria yang baik? Tetapi kamu masih saja memaksa supaya menikah dengannya.”


“Ini semua karena mantan istri dan anaknya yang terus mengganggunya.”


“Apakah kamu yakin kalau dia benar-benar mencintaimu?”


“Tentu saja aku yakin kalau Faruq mencintaiku.”


“Kalau memang dia benar-benar mencintaimu maka bukankah harusnya dia meletakan mantan istrinya di masa lalu dan tidak teringat lagi padanya?”


“Mama ini kenapa malah mempengaruhiku begini?”


“Mama hanya berusaha mengingatkanmu saja kalau apa yang kamu lakukan saat ini akan menyakiti dirimu saja, saran dari Mama bercerai saja dengannya.”


“Aku sudah melalui banyak rintangan dan halangan untuk menikah dengan Faruq namun dengan entengnya Mama malah menyarankanku untuk bercerai dengannya?!”


“Mama tidak ingin kamu menyiksa dirimu seperti ini, Luna.”


Luna kemudian pergi meninggalkan sang mama masuk ke dalam rumah, ia benar-benar tidak habis pikir dengan saran yang diberikan oleh mamanya barusan.


“Sampai kapan pun, aku tidak akan berpisah dengan Faruq, tidak akan.”


****


Luna masuk ke dalam kamar dan mendapati Faruq sedang memandangi foto mantan istri dan anaknya dari ponsel dan kali ini Faruq tertangkap basah oleh Luna hingga Faruq tidak dapat berkelit lagi.


“Apa ini?”


“Berikan ponselnya padaku!”


“Kamu masih memandangi foto Nadiba dan anakmu? Lalu aku ini apa untukmu, Faruq?!”


“Berikan ponselku!” seru Faruq yang langsung mengambil ponselnya dari tangan Luna.


Pria itu mengatakan pada Luna untuk jangan berpikiran buruk hanya karena ia memandangi foto Nadiba dan Rama, Luna yang mendengar itu tentu saja kesal bukan main.


“Kamu memintaku untuk jangan berpikiran buruk namun sikapmu padaku benar-benar berubah setelah kita menikah Faruq, apa yang sebenarnya terjadi padamu?!”


“Aku baik-baik saja, justru sikapmu yang setelah kita menikah semakin posesif dan membuatku menjadi tidak nyaman.”


“Apa katamu? Wajar kalau aku jadi posesif begini karena aku mencintaimu dan sekarang kamu adalah suamiku, kamu pikir baik-baik mana ada istri yang baik-baik saja saat melihat suaminya menatap foto wanita


lain apalagi wanita itu adalah masa lalunya!”

__ADS_1


Faruq enggan berdebat lebih panjang dengan Luna dan ia memilih untuk keluar dari dalam kamar mereka, ia mengabaikan teriakan Luna yang memintanya untuk tetap berada di sini.


“AAAAA.”


****


Nadiba kembali ke rumah dan disambut oleh Kusuma, ibunya itu nampak heran ketika Nadiba pulang dengan membawa buah tangan, ia bertanya pada putrinya itu siapa orang yang membawakan buah tangan ini padanya.


“Pak Noah yang membawakan ini untukku, katanya ini untuk makan malam Rama.”


“Ya Tuhan, baik sekali majikanmu itu.”


Nadiba kemudian masuk ke dalam rumah dan memberikan makanan yang diberikan oleh Noah pada Rama, tentu saja anak itu bahagia mendapatkan makan malam yang enak malam ini tetapi tentu saja ia tidak mau


makan itu sendirian.


“Ibu makanlah denganku.”


“Ibu sudah makan tadi sayang, itu memang untukmu.”


Setelah mengatakan itu Nadiba pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti pakaian, setelahnya ia berada di dalam kamarnya memikirkan apa yang tadi terjadi di rumah Noah.


“Ya ampun, kenapa aku malah memikirkan hal itu?”


Nadiba menggelengkan kepalanya dan ia bersiap untuk tidur lebih awal karena memang ia lelah sekali setelah seharian ini bekerja di rumah Noah, ketika ia hendak tidur, pintu kamarnya diketuk dari luar dan muncul


sosok ibunya dari balik pintu.


“Apakah kamu sudah mau tidur?”


“Kenapa Ibu datang ke sini?”


****


Nadiba hari ini kembali bekerja di rumah Noah namun ada yang berbeda ketika Nadiba tiba di rumah itu karena Noah sudah bersiap di depan rumah dan sepertinya pria itu akan pergi.


“Nadiba untungnya saja kamu sudah datang sebelum aku pergi.”


“Pak Noah mau ke mana?”


“Aku ingin menjemput anakku di bandara, ini kunci rumahnya.”


“Baik Pak.”


“Kamu juga tolong bersihkan sekali lagi kamar yang ada di lantai dua paling pojok karena itu adalah kamarnya, aku ingin dia nyaman tinggal di kamar itu.”


“Baik Pak.”


“Kalau begitu aku jalan dulu.”


“Hati-hati di jalan, Pak.”


Noah masuk ke dalam mobilnya dan mobil tersebut melaju meninggalkan rumah tersebut, Nadiba mulai melakukan pekerjaannya di rumah itu hingga tidak terasa akhirnya hari sudah siang dan tiba-tiba saja ponselnya


berdering menandakan ada panggilan masuk, buru-buru Nadiba meraih ponselnya untuk melihat siapa orang yang menelponnya saat ini dan ia terkejut karena orang yang menelponnya saat ini adalah Faruq.

__ADS_1


“Mau apa dia menelponku saat ini?”


__ADS_2