Anugerah Cintamu

Anugerah Cintamu
Permintaan Pria Terkasih


__ADS_3

Nadiba nampak tersipu dengan pertanyaan yang diajukan oleh Felix barusan namun ia menguatkan diri untuk tidak terperdaya dengan semua ucapan manis oleh pria ini mengingat Felix dulu pernah menyakiti hatinya.


Nadiba tentu saja ingin menikah dengan pria yang ia cintai yaitu Felix namun sekarang ia tak mau terburu-buru dalam mengambil keputusan, ia ingin hubungannya dengan Felix berjalan mengalir saja tanpa adanya paksaan di antara mereka berdua.


“Saya permisi dulu Tuan.”


“Baiklah, selamat malam.”


“Selamat malam.”


Nadiba pergi ke kamarnya dan Kusuma setelah menyelesaikan pekerjaannya, ketika sudah sampai di dalam kamar nampak Kusuma sudah tertidur sementara Nadiba masih duduk di tepian kasur sambil memikirkan


apa yang Felix katakan padanya barusan di dapur. Tentu saja Nadiba bahagia bukan main ketika mendengar Felix ingin menikahinya namun ia tak mau terlalu memikirkan hal tersebut sekarang.


“Lebih baik aku tidur saja.”


Nadiba pun segera tidur karena dirinya sudah lelah bekerja seharian dan keesokan paginya ia nampak masih belum menyadari kalau sekarang mereka semua sudah pindah ke rumah Noah.


“Kamu kenapa panik sekali?” tanya Kusuma.


“Bu, aku harus pergi bekerja sekarang ke rumah pak Noah, kenapa tidak membangunkanku?”


“Ini kan rumah pak Noah.”


“Apa?”


Nadiba baru menyadari kalau saat ini mereka sudah tinggal di rumah Noah dan ia jadi malu sendiri karena belum mengingat apa yang kemarin terjadi. Kusuma hanya menggelengkan kepalanya dan kemudian Nadiba bertanya


bagaimana soal sarapan dan Kusuma mengatakan kalau ia yang sudah menyiapkan sarapan untuk Noah dan Felix.


“Terima kasih banyak Bu.”


“Tidak masalah, sudah sana kamu siap-siap.”


Nadiba kemudian segera mandi dan berganti pakaian sebelum melakukan pekerjaannya di rumah ini namun ketika melintasi meja makan, Noah memanggilnya untuk ikut makan bersamanya dengan Felix.


“Maaf?”


“Kamu makanlah bersama kami, ajak juga ibumu dan Rama,” ujar Noah.


Nadiba awalnya menolak tawaran baik Noah itu namun pada akhirnya Nadiba tidak dapat menolaknya dan mau duduk juga di kursi meja makan dengan Noah dan Felix.


****


Selepas selesai sarapan, Nadiba dan Kusuma mencuci piring kotor yang tadi mereka gunakan saat sarapan pagi, Nadiba meminta Kusuma untuk tidak membantunya namun Kusuma tetap tak mau melakukan itu karena dirinya


merasa tidak enak jika tidak mengerjakan apa pun saat ini.


“Ibu masih cukup tahu diri untuk bagaimana bersikap di rumah ini.”

__ADS_1


“Kalian sedang membicarakan apa?” tanya Noah yang menghampiri mereka dan membuat Nadiba dan Kusuma terkejut.


“Bukan apa-apa, Pak Noah,” jawab Nadiba.


“Apakah tadi malam tidurnya nyenyak?”


“Iya Pak.”


Setelah selesai mencuci piring Nadiba hendak melanjutkan pekerjaannya namun Noah menahannya dan mengatakan ingin bicara dengan Nadiba.


“Pak Noah ingin mengatakan apa?”


“Apakah kamu suka tinggal di rumah ini?”


“Saya ….”


“Saya senang kalau kamu suka tinggal di rumah ini, kehadiranmu di rumah ini membuat Felix bahagia sekali namun kalau memang kamu tidak nyaman karena menumpang di rumah saya, saya sudah menyiapkan sebuah rumah kontrakan baru untuk kalian.”


“Itu jauh lebih baik Pak.”


“Maksudnya yang mana?”


“Saya lebih merasa nyaman kalau kami tinggal di rumah kontrakan, itu maksud saya.”


“Memangnya kenapa kalau kamu tinggal di rumah ini? Bukankah seharusnya kamu bahagia karena setiap hari dapat bertemu dengan Felix?”


****


menghalanginya.


“Kamu pikir mau pergi ke mana?”


“Tentu saja aku akan pergi dari desa ini, menyingkir sekarang juga.”


“Sayangnya aku tidak akan menyingkir, apakah kamu sudah lupa bahwa kamu tidak boleh pergi dari desa ini?”


“Dan apakah kamu lupa perjanjian kita? Sebelumnya kita sudah pernah membuat janji bahwa kalau kamu tidak dapat membuatku tertarik padamu maka kamu harus membiarkan aku pergi.”


“Tidak bisa begitu, maksudku… aku kan belum selesai.”


“Semua sudah berakhir, aku tidak tertarik padamu dan aku membuktikan ucapanku bahwa aku tidak menyukaimu jadi tolong menyingkir dariku.”


Namun tentu saja Nimas tidak mau menyingkir dan memberikan jalan untuk Faruq, ia justru menarik tengkuk pria itu dan mencium bibir Faruq dengan cepat. Faruq sendiri nampak terkejut dengan apa yang Nimas


lakukan ini dan sontak saja mendorong Nimas menjauh darinya.


“Apa yang sebenarnya kamu lakukan ini?”


“Tentu saja membuatmu jatuh cinta padaku, memangnya apa lagi?”

__ADS_1


“Apakah menurutmu dengan cara seperti itu justru akan membuatku jatuh cinta padamu?!”


“Tentu saja, tidak ada pria yang dapat menolak pesonaku.”


Faruq nampak jijik dengan kepercayaan diri Nimas barusan, alih-alih merasa bergairah justru Faruq malah makin muak dengan Nimas dan tetap memilih untuk pergi.


****


Kabar bahwa Nadiba memilih untuk pindah ke rumah kontrakan baru dari pada tetap tinggal di rumah ini akhirnya sampai juga ke telinga Felix, pria itu langsung menghampiri Nadiba dan meminta Nadiba untuk bicara sebentar dengannya.


“Nadiba, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu.”


“Ada apa Tuan Felix?”


“Aku dengar dari papaku bahwa kamu memilih untuk pergi dari rumah ini, kenapa?”


“Karena saya merasa tidak enak menumpang tinggal di rumah ini.”


“Benarkah? Bukan ada alasan yang lain? Apakah kamu tidak menyukaiku lagi?”


“Bukan seperti itu Tuan Felix, saya bukan tidak menyukai Tuan Felix lagi hanya saja saya tidak mau anda dan pak Noah terlibat masalah karena sudah menampungku.”


“Masalah? Tidak akan ada masalah jika kamu tetap memilih untuk tinggal di sini, justru aku dan papa bahagia kalau kalian tetap tinggal di sini.”


“Tapi Tuan ….”


“Tolong Nadiba, kamu jangan memilih untuk pergi dari sini,” ujar Felix yang menggenggam tangan Nadiba dan apa yang Felix lakukan ini membuat Nadiba terkejut.


“Tuan Felix ….”


“Apa yang harus aku lakukan supaya kamu tetap memilih untuk tinggal di sini?”


“Tuan Felix tolong jangan berlebihan seperti ini.”


“Aku akan melakukan apa pun supaya kamu tetap tinggal di sini.”


****


Faruq tetap memilih untuk pergi dari desa ini karena dirinya sudah benar-benar muak dengan Nimas dan Nimas tentu saja tidak akan membiarkan Faruq pergi, Nimas menahan Faruq namun pria itu tetap saja pergi dan


menghempaskan dengan keras tangan Nimas.


“Kalau kamu pergi maka aku akan membunuh diriku sendiri!” jerit Nimas.


Faruq berhenti melangkahkan kakinya namun pria itu tidak berbalik badan, Nimas kemudian mengelurkan sebuah pisau dari dalam saku celananya dan bersiap untuk memotong urat nadinya sampai akhirnya Darsih menjerit dan membuat Faruq sontak berbalik badan.


“Tolong jangan lakukan ini, Nak.”


“Lepaskan aku, Bu!”

__ADS_1


__ADS_2