
Nadiba menerima telepon dari Faruq yang mana mantan suaminya itu ingin memastikan apakah yang Rama katakan tadi adalah benar atau tidak. Nadiba tentu saja mengatakan bahwa apa yang Rama katakan barusan adalah benar, Rama nampak begitu bahagia saat Nadiba sedang berbincang dengan Faruq
mengenai keputusannya yang mengizinkan Rama untuk tinggal bersama dengan ayahnya itu.
“Ayah bilang dia ingin menjemputmu besok namun Ibu melarangnya, Ibu akan mengantarkan kamu ke sana.”
“Benarkah? Asyik!”
Kusuma diam-diam mendengar pembicaraan mereka dan ia nampak menghela napasnya berat, ia tahu bahwa keputusan ini tidaklah mudah untuk Nadiba ambil namun kalau ia tidak melakukan ini maka hubungannya dengan
Rama pasti akan memburuk dan Nadiba sama sekali tidak menginginkan hal tersebut terjadi.
“Kalau begitu ayo kita persiapkan kebutuhanmu selama di sana.”
Nadiba kemudian membawa Rama menuju kamarnya, di sana mereka merapihkan baju mana saja yang akan Rama bawa untuk tinggal di rumah itu. Kusuma pun nampak ikut membantu mereka karena ia tahu bahwa Nadiba pasti tengah menahan dirinya untuk tidak menangis dengan keputusan yang telah Rama ambil ini.
“Rama, Nenek ingin bicara sebentar dengan ibu,” ujar Kusuma dan Rama menganggukan kepalanya.
Kusuma segera membawa Nadiba keluar dari dalam kamar Rama untuk bicara secara empat mata di dalam kamarnya, setelah pintu kamar ditutup maka Kusuma meminta supaya Nadiba tidak lagi menahan tangisnya saat
ini.
“Keluarkan saja semuanya, Nak.”
Mendengar apa yang ibunya katakan barusan membuat Nadiba tidak kuasa untuk membendung tangisnya, ia benar-benar tidak mau kalau Rama pergi darinya namun kalau ia tidak melakukan ini maka hubungannya dengan
Rama akan renggang.
“Ibu tahu bahwa ini adalah sebuah keputusan yang sangat sulit untuk kamu buat.”
“Aku tak bisa hidup tanpa Rama, akan tetapi aku tak mau kalau hubungan kami menjadi tidak baik di kemudian hari.”
“Ibu mengerti, Nak. Ibu mengerti.”
Akhirnya Nadiba pun melerai pelukannya dengan sang ibu dan menghapus air mata yang tadi sempat membasahi kedua pipinya.
****
Nadiba datang ke rumah Noah agak terlambat karena harus membantu Rama untuk merapihkan pakaian mana saja yang akan anaknya itu bawa besok ke rumah Faruq dan Luna sekaligus Nadiba ingin meminta izin pada
Noah untuk tidak masuk kerja selama beberapa hari untuk mengantarkan Rama pergi ke kota.
“Kamu akan mengantarkan anakmu ke sana? Kenapa tidak biarkan ayahnya saja yang datang ke sini?”
“Sebenarnya ayahnya Rama juga ingin seperti itu hanya saja saya ingin melihat Rama lebih lama lagi.”
__ADS_1
Noah mengerti apa yang dimaksud oleh Nadiba dan ia pun memberikan izin pada wanita itu untuk pergi dan tak masuk kerja selama beberapa hari ke depan. Nadiba merasa bersyukur sekaligus tidak enak karena terus
menerus merepotkan Noah walaupun pria itu selalu mengatakan tidak masalah. Baru saja Nadiba ingin pergi, Noah memanggil namanya dan membuat Nadiba menoleh sekaligus bertanya apa yang diperlukan Noah saat ini?
“Sebenarnya saya ingin menanyakan sesuatu padamu.”
“Apa yang ingin Pak Noah tanyakan pada saya?”
“Ini mengenai Felix, anakku.”
“Ada apa dengan tuan Felix, Pak?”
“Felix mengatakan padaku bahwa dia menyukaimu dan dia sudah mengutarakan perasaannya padamu, apakah itu benar?”
“Iya Pak, tuan Felix memang sudah mengutarakan perasaannya pada saya.”
“Dan bagaimana tanggapanmu?”
****
Nadiba merasa kalau Noah sepertinya ingin tahu sekali soal apa jawaban yang ia berikan pada Felix saat itu namun Nadiba tidak berani mengutarakan hal itu pada Noah karena walau bagaimanapun juga Noah adalah majikannya dan ia harus menghormati pria yang telah memberikannya pekerjaan ini.
“Saya belum menanggapinya, Pak.”
Noah nampak menghela napas lega setelah mendengar jawaban dari Nadiba barusan, Nadiba sebenarnya agak curiga kenapa sikap Noah seperti itu akan tetapi ia kemudian segera pamit untuk memulai pekerjaannya pada Noah. Setelah menyelesaikan pekerjaannya sampai agak malam karena ia datang terlambat tadi, ia pun berpamitan pada Noah untuk pulang ke rumah.
“Biar saya antar kamu pulang.”
“Tidak perlu, saya bisa pulang sendiri.”
“Tapi nanti kamu bisa kenapa-kenapa di jalan apalagi ini kan sudah malam.”
“Saya baik-baik saja, Pak. Terima kasih karena anda sudah perhatian pada saya namun percayalah kalau saya akan baik-baik saja.”
Akhirnya Nadiba pun pulang ke rumah seorang diri dengan menolak tawaran Noah untuk diantarkan pulang namun baru saja Nadiba menutup pagar rumah Noah, sebuah mobil yang ia kenali milik Felix muncul dan pria itu segera turun dari dalam mobil menghampirinya.
“Nadiba? Kamu mau ke mana?”
“Saya mau pulang, Tuan Felix.”
“Kalau begitu masuklah ke dalam, akan aku antarkan.”
“Tidak perlu Tuan, saya bisa pulang sendiri.”
“Aku tak menerima penolakan.”
__ADS_1
****
Felix akhirnya mengantarkan Nadiba ke rumah dengan sedikit memaksa, akhirnya Nadiba yang tidak enak pun mau saja diantarkan oleh Felix pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan menuju rumah, Felix mengajak Nadiba
untuk mengobrol mengenai apa saja yang terjadi hari ini dan ia baru mengetahui kalau besok Nadiba akan pergi ke kota untuk mengantarkan Rama ke rumah mantan suaminya.
“Kenapa kamu membiarkan Rama tinggal bersama mantan suamimu?”
“Aku tak mau kalau hubunganku dengan Rama rusak akibat penolakanku.”
“Tapi kamu kan tidak bisa mempercayai istri baru mantan suamimu itu, lagi pula yang aku dengar dia orang yang jahat.”
“Begitulah, dia pernah menculik dan menyiksa Rama namun kata Rama dan mantan suamiku sikapnya sudah berubah. Entah dia benar-benar sudah berubah atau karena ia sedang merencanakan hal jahat yang lain.”
Akhirnya mobil yang Felix kemudikan tiba juga di depan rumah Nadiba, ia berterima kasih pada Felix karena sudah mau mengantarkannya ke rumah dan melepaskan sabuk pengaman yang ia kenakan sebelum membuka pintu
mobil.
“Nadiba.”
“Ada apa?”
“Besok kalian akan pergi ke stasiun jam berapa?”
“Memangnya ada apa?”
“Aku akan mengantarkan kalian ke stasiun.”
“Tidak perlu Tuan Felix.”
“Aku memaksa.”
****
Keesokan paginya Nadiba dan Rama sudah bersiap untuk pergi ke stasiun, mereka juga sudah berpamitan pada Kusuma. Nadiba baru saja ingin memesan taksi online namun mobil Felix sudah tiba di depan rumah Nadiba dan pria itu segera turun dari dalam mobil menyapa Kusuma.
“Selamat pagi.”
“Selamat pagi, Tuan Felix ada apa ke sini pagi-pagi begini?” tanya Kusuma.
“Tentu saja saya datang ke sini untuk mengantarkan Nadiba dan Rama ke stasiun,” jawab Felix.
“Tuan Felix saya ….”
“Hanya ini saja yang kalian bawa kan? Aku akan bawa ke mobil,” ujar Felix membawakan barang Nadiba dan Rama ke bagasi mobilnya yang membuat Nadiba menjadi tak enak hati pada pria itu.
__ADS_1
“Tuan Felix, saya benar-benar merasa tidak enak.”
“Sudahlah Nadiba, lebih baik sekarang kita jalan nanti kalian terlambat sampai stasiun.”