
Nadiba akhirnya mendatangi alamat yang Felix berikan padanya karena ia sendiri merasa penasaran dengan apa yang ingin Felix sampaikan padanya. Nadiba sama sekali tidak menaruh curiga sedikit pun pada pria itu karena ia yakin kalau sikap Felix sudah berubah dan pria itu tidak akan mngkin menyakitinya. Kini akhirnya Nadiba sampai juga di sebuah restoran tempat di mana ia dan Felix sudah janjian untuk bertemu, Felix nampak
melambaikan tangan pada Nadiba yang baru saja tiba, Nadiba pun kemudian menuju meja di mana Felix berada.
“Terima kasih karena kamu sudah mau datang ke sini, Nadiba.”
“Tuan Felix, kenapa anda mengajak saya datang ke tempat ini?”
“Karena ada sesuatu yang sangat ingin aku katakan padamu.”
“Apa itu?”
“Aku menyukaimu Nadiba.”
“Apa?”
“Apakah kamu tidak merasakan kalau sikapku belakangan ini padamu berubah?”
“Iya, saya merasakan itu tapi ….”
“Kenapa? Kamu terkejut mendengar pengakuan ini?”
Nadiba menganggukan kepalanya karena merasa bahwa ini seperti tidak pernah ia rencanakan sebelumnya, Felix nampak tersenyum dan mengatakan bahwa ia dapat memaklumi kalau Nadiba saat ini bingung dengan
pernyataan cintanya.
“Aku tidak akan memaksamu untuk menerima cintaku hanya saja aku ingin mengutarakan semuanya sebelum terlambat.”
“Kalau saya boleh tahu sejak kapan Tuan Felix menyimpan perasan itu pada saya?”
“Sejak kapan, ya? Mungkin sejak aku melihatmu hendak dilecehkan oleh para pemuda desa waktu itu dan puncaknya adalah saat pak Rahmat meninggal dunia dan kamu sedang ada di pemakaman, waktu itu kamu sedang
disakiti oleh anak-anak dari mendiang pak Rahmat dan di situ aku baru menyadari kalau aku menyukaimu.”
Nadiba nampak terdiam karena terkejut dengan pengakuan pria ini yang tiba-tiba, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini.
“Tolong setelah aku mengatakan ini padamu jangan merasa canggung denganku apalagi berhenti bekerja di rumah.”
“Tuan Felix saya ….”
“Aku tidak memaksamu untuk menerima cintaku, aku hanya ingin kamu mengetahui apa yang aku rasakan, itu saja.”
****
Nadiba pulang ke rumah dengan perasaan berkecamuk, ia masih memikirkan apa yang dikatakan oleh Felix padanya dan ia masih bingung apa yang harus ia lakukan untuk menanggapi pernyataan cinta Felix itu.
“Nak, kamu dari mana? Kok jam segini baru pulang?”
“Apa? Oh tadi aku baru pergi ke suatu tempat.”
“Ke suatu tempat? Dengan siapa?”
__ADS_1
“Tuan Felix, Bu.”
“Tuan Felix? Untuk apa dia mengajakmu pergi? Dia tidak melakukan hal yang buruk padamu kan?”
“Tidak, sama sekali tidak kok.”
“Lalu kalau memang begitu kenapa raut wajahmu begini?”
Nadiba nampak bingung apakah harus menceritakan pada Kusuma mengenai apa yang barusan terjadi di antara dirinya dan Felix namun Nadiba memutuskan untuk tidak menceritakan ini pada Kusuma dan lebih memilih
untuk beristirahat saja di dalam kamarnya. Ketika sudah sampai di dalam kamar Nadiba duduk di tepi ranjang dan bayang-bayang percakapan antara dirinya dan Felix di restoran tadi masih saja terbayang-bayang dalam benaknya.
“Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan saat ini?”
Nadiba kemudian memutuskan untuk tidur saja berharap setelah tidur maka ia bisa merasa jauh lebih baik dari pada yang saat ini ia tengah rasakan namun kenyataannya justru sebaliknya, ia tidak dapat memejamkan
mata karena memikirkan ucapan Felix tersebut.
“Ya Tuhan, tolong aku ingin tidur malam ini.”
****
Semakin hari Faruq memperhatikan kalau memang Luna tidak memiliki maksud buruk apalagi niat untuk mencelakai Rama hingga Faruq bisa sedikit tenang setelah melihat kedekatan keduanya. Lagi-lagi menjelang
kepulangan Rama ke desa, anak itu mengatakan ingin tinggal di sini bersama Faruq dan Luna namun Faruq mengatakan bahwa ia tidak bisa mengabulkan hal tersebut.
“Kenapa tidak, Ayah?”
“Tapi Ayah aku kan ingin tetap di sini bersama kalian.”
“Lalu kalau kamu di sini bersama kami, siapa yang akan menjaga ibu? Bukankah Ayah sebelumnya pernah berpesan padamu untuk menjaga ibu?”
Rama nampak sedih ketika sang ayah tetap tidak mengizinkannya untuk tinggal di sini padahal Luna sudah sangat setuju kalau Rama tinggal di sini, Luna pun mengajak Faruq untuk bicara sebentar agak jauh dari Rama. Kini mereka berdua ada di halaman belakang rumah untuk bicara dan Luna langsung meminta supaya Faruq tidak membawa Rama kembali ke desa.
“Kenapa begitu? Bukankah kamu seharusnya senang karena masa liburan anakku tinggal sebentar lagi dan ia akan kembali pulang?”
“Aku menyayangi Rama, Faruq. Aku tidak bisa berpisah dengannya.”
“Luna ….”
“Selama dia tinggal di sini dan kamu bisa melihat sendiri bagaimana sikapku padanya, apakah selama ini aku menyakitinya atau tidak, kamu bisa melihat dan menilai sendiri betapa aku menyayangi dia dengan
tulus kan?”
****
Faruq dan Rama akhirnya tiba di desa tempat Nadiba dan Kusuma tinggal sebelumnya Nadiba sudah menginformasikan pada Faruq bahwa saat ini mereka sudah pindah rumah ke rumah baru ini dan memberikan alamatnya supaya nanti Faruq tidak nyasar ketika mengantar Rama kembali ke sini.
“Rama, cucuku.”
Kusuma nampak langsung memeluk cucunya dengan erat, ia sangat merindukan Rama selama cucunya ini tidak berada di sini.
__ADS_1
“Aku merindukanmu, apakah kamu merindukan Nenek?”
“Iya Nek, aku juga merindukan Nenek.”
“Oh ya ampun, cucuku. Apakah selama di sana dia berbuat nakal?”
“Sama sekali tidak, dia tidak nakal dan menjadi anak yang baik,” jawab Faruq.
“Syukurlah kalau begitu, masuklah dulu, aku akan buatkan minuman untukmu.”
Kusuma kemudian pergi ke dapur untuk membuatkan mantan menantunya itu minum sementara setelah kembali ke ruang tamu, Rama langsung bertanya di mana Nadiba saat ini.
“Ibu? Dia sedang bekerja sekarang, memangnya ada apa sayang? Kamu merindukannya?”
“Aku ingin bicara dengan ibu, Nek. Ada sesuatu yang ingin aku katakan.”
“Mengenai apa itu?”
“Aku ingin tinggal bersama ayah di kota lagi, Nek.”
“Apa katamu?!”
“Iya aku sudah mengatakannya pada ayah dan sekarang ayah memintaku untuk bicara pada ibu supaya aku mendapatkan izin tinggal di sana.”
****
Nadiba akhirnya pulang juga dan ia langsung memeluk Rama dengan erat, ia benar-benar merindukan anaknya ini dan berterima kasih pada Faruq karena sudah membawa kembali Rama dengan baik tanpa ada luka sedikit
pun.
“Maaf kalau selama dia ikut denganmu menyusahkan.”
“Sama sekali tidak Nadiba, justru Rama anak yang baik dan penurut, dia sama sekali tidak membuat masalah apa pun.”
“Syukurlah kalau begitu.”
“Ibu aku ingin mengatakan sesuatu pada Ibu.”
“Ada apa, Nak?”
“Aku ingin ikut ayah dan sekolah di sana, boleh kan?”
Nadiba tentu saja terkejut dengan yang dikatakan oleh Rama barusan, ia kemudian menatap Faruq untuk meminta penjelasan dari mantan suaminya ini.
“Rama, kamu masuk dulu, Ayah dan Ibu ingin bicara.”
“Baik Ayah.”
Rama kemudian masuk ke dalam dan kini Nadiba langsung meminta penjelasan pada mantan suaminya ini kenapa Rama mengatakan hal itu padanya.
“Sebenarnya ….”
__ADS_1