
Kusuma nampak terkejut ketika mendapati adanya pergerakan misterius dari luar jendela kamarnya, ia pun turun dari tempat tidur untuk mengecek ada apakah gerangan barusan akan tetapi ketika ia sampai di jendela dan mencari siapa barusan yang lewat, ia sama sekali tidak menemukan siapa pun di sana.
“Apakah barusan aku berhalusinasi? Rasanya tidak mungkin aku berhalusinasi, aku yakin bahwa tadi ada yang lewat kok.”
Kusuma kemudian kembali ke tempat tidur namun kali ini ia tidak membaringkan tubuhnya di tempat tidur melainkan hanya duduk di tepian tempat tidur saja, Kusuma menghela napasnya panjang dengan kejadian aneh yang barusan dilihatnya, rasanya tidak mungkin kalau dirinya hanya berhalusinasi saja, karena ia yakin bahwa hal tersebut nyata sekali.
“Tidak, aku tak mungkin hanya berhalusinasi, aku yakin bahwa aku tidak salah lihat barusan.”
Kusuma menghela napasnya dan kemudian ia menunggu Rama di ruang tamu dengan gelisah, tidak lama kemudian terdengar suara kaca pecah dari belakang rumah, buru-buru Kusuma pergi ke belakang dan mendapati jendela dapur mereka dipecahkan oleh orang tak dikenal dengan sebuah batu ukuran besar.
“Ya Tuhan, sebenarnya siapa yang sudah melakukan semua ini?”
Rama kembali ke rumah dan Kusuma meminta Rama untuk jangan mendekati dapur dulu karena banyak serpihan kaca. Kusuma bertanya pada cucunya apakah tidak ada seorang pun yang mencurigakan barusan dan Rama
menggelengkan kepalanya.
“Sekarang kamu segera ganti baju dulu, Nenek akan bersihkan semua ini.”
“Iya Nek.”
Rama kemudian segera pergi mengganti pakaiannya sementara itu Kusuma membersihkan serpihan kaca yang berserakan di lantai dapur, ia masih tidak habis pikir siapa gerangan orang yang mencoba untuk meneror keluarganya seperti ini.
“Apakah Nimas? Tapi sekarang dia sedang dipenjara, tidak mungkin kalau dia pelakunya kan?”
Kusuma menahan diri untuk tidak menelpon Nadiba karena ia tak mau mengganggu putrinya bekerja, ia hanya dapat berharap semoga saja orang yang melakukan teror ini dapat segera diketahui identitasnya.
****
Felix merasa bahwa ada sesuatu hal yang tengah Nadiba sembunyikan darinya karena sikap Nadiba seperti agak menjaga jarak dengannya, Felix pun mendesak supaya Nadiba menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
“Tuan ini kenapa?”
“Kamu tidak perlu berkelit lagi Nadiba, aku tahu bahwa kamu tengah menyembunyikan sesuatu dariku kan?”
“Tidak Tuan, saya tidak menyembunyikan apa pun.”
“Apakah begitu sulit untukmu mengatakan yang sebenarnya?”
“Tuan ….”
“Katakan saja padaku jangan kamu simpan sendirian Nadiba.”
Nadiba menghela napasnya panjang, ia kemudian menceritakan bahwa ia tengah tertekan belakangan ini dengan teror yang menimpa keluarganya sekaligus memikirkan ketulusan Felix padanya. Felix berusaha meyakinkan Nadiba bahwa ia begitu tulus untuk menikahinya dan Nadiba percaya akan hal itu hanya saja pikirannya selalu saja tertuju pada saat Felix pernah mempermainkannya dulu.
__ADS_1
“Aku minta maaf karena dulu pernah mempermainkanmu, Nadiba. Tapi tolong sekarang percayalah padaku, aku benar-benar tidak ingin main-main dengan hal ini.”
“Iya Tuan, saya tahu bahwa kali ini Tuan tidak main-main dan saya percaya itu.”
“Kalau soal orang yang meneror keluargamu, kamu tidak perlu terlalu risau akan hal itu, aku dan papa pasti akan mengungkap siapa yang menjadi dalang di balik semua ini.”
“Iya Tuan, terima kasih banyak.”
Akhirnya jam kerja Nadiba pun selesai, ia pamit pada Noah dan Felix untuk pulang ke rumahnya baru saja ia menutup pintu pagar rumah Noah, dirinya merasa ada seseorang yang memerhatikannya dari jauh namun ketika
ia mencoba melihat siapa gerangan orang itu, ia tak menemukan siapa pun di sana.
****
Nadiba mendapatkan kabar mengejutkan dari Kusuma bahwa tadi ada teror lanjutan yang menimpa keluarganya, kaca dapur rumah ini hancur akibat timpukan batu orang tak dikenal dan hal tersebut cukup membuat Kusuma
jadi ketakutan, Nadiba sendiri juga khawatir akan keselamatan keluarganya namun ia tak dapat melakukan apa pun saat ini.
“Ibu tenanglah, semua akan baik-baik saja.”
“Iya Nak, Ibu tahu hanya saja… Ibu khawatir kalau orang jahat itu akan melukai Rama.”
Nadiba pun takut kalau hal serupa terjadi pada Rama mengingat orang itu pernah membuat Rama pingsan dan bukan tidak mungkin kalau ia akan dapat membuat Rama tak berdaya yang jauh lebih mengerikan dari
“Lebih baik sekarang Ibu tidur, ya?”
“Kamu sendiri tidak tidur, Nak?”
“Sebentar lagi aku akan tidur, Bu.”
“Baiklah Nak kalau begitu, selamat malam.”
“Selamat malam, Bu.”
Kusuma pergi ke kamarnya untuk tidur sementara Nadiba terjaga, ia tak boleh tidur karena kalau semua orang tidur bisa saja ada sesuatu hal yang buruk terjadi pada mereka semua dan Nadiba sama sekali tidak menginginkan hal tersebut terjadi.
****
Keesokan harinya, pemilik kontrakan mendatangi rumah Nadiba dan mengatakan bahwa Nadiba dan keluarganya harus segera pindah dari rumah ini karena pemilik rumah kontrakan menganggap bahwa Nadiba dan keluarganya membawa kesialan bertubi-tubi untuknya, Nadiba berusaha melakukan nego dengan pemilik rumah kontrakan ini namun hasilnya tetap saja nihil, ia sama sekali tidak dapat meyakinkan pemilik rumah kontrakan bahwa dirinya jangan disuir dari sini.
“Tolong keringannya Bu, kalau anda mengusir kami maka kami akan tidur di mana?”
“Itu bukan urusanku, pokoknya sebelum malam kalian sudah harus mengemasi pakaian kalian.”
__ADS_1
Selepas mengatakan itu pemilik rumah kontrakan pun segera pergi meninggalkan Nadiba, Kusuma muncul dari dalam rumah dan menanyakan pada Nadiba apakah dia baik-baik saja.
“Iya Bu, aku baik-baik saja.”
“Ibu mendengar semuanya, Nak.”
“Apa maksud Ibu?”
“Kamu tak perlu berpura-pura begitu, Nak. Beliau meminta kita untuk pindah sesegera mungkin kan?”
Nadiba nampak tak berani menatap wajah sang ibu sementara Kusuma mengelus punggung Nadiba dan memeluknya, Nadiba menangis dipelukan Kusuma dan meminta maaf karena membuat mereka diusir dari rumah ini namun Kusuma mengatakan bahwa ini semua bukanlah kesalahan Nadiba.
“Kamu jangan menyalahkan dirimu sendiri seperti ini, Nak.”
“Bu ….”
“Lebih baik sekarang juga kita berkemas.”
****
Noah mendatangi rumah Nadiba dan ia terkejut ketika melihat Nadiba dan keluarganya tengah mengemasi pakaian mereka semua dari dalam rumah ini, Noah bertanya pada Nadiba mengenai apa yang sebenarnya terjadi saat
ini dan Nadiba pun menceritakan semuanya.
“Aku akan bicara dengan dia.”
“Tidak Pak Noah, jangan.”
“Tapi Nadiba ….”
“Kami akan pindah saja dari sini, kami yakin dapat mencari rumah kontrakan yang baru.”
“Nadiba ….”
“Terima kasih atas perhatian dan kebaikan Pak Noah selama ini, saya sangat menghargainya.”
“Kamu jangan khawatir Nadiba, saya akan mencarikan kalian rumah kontrakan yang baru lagi.”
“Tidak perlu Pak Noah, tolong kali ini biarkan kami yang mencari rumah kontrakannya sendiri.”
“Tapi Nadiba ….”
“Tolong, Pak Noah.”
__ADS_1