Anugerah Cintamu

Anugerah Cintamu
Menjadi Dilema


__ADS_3

Nadiba akhirnya masuk ke dalam mobil milik Felix, sepanjang perjalanan dari stasiun menuju rumah nampak mereka berdua diam hingga akhirnya Nadiba pun memberanikan diri untuk bertanya sesuatu pada Felix.


“Kamu ingin menanyakan apa?”


“Kenapa Tuan Felix bisa tahu kalau hari ini aku tiba di stasiun?”


“Karena ibumu yang memberitahuku.”


“Ibu?”


“Iya, aku menelpon ibumu dan bertanya kapan kamu akan pulang dan beliau bilang hari ini kamu akan pulang dan tiba di stasiun maka dari itu aku langsung datang ke stasiun untuk menjemputmu.”


“Aku jadi merasa tidak enak, Tuan.”


“Tidak perlu merasa tidak enak padaku, Nadiba.”


Akhirnya Nadiba pun diam dan menikmati sisa perjalanan dengan melihat keluar kaca jendela mobil, Felix memanggil nama Nadiba dan sontak saja Nadiba pun menoleh saat namanya dipanggil oleh pria ini.


“Ada apa Tuan?”


“Sebenarnya aku ingin bertanya sesuatu padamu.”


“Apa yang ingin Tuan tanyakan pada saya?”


“Ini menyangkut soal pengakuan jujurku soal perasaanku padamu waktu itu.”


“Oh soal itu.”


“Jadi bagaimana Nadiba? Apakah kamu sudah memiliki  jawaban?”


“Anu Tuan….”


“Apakah kamu belum memilikinya juga sampai saat ini?”


“Belum Tuan.”


“Apakah kamu menolakku dengan cara halus begini?”


“Tidak Tuan, saya tidak menolak Tuan.”


“Lantas apakah dengan sikap menggantung ini bukankah artinya kamu menolakku secara halus?”


“Tuan Felix jangan berpikiran buruk dulu, saya tidak bermaksud seperti itu hanya saja saya masih bingung dengan semua ini, tolong Tuan berikan saya waktu berpikir lebih lama lagi.”


“Baiklah, tetapi aku tidak bisa memberikan waktu lebih lama lagi, aku beri waktu 2 hari dan kamu harus berikan aku kepastian.”


“Baik Tuan.”

__ADS_1


Akhirnya mereka pun tiba di rumah yang Nadiba dan Kusuma tinggali, Nadiba membuka sabuk pengaman dan berterima kasih pada Felix karena pria ini sudah mau mengantarkannya dari stasiun sampai ke rumah.


“Tidak masalah Nadiba, namun kamu jangan lupa apa yang tadi kita bicarakan.”


“Iya Tuan, saya tidak akan melupakannya.”


****


Kusuma menyambut Nadiba di teras rumah, ketika putrinya itu tiba di rumah ini, Kusuma langsung memeluk Nadiba dengan erat, ia merindukan putrinya ini padahal Nadiba tidak pergi selama satu minggu atau satu tahun namun bagi Kusuma menunggu sampai Nadiba kembali terasa begitu lama sekali.


“Masuklah dulu, Nak.”


Kusuma kemudian menyuruh Nadiba untuk duduk dan Kusuma mendesak supaya Nadiba bercerita apa saja yang ia alami selama di kota sana.


“Apakah kamu memiliki cerita, Nak? Apakah Luna benar-benar bersikap baik pada Rama? Bisakah kita percaya padanya?”


“Semoga saja Luna memang sudah berubah, Bu. Ketika aku datang ke sana, wanita itu memang nampak begitu ramah dan mau menyapaku. Ia juga telah meminta maaf secara langsung padaku mengenai apa yang telah ia


lakukan di masa lalu pada Rama dan juga padaku.”


“Syukurlah kalau begitu, aku lega sekali mendengarnya. Semoga saja Luna memang benar-benar menepati apa yang ia katakan dan Rama bisa hidup bahagia dengan mereka.”


“Iya Bu, aku harap juga begitu,” ujar Nadiba yang sedih akibat memikirkan Rama.


“Ibu tahu bahwa kamu pasti masih sedih kan mengingat Rama sekarang sudah tak lagi tinggal bersama kita?”


“Begitulah Bu, rasanya aku masih menganggap bahwa ini hanya mimpi namun ternyata ini adalah kenyataan hidup yang harus aku jalani.”


****


“Tapi bagaimana kalau kamu nanti pingsan saat bekerja di sana?”


“Ibu terlalu berlebihan, aku tak akan mungkin pingsan, aku kan sudah beristirahat kemarin.”


“Tapi Nak ….”


“Bu, tolonglah percaya padaku, aku bisa menjaga diriku dengan baik dan aku tahu apa yang harus aku lakukan saat ini.”


Pada akhirnya karena melihat raut wajah keseriusan dari Nadiba membuat Kusuma pun akhirnya mengizinkan putrinya ini untuk pergi bekerja ke rumah Noah seperti biasanya.


“Baiklah kalau memang itu kemauanmu dan Ibu tidka bisa ikut campur lagi, akan tetapi tolong ingat pesan Ibu ini kalau memang kamu merasa lelah, jangan memaksakan dirimu, katakan saja pada pak Noah bahwa kamu masih


lelah dan butuh istirahat, kamu mengerti apa yang Ibu bicarakan ini kan, Nak?”


“Iya Bu, tentu saja aku mengerti dengan apa yang Ibu bicarakan ini, kalau begitu lebih baik sekarang juga aku pamit, ya?”


Nadiba pun bergegas mencium tangan Kusuma sebelum pergi dari rumah ini, Kusuma menghela napasnya panjang melihat putrinya itu yang dibilang untuk istirahat saja di rumah dulu hari ini namun ia menolaknya.

__ADS_1


****


Noah nampak terkejut ketika menemukan Nadiba tiba di rumahnya padahal kemarin wanita ini kan baru saja tiba dari luar kota, namun kenapa Nadiba malah masuk kerja saat ini?


“Nadiba?”


“Selamat pagi, Pak Noah.”


“Kenapa kamu datang ke sini? Bukankah kamu masih lelah akibat perjalanan panjang kemarin?”


“Saya sudah cukup beristirahat, Pak Noah.”


“Benarkah? Apakah kamu yakin? Kalau memang kamu belum siap untuk bekerja maka jangan paksakan dirimu sendiri seperti ini.”


“Saya sama sekali tidak sedang memaksakan diri Pak Noah, saya benar-benar tidak apa-apa, tolong Pak Noah percaya pada saya.”


Nadiba memang sekilas terlihat baik-baik saja namun Noah yakin sebenarnya wanita ini masih sangat lelah akibat perjalanannya panjangnya dari luar kota ke kota ini dengan menggunakan kereta lebih dari 12 jam.


“Baiklah kalau memang kamu memaksa, saya tidak bisa berkata apa-apa lagi.”


Nadiba tersenyum dan kemudian memulai pekerjaannya di rumah Noah, ketika Nadiba sedang melakukan pekerjaan membersihkan rumah ini mulai dari lantai atas hingga lantai bawah, diam-diam Noah memperhatikan Nadiba dan kemudian ia tak bisa menahan dirinya lagi untuk tidak bertanya pada wanita ini.


“Nadiba.”


“Ada apa, Pak Noah?”


“Ada sesuatu yang ingin saya tanyakan padamu dan saya harap kamu mau menjawab pertanyaan ini dengan jujur.”


****


Nadiba merasa penasaran dengan apa yang sebenarnya hendak Noah bicarakan padanya saat ini karena kalau ia lihat dari raut wajahnya Noah seperti ingin membicarakan sesuatu hal yang serius padanya.


“Nadiba, apakah kamu menyukai putraku?”


“Apa?”


“Tolong kamu jawab pertanyaanku dengan jujur, Nadiba.”


“Saya… saya ….”


“Tolong kamu jujur dengan saya, Nadiba.”


“Saya tidak tahu apa yang saya rasakan pada tuan Felix, Pak.”


“Apa maksudmu kalau kamu tidak tahu? Felix mengatakan padaku bahwa ia menyukaimu dan ia sepertinya sangat berharap kalau dia akan menjadi kekasihmu.”


“Anu ….”

__ADS_1


“Ada apa Nadiba? Kamu tidak perlu merasa takut atau sungkan padaku, kamu bisa mengatakan yang sejujurnya mengenai perasaanmu pada anakku.”


“Sebenarnya….”


__ADS_2