Anugerah Cintamu

Anugerah Cintamu
Curahan Hati


__ADS_3

Darsih pergi ke rumah Kusuma tanpa memberitahu Kusuma terlebih dahulu hingga membuat Kusuma tentu saja terkejut ketika adiknya ini datang, Kusuma mempersilakan Darsih untuk masuk ke dalam dan kini mereka berdua


duduk di kursi ruang tamu.


“Apa yang membawamu datang ke sini?”


“Sebenarnya ada hal yang ingin aku ceritakan padamu.”


“Apa itu?”


Darsih pun menceritakan mengenai Nimas yang menyukai Faruq dan menginginkan pria itu tetap tinggal di desa ini, Nimas mengatakan akan melakukan segala cara supaya Faruq tidak pergi meninggalkannya dan rencana


anaknya itu berhasil untuk membuat Faruq tetap tinggal di desa ini dengan membuat Faruq ketinggalan kereta. Kusuma yang mendengar cerita adiknya itu tentu saja terkejut dan tak menyangka kalau Nimas ternyata menyukai mantan menantunya.


“Sejak kapan Nimas menyukai Faruq?”


“Sejak dulu, katanya sebelum Nadiba dan Faruq menikah.”


“Jadi selama ini dia menyukai Faruq? Sulit untuk dipercaya.”


“Begitulah, aku sendiri juga merasa bahwa ini seperti mimpi akan tetapi setiap kali aku ingin menganggap bahwa ini adalah mimpi namun Nimas mengatakan hal ini bukanlah mimpi yang membuatku tidak tenang.


“Lalu bagaimana tanggapan Faruq mengenai hal ini?”


“Aku belum menanyakan tanggapannya, akan tetapi Faruq mengatakan tidak akan membuka hatinya untuk siapa pun lagi setelah ini.”


“Kalau memang dia tidak akan membuka hatinya untuk siapa pun lagi, bukankah berarti Nimas hanya menyakiti diri sendiri?”


“Itulah yang sedang berusaha aku bicarakan dengannya, akan tetapi kamu tahu sendiri Nimas itu anaknya seperti apa.”


“Aku tidak tahu harus menanggapi apa mengenai ceritamu barusan akan tetapi aku berdoa semoga saja kamu bisa menemukan solusi terbaik dari masalah yang tengah kamu hadapi saat ini.”


“Terima kasih Kak, aku juga sebenarnya datang ke sini hanya untuk berkeluh kesah saja, tidak ada niatan untuk membuatmu membantuku dalam memberi saran.”


Setelah puas mencurahkan perasaannya pada Kusuma kini Darsih pun berpamitan pada kakaknya itu.


“Sekali lagi terima kasih banyak, Kak.”


“Tidak masalah.”

__ADS_1


****


Ketika pulang, Darsih sempat berpapasan dengan Nadiba yang baru saja pulang bekerja di rumah Noah, tentu saja Nadiba menyapa tantenya tersebut dan bertanya Darsih dari mana sore-sore begini.


“Aku baru saja pulang dari rumahmu, aku baru bicara dengan ibumu.”


“Ibu. Memangnya Tante membicarakan apa dengan ibu kalau aku boleh tahu?”


“Nadiba, apakah sebelum ini kamu sudah mengetahui kalau Nimas menyukai Faruq?”


“Nimas menyukai Faruq? Tante yang benar saja? Memangnya siapa yang mengatakan itu pada Tante?”


“Jadi kamu belum tahu mengenai hal itu? Nimas sendiri yang mengatakan padaku kalau Nimas tertarik pada Faruq akan tetapi mantan suamimu itu bersikap dingin pada putriku. Katanya dia sudah menutup hatinya untuk siapa pun.”


“Kalau mas Faruq mengatakan hal itu maka bukankah berarti Nimas hanya sedang menyakiti diri sendiri?”


“Itu dia, aku sudah mencoba membicarakan ini baik-baik dengannya akan tetapi respon yang diberikan oleh putriku tidak sesuai dengan apa yang aku harapkan.”


Setelah mereka bicara sejenak, akhirnya Darsih pun melanjutkan perjalanan pulang ke rumahnya sementara itu Nadiba melanjutkan perjalanan sampai di rumahnya, ketika ia sampai di rumah nampak Kusuma telah menantinya di depan pintu.


“Akhirnya kamu datang juga, Nak.”


“Bu, apakah tadi tante datang ke sini?”


****


Felix memikirkan apa yang Nadiba dan Noah katakan padanya, ucapan kedua orang itu memeuhi kepalanya hingga membuat Felix tidak tahan dan memilih untuk memejamkan kedua matanya saja, akan tetapi sayangnya ia


tidak dapat melakukan hal itu. Karena sekuat apa pun ia mencoba untuk tidur, kedua matanya malah enggan untuk terpejam.


“Sebenarnya aku ini kenapa?”


Tiba-tiba saja kenangan bersama Nadiba terputar dalam benak Felix tanpa pria itu inginkan dan tentu saja menurut Felix semua kenangan yang telah mereka lalui itu bukanlah sesuatu hal yang penting.


“Lagi pula aku kan tidak mencintai Nadiba, jadi untuk apa juga aku harus memikirkan wanita itu.”


Felix berusaha memkirkan hal yang lain supaya pikiran akan Ndiba teralihkan akan tetapi justru bayangan kebersamaannya dengan Nadiba malah semakin menjadi dan hal tersebut membuat Felix pada akhirnya memutuskan untuk keluar dari dalam kamarnya dan mencari udara segar dilur kamar.


“Ada apa denganku ini sebenarnya?”

__ADS_1


Felix terus berdiri di balkon lantai dua hingga akhirnya kedua matanya perlahan terpejam karena mengantuk dan setelah itu pun ia jatuh tertidur di sana hingga matahari pagi membangunkannya. Felix mengerjapkan kedua matanya dan secara reflek langsung menutupi matanya dengan punggung tangan dari sengatan matahari yang sangat terik pada siang hari ini.


****


Noah menemukan Felix tengah tiduran di sofa balkon lantai dua, ia pun segera menghampiri Felix karena takut kalau semalam ketika ia tengah tertidur maka Felix hendak melakukan tindakan mengakhiri hidupnya.


“Nak, semalam apakah kamu ingin mengakhri hidupmu?”


“Siapa yang ingin mengakhiri hidup, Pa? Aku sam sekali tidak ada niatan untuk mengakhiri hidup akan tetapi karena semalam aku tidak dapat tidur di kamar maka aku memutuskan untuk mencari udara segar diluar, malah aku akhirnya ketiduran diluar.”


Noah memperhatikan gerak gerik Felix dan pada akhirnya ia pun percaya dengan apa yang dikatakan oleh Felix barusan.


“Baiklah sekarang Papa percaya dengan apa yang kamu katakan.”


Ketika mereka tengah berbincang itu, muncul Nadiba yang mereka perhatikan muncul di pintu gerbang dan kemudian ia pun segera masuk ke dalam rumah ini.


“Permisi Pak Noah, saya datang.”


“Iya tunggu sebentar.”


Noah bergegas untuk turun ke bawah membukakan pintu untuk Nadiba, setelah pintu terbuka maka Nadiba pun segera mengucapkan salam dan langsung bergegas melakukan pekerjaan hariannya di rumah ini.


“Nadiba..”


“Iya Pak Noah, ada apa?”


“Saya minta maaf karena tadi terlambat dalam membukakan pintumu.”


“Ah saya sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu, saya permisi dulu.”


Setelah mengatakan  itu Nadiba langsung pergi melakukan apa yang telah ia biasa lakukan di rumah ini akan tetapi Noah menahan tangannya.


****


Noah menahan tangan Nadiba hingga membuat Nadiba terkejut dengan apa yang Noah lakukan padanya saat ini, Nadiba bertanya kenapa Noah menahan tangannya seperti ini dan Noah pun meminta maaf pada Nadiba atas


apa yang sudah ia lakukan barusan.


“Tidak apa-apa Pak Noah, saya permisi dulu.”

__ADS_1


Nadiba pun kembali melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah untuk melakukan pekerjaan yang biasa ia kerjakan, akan tetapi saat ia tengah menaiki anak tangga dan baru saja mencapai lantai dua, ia dibuat terkejut dengan sosok Felix yang telah berdiri menatapnya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.


“Tuan Felix?”


__ADS_2