
Prabu nampak menyeringai pada Ledi yang tak berdaya di tempat tidur sementara kini Prabu berjalan masuk ke dalam ruangan inap Ledi yang kebetulan sedang tidak ada siapa pun di sana.
“Senang akhirnya kita bertemu lagi, Ledi.”
Ledi tak dapat berbicara ataupun menggerakan seluruh anggota tubuhnya namun dari tatapan matanya yang tajam, Ledi menunjukan ketidak sukaannya dengan kehadiran Prabu di ruangan inapnya.
“Kenapa menatapku begitu? Mana suara lantangmu yang menghinaku dulu?”
Prabu merasa puas dengan keadaan Ledi saat ini, mantan istrinya itu kini telah tak berdaya akibat obat yang sengaja ia berikan untuk melumpuhkan semua saraf milik mantan istrinya ini.
“Kamu benar Ledi, bahwa aku adalah dalang di balik semua kejadian ini.”
Ledi berusaha mengatakan sesuatu namun tak bisa pun dengan ia yang mencoba untuk menggerakan seluruh anggota tubuhnya namun juga tak bisa.
“Percuma saja kamu melakukan itu karena kamu tak akan bisa melakukannya, nikmati masa sakitmu, Ledi.”
Ledi merasa telah direndahkan oleh Prabu, ia bersumpah akan membuat mantan suaminya ini membayar atas apa yang telah ia perbuat padanya kini.
“Alasan kenapa aku datang ke sini adalah untuk membuatmu menandatangani sesuatu.”
Prabu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya yaitu surat pemindahan kepemilikan perusahaan padanya, Prabu kini sudah benar-benar merasa di atas angin dan ia selangkah lagi bisa merebut perusahaan Ledi kembali
padanya.
“Namun karena kamu tak bisa menandatangani surat ini, maka cap jarimu saja cukup di sini.”
Prabu juga sudah menyiapkan alat untuk mengecap jari Ledi pada surat tersebut, Ledi berusaha sekuat tenaga melawan namun seluruh tubuhnya tak dapat untuk digerakan.
“Percuma saja kamu melawan.”
Prabu kemudian segera mengambil jari Ledi dan menekannya pada tinta stempel sebelum ia kemudian hendak membuat jari Ledi yang sudah terkena tinta itu ditaruh di lembar penandatanganan.
“Apa yang sedang Papa lakukan di sini?”
Prabu terkejut karena aksinya dipergoki oleh Luna yang tiba-tiba saja muncul tanpa ia duga sebelumnya.
****
Luna datang tepat waktu saat Prabu sedikit lagi berhasil menjalankan rencananya membuat perusahaan kembali padanya, karena sudah tertangkap basah maka Prabu pun segera melarikan diri. Luna berusaha mengejar
papanya namun ia mengurungkan niat tersebut dan kembali masuk ke dalam ruangan inap mamanya.
“Mama baik-baik saja kan?”
Ledi tak bisa berkata-kata namun ia menangis dan membuat Luna ikut panik dengan apa yang sebenarnya barusan hendak papanya itu lakukan pada mamanya.
“Aku tak akan membiarkan papa lolos begitu saja.”
__ADS_1
Sementara itu Prabu berpapasan dengan Faruq yang hendak menjenguk mama mertuanya di koridor rumah sakit, Faruq sempat menyapa sang papa mertua namun sepertinya sang papa mertua tak mendengarnya dan pergi
begitu saja dari rumah sakit ini.
“Apa yang sebenarnya terjadi padanya?”
Faruq menggelengkan kepalanya dan kemudian melanjutkan langkah kakinya menuju ruangan inap Ledi, di sana ia menemukan Luna tengah menjaga mamanya.
“Faruq.”
“Bagaimana keadaan mama?”
“Begitulah, apakah tadi kamu sempat berpapasan dengan papa?”
“Iya, tadi kami sempat berpapasan di koridor hanya saja papa sepertinya terburu-buru hingga tak menyadari sapaanku.”
“Dia barusan sepertinya hendak melakukan hal yang buruk pada mama.”
“Bagaimana bisa kamu mengatakan itu Luna?”
“Lihat ini,” ujar Luna menunjukan jari Ledi yang ada tintanya.
“Tinta?”
“Iya sepertinya papaku hendak melakukan sesuatu pada mama dan aku merasa kalau ini berhubungan dengan surat penting.”
****
“Kamu?”
“Lama kita tak berjumpa kan?”
“Jadi kamu yang mengajakku untuk melakukan wawancara?”
“Begitulah, aku mendapatkan tugas ini dari kantor.”
Noah kemudian melakukan tugasnya sebagai seorang wartawan senior dengan melakukan wawancara dengan wanita ini, mereka berdua berusaha untuk profesional walaupun tidaklah mudah karena bayang-bayang yang pernah terjadi di antara mereka menghantui saat ini.
“Terima kasih karena kamu sudah mau melakukan wawancara denganku.”
“Jadi kamu masih aktif menjadi seorang wartawan?”
“Kenapa memangnya?”
“Tidak, hanya saja aku kagum padamu.”
Noah nampak tersenyum kecil mendapatkan pujian dari wanita ini, Noah pun bertanya apakah wanita ini tahu kalau anaknya bekerja di perusahaannya dan tentu saja wanita ini mengatakan bahwa ia sama sekali tak
__ADS_1
tahu akan hal itu.
“Apa katamu? Anakmu bekerja di perusahaanku?”
“Iya, akan tetapi aku tak bisa mengatakan siapa dirinya padamu.”
****
Nadiba kembali bekerja di rumah Noah keesokan harinya, ia disambut oleh Noah pagi itu, Nadiba menyapa Noah sebentar sebelum pamit untuk melakukan pekerjaannya hari ini. Akan tetapi tiba-tiba saja Noah mengikutinya
hingga membuat Nadiba merasa terkejut.
“Ada apa, Pak Noah?”
“Nadiba ada sesuatu yang sebenarnya ingin saya katakan padamu.”
“Mengenai apa, Pak?”
“Saya ingin mengatakan kejujuran bahwa sebenarnya saya menyukai kamu.”
Nadiba nampak terkejut bukan main dengan apa yang Noah katakan barusan, ia menggelengkan kepalanya tanda tak percaya dan menganggap bahwa Noah saat ini hanya sedang bercanda saja.
“Pak Noah, tolong hentikan ini sama sekali tidak lucu.”
“Apakah kamu bisa melihat wajahku saat ini? Kamu bisa lihat sendiri kan apakah aku memang benar-benar serius atau tidak.”
Nadiba merasa kalau raut wajah Noah saat ini benar-benar serius saat ini hingga rasanya mustahil sekali kalau Noah tidak serius ketika mengatakan hal tersebut padanya.
“Tapi Pak Noah ….”
“Saya tak peduli dengan kamu yang sekarang menjadi pacarnya Felix, saya harus mendapatkan kamu!”
Noah mendorong Nadiba hingga terjatuh ke lantai dan ia menindih wanita itu, Nadiba tentu saja panik dengan yang Noah lakukan ini padanya.
“Apa yang Pak Noah lakukan?!”
****
Noah terbangun dari tidurnya rupanya yang barusan itu hanya mimpi saja, ia bersyukur karena rupanya itu adalah sesuatu hal yang tidak nyata karena ia takut kalau telah menyakiti Nadiba dengan apa yang ia lakukan dalam
mimpinya.
“Ya Tuhan, kenapa aku bisa memimpikan hal seperti itu?”
Noah menggelengkan kepalanya tanda ia tak mengerti kenapa harus mimpi seperti itu yang mampir ke dalam alam bawah sadarnya, ia melihat saat ini masih jam 2 pagi dan ia pun mencoba untuk melanjutkan tidur akan tetapi sayangnya ia tak bisa melakukan hal itu karena kedua matanya tak bisa terpejam.
“Ya Tuhan, ada apa denganku ini?”
__ADS_1