Anugerah Cintamu

Anugerah Cintamu
Nasib Baik yang Berpihak


__ADS_3

Nadiba kini dalam posisi yang sama sekali tidak menguntungkannya, ia sudah berhasil ditangkap oleh dua orang yang waktu itu pernah mencoba melakukan kejahatan padanya namun saat itu ada Noah yang membantunya kali ini belum tentu ada orang yang akan membantunya.


“Kali ini kamu tidak akan selamat!”


“Tolong!”


“Berisik!”


Kedua orang itu membawa Nadiba menuju rumah kosong dan mengikatnya di sebuah kursi, Nadiba berusaha berontak dan ia mendapatkan tamparan di wajah karena mencoba melawan kedua orang itu.


“Maka dari itu duduk manis diam-diam dan jangan banyak bertingkah, cantik.”


Nadiba tidak sudi wajahnya dipegang oleh tangan kotor pria itu, hingga ia berusaha melepaskan tangan pria itu dari wajahnya, sikap penolakan yang dilakukan oleh Nadiba rupanya membuat orang itu geram dan menarik dagu Nadiba supaya menengok ke arahnya.


“Kamu ingin bermain-main dengan kami, hah?!”


Nadiba meludahi wajah pria itu dan membuat pria itu semakin geram dengan tingkah Nadiba yang dirasa menantangnya.


“Aku sudah hilang kesabaran, segera kita habisi saja dia.”


“Baiklah, aku juga sudah sangat tidak sabar untuk itu!”


Nadiba panik ketika kedua orang itu mendekatinya, ia ingin melarikan diri namun ia sudah diikat di kursi ini dan tidak ada seorang pun yang menolongnya.


“Kali ini tidak akan ada yang menolongmu!”


Dagu Nadiba ditarik paksa oleh pria yang tadi menyentuh wajahnya kini pria itu berusaha untuk mencium bibir Nadiba namun Nadiba terus melakukan perlawanan, sementara orang yang lain berusaha membuka


pakaian yang Nadiba kenakan saat ini.


“Semakin kamu melawan maka semakin aku tertantang untuk mendapatkanmu,” seringai orang itu.


Nadiba masih tidak mau diam dan akhirnya ia dipaksa untuk berciuman dengan seseorang yang sama sekali tidak ia inginkan, sementara orang yang tadi mencoba membuka pakaiannya sudah hampir berhasil andai saja tidak ada


suara dari depan pintu itu.


“Apa yang kalian hendak lakukan pada wanita itu?”


Kedua orang yang nyaris melecehkan Nadiba itu kembali menggeram kesal karena rencana mereka tidak kunjung berhasil.


“Siapa kamu?! Berani sekali mengganggu kesenangan kami!”


****


Lagi-lagi Nadiba selamat dari kedua orang jahat yang mencoba untuk melecehkannya itu namun ia mengalami trauma akibat itu, orang yang menyelamatkannya itu tidak lain adalah Felix, ia tadi secara tidak sengaja sedang melewati jalan di depan rumah kosong dan ia mendengar ada suara gaduh dari dalam sana yang membuatnya penasaran, ia pun pergi ke sana untuk memastikan suara apa itu dan alangkah terkejutnya ia ketika menemukan Nadiba hendak dilecehkan oleh orang itu.


“Kamu tidak apa-apa?”


Nadiba menganggukan kepalanya, ia masih shock dengan kejadian yang baru saja menimpanya, Felix kemudian mengantarkan Nadiba pulang ke rumah, sesampainya di rumah Kusuma nampak terkejut dengan keadaan putrinya.


“Ya Tuhan, apa yang terjadi pada putriku?”

__ADS_1


“Dia nyaris menjadi korban pelecehan seksual oleh pemuda desa sebelah andai saja aku tidak datang menolong.”


“Oh ya ampun, terima kasih banyak Tuan karena anda sudah menolong Nadiba.”


“Tidak masalah, saya permisi dulu.”


Felix pun pergi dari rumah tersebut sementara Kusuma membawa Nadiba masuk ke dalam rumah, Kusuma tidak mau menanyakan lebih banyak mengenai hal buruk apa yang barusan Nadiba alami karena dari raut wajahnya saja


Nadiba masih sangat shock.


“Istirahatlah, Nak.”


“Terima kasih, Bu.”


****


Darsih yang mendengar cerita Kusuma mengenai Nadiba yang hampir mengalami pelecehan seksual tentu saja terkejut namun ia bersyukur karena keponakannya itu tidak sampai benar-benar dilecehkan, mereka pun juga


dapat bernapas lega karena pemuda kampung itu juga sudah diserahkan pada polisi hingga mereka tidak akan mungkin lagi melakukan kejahatan pada Nadiba.


“Siapa orang yang mengantarkan Nadiba pulang ke rumah?”


“Aku sih tidak tahu siapa dia.”


“Laki-laki?”


“Iya, laki-laki.”


“Aku tidak tahu pokoknya dia baik sekali karena mau mengantarkan Nadiba pulang dan membuat pemuda nakal itu diproses secara hukum oleh polisi.”


Rama pulang ke rumah, ia bertanya pada neneknya apakah Nadiba sudah pulang saat ini dan Kusuma mengatakan bahwa Nadiba memang sudah pulang akan tetapi Rama lebih baik tidak menemui ibunya itu dulu sekarang.


“Kenapa memangnya, Nek?”


“Ibumu saat ini sedang tidak enak badan, malam ini kamu tidur dengan Nenek dulu, ya?”


“Ibu sakit? Aku mau melihat keadaannya.”


Rama buru-buru pergi ke kamarnya dan Nadiba untuk melihat kondisi ibunya tanpa dapat dicegah oleh Kusuma.


“Bu.”


“Rama sudah pulang?”


“Kata nenek saat ini Ibu sedang sakit, ya?”


“Ibu baik-baik saja, Nak.”


“Ibu jangan sakit kalau Ibu sakit nanti Ibu akan meninggalkan Rama.”


“Tidak, Ibu tidak akan meninggalkan Rama, Ibu baik-baik saja, Nak.”

__ADS_1


****


Noah yang mendengar soal berita soal Nadiba yang kembali hendak menjadi korban pelecehan seksual lagi segera mendatangi rumahnya untuk mengetahui bagaimana kondisi Nadiba terkini.


“Pak Noah? Silakan masuk,” ujar Kusuma mempersilakan Noah masuk ke dalam rumah.


“Terima kasih banyak, aku dengar kemarin ada sesuatu hal yang nyaris membuat Nadiba celaka,” ujar Noah.


“Begitulah Pak, kemarin dia hampir mengalami pelecehan seksual, sekarang dia masih trauma.”


“Iya anakku sudah menceritakannya kemarin.”


“Jadi yang kemarin itu anak anda?”


“Iya, itu anak saya, memangnya ada apa?”


“Oh tidak, pantas saja sepertinya wajahnya familiar, rupanya pria itu anak anda.”


Mereka sempat berbincang sebentar sebelum Noah mengatakan kalau ia menitipkan pesan pada Kusuma bahwa Nadiba bisa bekerja kembali setelah traumanya pulih, ia tidak akan memaksa supaya Nadiba segera


bekerja.


“Kalau memang butuh bantuan profesional, aku akan mengantarkannya ke kota untuk mendapatkan pengobatan terbaik.”


“Ah terima kasih banyak atas kebaikan hati anda Pak Noah.”


“Saya ada memiliki sedikit untuk Nadiba.”


“Eh tidak perlu Pak.”


“Sudah Bu, terima saja.”


Akhirnya Kusuma pun menerima amplop tersebut dari Noah, ia sekali lagi berterima kasih pada Noah karena mau repot-repot datang ke sini dan bahkan memberikan amplop pada mereka.


“Ya Tuhan, baik sekali pria itu.”


“Ada apa ini?” tanya Darsih.


“Barusan Pak Noah datang untuk menyampaikan pesan untuk Nadiba, dia juga memberikan ini,” ujar Kusuma memperlihatkan amplop yang barusan Noah berikan padanya.


****


Diam-diam Faruq mencari tahu di mana keberadaan Nadiba sekarang, setelah melakukan penelusuran diam-diam akhirnya Faruq mengetahui bahwa Nadiba berada di kota kelahiran Kusuma, saat ini adalah hari libur dan Luna masih tidur, kesempatannya untuk pergi ke sana terbuka lebar, ia sudah memesan tiket pesawat untuk pergi pagi ini, sebelum Luna bangun ia sudah pergi dari rumah dan tiba di bandara, semenjak keluar dari rumah ia sudah mematikan ponselnya supaya Luna tidak dapat menghubunginya.


“Maafkan aku Luna, namun aku ingin menghabiskan waktu dengan mereka,” lirih Faruq sebelum ia naik ke pesawat.


Luna yang baru saja bangun tidur nampak terkejut ketika tidak menemukan suaminya di sampingnya.


“Faruq, kamu di mana?”


Luna mencari ke semua sudut kamar namun ia tidak menemukan Faruq, ketika turun ke lantai bawah pun ia juga tidak menemukan suaminya itu.

__ADS_1


“Dia pergi ke mana?!”


__ADS_2