
Nadiba tentu saja merasa tidak enak dengan ini semua namun tentu saja untuk saat ini dirinya dan keluarga tidak memiliki pilihan lain selain menumpang di rumah Noah ini.
“Pak Noah, terima kasih banyak karena mengizinkan kami untuk tinggal di sini,” ujar Kusuma.
“Tidak apa Bu, saya senang dapat membantu kalian, ayo masuklah,” ujar Noah yang mempersilakan mereka semua untuk masuk ke dalam rumah.
Felix membukakan pintu depan dan nampak heran ketika Nadiba tiba bersama Kusuma dan Rama saat ini, Felix pun bertanya pada Nadiba apa yang sebenarnya terjadi namun Noah meminta supaya Felix bertanya di dalam
saja.
“Jadi sebenarnya ada apa ini?” tanya Felix setelah mereka sudah masuk ke dalam rumah.
“Sebenarnya ….”
Nadiba sendiri bingung harus menjelaskan semua ini pada Felix, oleh karena Kusuma mengetahyi kalau Nadiba tak sanggup untuk menjelaskan semua itu pada Felix maka dirinyalah yang menjelaskan semua pada
Felix mengenai apa yang mereka alami. Felix nampak terkejut mendengar cerita Kusuma barusan yang ternyata Nadiba dan keluarga diusir dari rumah mereka akibat fitnah yang dilakukan oleh Nimas.
“Jahat sekali sepupumu itu sampai melakukan fitnah tersebut.”
“Sudahlah Tuan Felix, percuma saja kita meladeni orang tersebut.”
“Iya benar, percuma saja kalau kita meladeni orang yang membenci kita. Sekuat apa pun kita mencoba untuk menjelaskan yang sebenarnya mereka tetap tidak akan mau mendengarkan kita.”
Kini Noah mengajak Nadiba dan yang lainnya ke kamar mereka, Nadiba ditempatkan satu kamar dengan Kusuma sementara Rama memiliki kamar sendiri di sebelah kamar mereka.
“Sekali lagi kami mengucapkan terima kasih Pak Noah,” ujar Kusuma.
“Tidak masalah Bu, kalian istirahatlah,” ujar Noah yang kemudian pergi meninggalkan mereka.
Akan tetapi Nadiba merasa tidak enak pada Noah dan kemudian meminta Kusuma dan Rama untuk istirahat saja dan ia akan melakukan pekerjaan rumah.
“Nadiba? Bukankah saya sudah mengatakan kamu untuk istirahat saja?” tanya Noah yang melihat Nadiba hendak melakukan pekerjaannya.
“Tidak apa Pak Noah, saya baik-baik saja.”
****
Faruq nampak marah dan kecewa karena Nadiba pergi dari rumah kontrakan itu akibat perbuatan Nimas namun wanita itu sama sekali tidak menampakan raut wajah penyesalan bahkan Nimas mengatakan belum puas jika hanya mengusir Nadiba seperti tadi.
“Kamu sudah sangat keterlaluan Nimas, tidak seharusnya kamu melakukan ini pada Nadiba dan keluarganya.”
“Kok kamu membelanya, sih? Bukankah kamu bilang sudah merelakan Nadiba untuk bahagia dengan orang yang ia cinta?”
“Aku memang sudah merelakan Nadiba dengan apa pun pilihannya namun bukan berarti aku rela jika Nadiba diperlakukan seperti tadi.”
__ADS_1
Nimas nampak tertawa mendengar ucapan Faruq barusan yang menurutnya justru pria ini masih menyimpan perasaan cinta pada Nadiba.
“Sudahlah Faruq, aku tahu kalau kamu masih berharap pada Nadiba, mau sampai kapan kamu akan menyedihkan seperti ini? Nadiba tidak akan pernah kembali padamu, itu hal yang perlu kamu ketahui.”
“Aku tahu kalau Nadiba tidak akan pernah kembali padaku namun sudah aku katakan walaupun begitu aku tidak akan rela jika anak dan mantan istriku diperlakukan seperti tadi apalagi yang kamu katakan itu hanya fitnah!”
Darsih melerai pertengkaran mereka dan meminta Nimas untuk meminta maaf pada Nadiba serta keluarganya karena ucapannya membuat citra Nadiba dan keluarganya buruk namun Nimas tentu saja menolak.
“Maaf tapi aku tidak akan sudi untuk meminta maaf pada Nadiba.”
****
Nadiba merasa canggung ketika harus berada satu rumah dengan Felix walaupun mereka berbeda kamar akan tetapi setiap hari mereka bertemu dari pagi hingga malam hari. Perasaan Nadiba pada Felix semakin tumbuh
karena sikap Felix yang sangat baik padanya dan pria itu juga menunjukan bahwa dirinya memang benar-benar ingin membuka hati Nadiba yang dulu pernah ia kecewakan.
“Biar aku bantu,” ujar Felix ketika Nadiba tengah mengepel lantai.
“Tidak perlu Tuan,” ujar Nadiba.
“Sudahlah, kamu kan lelah sejak tadi pagi membuatkan kami sarapan dan kini langsung mengepel lantai.”
“Itu kan memang sudah menjadi tugas saya.”
“Benarkah? Rasanya biasa saja.”
“Iya, kamu menjadi lebih sibuk dari biasanya, kamu sengaja ingin menghindariku, ya?”
“Tidak Tuan, saya tidak bermaksud begitu.”
“Lalu apakah kamu sudah memiliki orang lain?”
“Apa maksud Tuan ini?”
“Maksudku adalah kamu sudah menyukai orang lain selain aku, apakah kamu sudah tidak mencintaiku lagi?”
“Tidak begitu Tuan, saya masih mencintai Tuan.”
Sontak saja Nadiba terkejut dengan apa yang ia katakan barusan dan langsung menutup mulutnya, Felix nampak tersenyum dan meminta Nadiba untuk mengatakannya lagi namun tentu saja Nadiba malu jika mengatakannya
lagi.
****
Darsih menelpon Kusuma untuk bertanya di mana kakaknya kini tinggal dan Kusuma mengatakan bahwa saat ini mereka tinggal di rumah Noah, Darsih kemudian pergi ke rumah Noah untuk menjenguk Kusuma serta memastikan
__ADS_1
mereka baik-baik saja.
“Kak, syukurlah kamu baik-baik saja.”
“Tentu saja aku baik-baik saja.”
“Aku khawatir ketika mendengar kamu dan keluargamu diusir oleh warga desa yang termakan ucapan putriku, aku minta maaf.”
“Sudahlah Darsih, aku sama sekali tidak marah akan hal tersebut kok lagi pula sepertinya Nadiba senang ketika kami pindah ke rumah ini.”
“Apa maksudmu?”
“Di sini kan ada tuan Felix dan kamu sendiri tahu kan kalau hubungan Nadiba serta tuan Felix sedang kembali membaik.”
“Ah aku tahu sekarang, sepertinya ada hikmah yang dapat diambil setelah kejadian tak menyenangkan itu, ya?”
“Iya kurang lebih begitu, sejujurnya Darsih aku sudah lama sekali tidak melihat Nadiba bisa tersenyum dan tertawa secerah serta selebar itu semenjak ia bercerai dengan Faruq.”
“Syukurlah kalau begitu, semoga saja kali ini tuan Felix tidak mempermainkan Nadiba lagi, ya?”
“Kali ini aku yakin sekali kalau tuan Felix serius dengan Nadiba, aku bisa merasakan itu.”
“Aku ikut senang mendengarnya.”
Darsih pun kemudian berpamitan pada Kusuma setelah ia merasa lega melihat langsung kondisi kakaknya yang baik-baik saja.
****
Nadiba sedang mencuci piring kotor bekas makan malam di dapur dan Felix menghampiri serta mengatakan ingin membantu Nadiba mencuci piring kotor ini.
“Tidak perlu Tuan, saya bisa sendiri.”
“Jangan menolakku, kalau kita mengerjakannya bersama-sama bukankah akan jauh lebih cepat selesai?”
Sejujurnya Nadiba mersa senang karena ada Felix yang mau membantunya namun di sisi yang lain jantungnya berdegup lebih kencang saat berdiri di sebelah Felix seperti ini.
“Nadiba, kira-kira kalau kita nanti jadi menikah apakah kamu ingin tinggal bersamaku di Australia?”
“Tuan ini bicara apa? Kok tiba-tiba membicarakan soal pernikahan?”
“Memangnya kamu tidak mau kita menikah?”
“Bukan seperti itu hanya saja… rasanya masih terlalu dini jika kita membicarakan soal pernikahan.”
“Benar juga, akan tetapi tidak ada salahnya jika kita mulai membicarakan hal itu kan?”
__ADS_1