Anugerah Cintamu

Anugerah Cintamu
Obat yang Sengaja Dicampur


__ADS_3

Darsih nampak terkejut ketika keluar menemukan putrinya hendak menyakiti dirinya sendiri, tentu saja Darsih langsung berlari dan menghalangi aksi Nimas tersebut namun Nimas sama sekali tidak mau mendengarkan


apa yang Darsih katakan.


“Lepaskan aku, Bu!”


Faruq yang mendengar pertengkaran antara keduanya pun berbalik badan dan menemukan Darsih tengah mencoba untuk menenangkan Nimas yang hendak menyakiti dirinya sendiri.


“Kamu lihat sendiri kan? Aku sama sekali tidak main-main dengan ucapanku!”


Nimas berteriak lantang pada Faruq seolah ingin menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak main-main dengan ancamannya untuk menyakiti diri sendiri. Darsih meminta supaya Faruq tidak pergi karena ia takut kalau Nimas akan menyakiti diri sendiri.


“Tolong Faruq, tolong aku.”


Faruq masih diam di tempatnya dan hanya menatap Darsih serta Nimas yang masih berkelahi karena Nimas masih ingin menyakiti dirinya sendiri namun pada akhirnya Faruq memilih untuk mengalah dan mengikuti apa yang


Nimas inginkan. Darsih menghela napasnya lega dan berterima kasih pada keputusan yang telah Faruq buat ini namun Faruq sendiri nampak tidak menanggapi ucapan Darsih barusan, ia melakukan semua ini bukan karena takut pada ancaman Nimas namun ia lebih merasa kasihan pada Darsih.


“Kamu tidak akan pergi dari sini kan?” tanya Nimas pada Faruq.


“Aku sudah menjawabnya barusan, jadi tolong jangan bertanya lagi,” jawab Faruq dingin dan langsung masuk kembali ke dalam rumah.


Nimas berusaha untuk membuntuti Faruq sampai ke dalam rumah dan kemudian ketika Faruq masuk ke dalam kamarnya, pria itu langsung menutup pintu kamar tersebut serta menguncinya supaya Nimas tidak bisa masuk ke


dalam.


“Faruq, buka pintunya.”


“Aku sudah melakukan seperti apa yang kamu lakukan, sekarang jangan ganggu aku.”


Darsih pergi menemui Nimas yang masih mencoba untuk mengganggu Faruq, Darsih meminta supaya Nimas jangan mengganggu Faruq lagi dan menarik Nimas untuk pergi dari sana.


“Lepaskan aku, Bu!”


“Kalau kamu masih bersikap seperti ini, apakah menurutmu Faruq masih akan tetap tinggal di sini?”


****


Keesokan harinya Noah mengajak Nadiba pergi ke rumah kontrakan baru yang ia rekomendasikan, Nadiba merasa cocok dengan rumah kontrakan baru ini dan bertanya berapa biaya yang perlu ia keluarkan untuk menyewa rumah ini.


“Kamu tidak perlu membayarnya Nadiba,” ujar Noah.


“Tidak bisa begitu Pak Noah, saya tentu saja harus membayarnya, tolong Pak Noah jangan bersikap seperti dulu lagi yang tidak mengizinkan saya membayar biaya sewa bulanan di rumah itu,” ujar Nadiba.


“Itu semua bukan permintaan saya Nadiba,” ujar Noah.


“Maksud Pak Noah?”

__ADS_1


“Menurutmu siapa yang meminta saya melakukan semua ini?”


Nadiba sebenarnya ingin menyebut nama Felix namun ia ragu apakah memang pria itu yang melakukan semua ini.


“Kamu kenapa hanya diam saja? Kamu pasti tahu kan, Nadiba?”


“Apakah semua ini permintaan dari tuan Felix?”


“Kamu sudah tahu rupanya.”


“Jadi benar semua ini permintaan dari tuan Felix?”


“Dia sebenarnya ingin sekali kamu tetap tinggal di rumah kami, apakah kamu tidak bisa tinggal bersama kami saja di rumah itu, Nadiba?”


“Maaf Pak Noah, akan tetapi keputusan saya sudah bulat, tolong Pak Noah jangan memaksa saya untuk tetap tinggal di sana.”


“Saya hanya menyampaikan apa yang dikatakan oleh Felix saja, kalau memang kamu ingin pindah ke rumah ini maka saya tidak dapat melakukan apa pun.”


****


Nadiba dan Noah pulang ke rumah, Felix langsung menyambut mereka serta bertanya pada Nadiba bagaimana rumah kontrakan yang baru saja mereka lihat barusan. Noah memilih untuk pergi hingga Nadiba dan Felix


memiliki waktu untuk dapat bicara berdua saat ini tanpa perlu merasa canggung dengan kehadirannya di sana.


“Tuan Felix.”


“Apakah benar yang pak Noah katakan bahwa Tuan Felix yang meminta supaya saya tidak perlu membayar biaya sewa bulanan rumah itu?”


“Iya itu semua benar, kamu tidak perlu mengeluarkan biaya satu sen pun untuk tinggal di sana.”


“Tapi Tuan Felix, saya tidak bisa melakukannya.”


“Kenapa tidak bisa? Kamu kan memiliki keperluan lain selain harus membayar biaya sewa rumah itu, Nadiba.”


“Saya tahu namun saya rasa ini berlebihan.”


“Tidak ada yang berlebihan untuk orang yang aku cintai.”


Wajah Nadiba nampak bersemu ketika mendengar apa yang Felix katakan barusan namun dengan segera ia mengalihkan pandangan supaya Felix tidak melihat reaksinya barusan akan tetapi tentu saja Felix sudah dapat


melihat dengan jelas bagaimana reaksi Nadiba barusan.


“Kenapa kamu malah memalingkan wajahmu ketika tersipu, Nadiba?”


“Tidak Tuan, saya tidak memalingkan wajah.”


“Kamu mau mencoba untuk menipuku.”

__ADS_1


“Maaf Tuan Felix, akan tetapi saya harus segera melanjutkan pekerjaan saya.”


****


Nimas nampak tengah melakukan sesuatu di dapur, ia memasukan sebuah obat ke dalam minuman yang ia sajikan untuk Faruq, ia tidak memiliki jalan lain selain harus melakukan ini. Bagaimanapun juga ia harus mengikat pria itu untuk menjadi miliknya sepenuhnya, ia tidak akan membiarkan Faruq menjadi milik siapa pun lagi.


“Aku sudah sangat terluka dan kecewa saat kamu menikah dengan Nadiba dan kali ini aku tidak akan melepaskanmu, Faruq.”


Nimas kemudian menyiapkan makan siang untuk mereka berdua di meja makan, Faruq sudah duduk di kursi meja makan dan Nimas nampak masih berusaha menarik perhatian pria itu namun Faruq sama sekali tidak memberikan


respon seperti apa yang ia inginkan.


“Apakah kamu tidak mau memujiku karena sudah menyiapkan semua masakan ini?”


“Untuk apa aku harus melakukan itu?”


“Setidaknya ini kan membuktikan kalau aku bisa memasak dan mengurus urusan rumah tangga.”


“Aku tidak butuh memuji pekerjaanmu ini.”


Nimas nampak kesal dengan respon dingin yang Faruq berikan padanya namun ia nampak terseyum ketika setelah Faruq selesai makan dan meneguk minuman yang sudah ia berikan obat itu.


“Bagaimana, apakah masakanku ini enak?” tanya Nimas yang senagaja mendekatkan diri pada Faruq.


“Apa yang kamu lakukan?”


Nimas nampak tidak mengindahkan pertanyaan Faruq dan ia kembali mencium bibir Faruq namun kali ini Faruq malah membalas ciumannya.


****


Nadiba tengah menyiapkan makan malam di dapur sampai akhirnya Felix tiba-tiba menghampirinya dan mengatakan bahwa ia ingin membantu Nadiba untuk menyiapkan makan malam.


“Tidak perlu Tuan Felix, ini pekerjaan saya.”


“Tapi bagaimana kalau aku tetap ingin membantumu?”


“Tuan Felix …..”


“Izinkan aku untuk membantumu, Nadiba.”


Nadiba pun akhirnya luluh juga dan memberikan izin untuk Felix membantunya, ketika mereka tengah menyiapkan makan malam tersebut, Felix membuka percakapan dengan Nadiba mengenai keputusan Nadiba untuk pindah


rumah.


“Nadiba, apakah kamu sudah memikirkan keputusanmu mengenai pindah ke rumah kontrakan itu?”


“Iya Tuan, memangnya kenapa?”

__ADS_1


“Apakah kamu tidak bisa tetap di sini saja?”


__ADS_2