
Faruq awalnya keberatan dengan ide yang Luna berikan namun karena Luna memaksanya maka pria itu tidak memiliki pilihan lain selain menerimanya, lagi pula saat ini mereka sudah sampai di depan rumah kontrakan
itu dan Luna juga telah bicara dengan pemilik kontrakan untuk menyewakan rumah ini pada Faruq, Luna juga telah membayar biaya sewa untuk satu bulan yang pada awalnya ditolak oleh Faruq.
“Jangan begitu Faruq, aku ikhlas membantumu, kok.”
Walau Luna mengatakan demikian namun ada rasa tidak enak dalam diri Faruq karena bagaimanapun juga ia merasa telah berutang pada Luna, ia bertekad akan mengembalikan uang yang sudah Luna keluarkan untuk
membayar biaya sewa rumah kontrakan ini.
“Bagaimana menurutmu mengeni rumah ini?”
“Rumah ini menurutku terlalu besar untuk aku tinggali sendirian, lagi pula biaya sewanya cukup mahal, mana mungkin aku bisa membayar tiap bulannya sementara aku belum mendapatkan pekerjaan.”
“Kamu bisa kembali bekerja di perusahaan.”
“Tidak, bukankah sebelumnya aku telah mengundurkan diri di perushaan itu? Lagi pula pasti posisiku sudah digantikan oleh orang lain.”
“Apa yang kamu katakan tadi memang benar, akan tetapi kamu lupa siapa aku?”
“Luna, tolong jangan seperti ini.”
“Apa maksudmu jangan seperti ini? Aku berniat untuk membantumu, apakah kamu tidak suka kalau aku membantumu?”
“Bukannya aku tidak suka kamu bantu, hanya saja… aku merasa tidak enak saja kalau harus berutang seperti ini.”
“Aku tidak membuatmu merasa tidak enak Faruq jadi kamu biasa saja, aku berniat untuk membantumu.”
“Aku tahu itu hanya saja….”
“Sudahlah, pokoknya kamu harus kembali bekerja di perusahaan karena perusahaan membutuhkan dirimu.”
Setelah mengatakan itu Luna langsung berpamitan untuk kembali ke rumahnya, selepas Luna pergi kini Faruq nampak menghela napasnya dengan kebaikan Luna yang tak terduga ini.
__ADS_1
“Apa yang sebenarnya tengah dia rencanakan? Apakah dia berniat buruk padaku?”
Namun Faruq tak mau memikirkan itu, ia sekarang mulai membersihkan rumah kontrakan ini yang nampak sudah lama tidak dihuni.
****
Nadiba kembali bekerja di rumah Noah setelah Kusuma sudah diizinkan pulang dari rumah sakit, selain itu Nadiba merasa lega karena Felix sudah mengabarkan dirinya tiba di Australia dengan selamat jadi Nadiba tak perlu merasa khawatir lagi.
“Nadiba.”
“Iya Pak Noah?”
“Saya ingin pergi ke kota karena ada urusan pekerjaan, kamu tolong jaga rumah sampai saya kembali, ya?”
“Baik Pak Noah.”
Noah kemudian keluar dari rumah menuju mobilnya yang terparkir di halaman, Nadiba sendiri menutup pintu pagar rumah selepas mobil yang Noah kemudikan keluar dari halaman. Nadiba sibuk dengan pekerjaannya membersihkan rumah ini yang nampak berdebu dan agak kotor karena sudah lama tidak ada yang membersihkan rumah ini. Ketika melalui depan kamar Felix, Nadiba nampak terdiam beberapa saat hingga akhirnya ia kemudian masuk ke dalam kamar Felix karena memang kamar itu perlu untuk dibersihkan nampak kasur yang biasa Felix tiduri masih berantakan dan Nadiba membersihkan kasur tersebut selain itu Nadiba juga merapihkan buku yang berserakan di atas meja kerja hingga ia menemukan sebuah kertas kecil yang secara tak sengaja jatuh dari tumpukan buku yang ia rapihkan tadi.
“Apa ini?” gumam Nadiba ketika melihat kertas kecil yang mana di sana ada sebuah tulisan yang membuatnya terkejut ketika membacanya.
****
“Darsih, kenapa kamu pergi begitu cepat meninggalkanku?” isak Kusuma ketika ia mengusap nisan mendiang adiknya.
Setelah puas untuk menumpahkan segala kesedihan dan kehilangannya maka kini Kusuma mendoakan adiknya supaya semua amal ibadah yang Darsih lakukan selama masih hidup dapat diterima di sisi Tuhan.
“Aku pergi dulu, aku pasti akan sering datang menjengukmu.”
Kusuma kemudian pergi meninggalkan area pemakaman umum menuju rumahnya, akan tetapi ketika dalam perjalanan entah kenapa Kusuma merasa bahwa dirinya sejak tadi ada yang mengikuti.
“Sepertinya ada yang mengikutiku.”
Kusuma nampak menoleh ke belakang namun ia tak menemukan apa pun yang mencurigakan hingga ia memutuskan untuk kembali berjalan namun ketika ia memutuskan untuk kembali berjalan itu dirinya kembali merasakan kalau ia sedang diikuti oleh seseorang, reflek saja Kusuma langsung berhenti dan berbalik badan namun lagi-lagi ia tak menemukan seorang pun di sana.
__ADS_1
“Apakah semua ini hanya halusinasi saja?” gumamnya sambil menggelengkan kepalanya dan kemudian melanjutkan perjalanan hingga akhirnya ia sampai di rumah namun Kusuma masih memikirkan soal perjalanan tadi yang menurutnya agak aneh.
****
Noah kembali ke rumah ketika hari sudah menjelang malam, Nadiba telah memasak makan malam dan menyelesaikan pekerjaannya di rumah ini, ia pun pamit pada Noah untuk pulang ke rumah.
“Terima kasih atas hari ini Nadiba.”
“Tidak masalah Pak Noah.”
Nadiba kemudian pergi meninggalkan rumah Noah menuju rumahnya yang tak jauh dari rumah Noah, sepanjang perjalanan pulang itu dirinya memikirkan sebuah surat yang sengaja ditulis oleh mantan kekasih Felix untuknya
yang isinya membuat dada Nadiba begitu sesak.
“Tidak, tuan Felix tidak akan mungkin kembali pada wanita itu kan?”
Nadiba akhirnya tiba di rumah dan disambut oleh Kusuma, Nadiba berusaha bersikap baik-baik saja di depan Kusuma supaya tidak mengundang kecurigaan dari ibunya hingga akhrinya selepas makan malam, Nadiba
pun masuk ke dalam kamarnya. Ia duduk di pinggir kasur dengan masih melihat surat yang ia bawa dari kamar Felix itu.
“Kenapa juga aku harus membawa ini?” lirih Nadiba.
Nadiba meraih ponselnya dan ia seperti hendak menghubungi Felix untuk menanyakan soal ini akan tetapi Nadiba ragu apakah harus menelpon Felix sekarang juga atau tidak.
“Apa yang harus aku lakukan sekarang?”
Nadiba masih terus berperang dengan batinnya hingga akhirnya ia memutuskan untuk tidak menelpon Felix dan memendam ini semua untuk dirinya sendiri.
****
Faruq sudah bersiap dengan pakaian kerjanya, ia diminta oleh Luna datang langsung ke kantor dan mulai bekerja lagi, Luna meminta supaya Faruq tidak perlu canggung dan anggap saja ia kembali bekerja setelah sekian lama ia cuti. Faruq mematut dirinya di depan cermin untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa penampilannya sudah cukup baik untuk hari pertamanya bekerja kembali di perusahaan itu.
“Baiklah, aku siap untuk bekerja.”
__ADS_1
Faruq kemudian keluar dari rumah kontrakannya dan berjalan menuju halte bus yang berada di jalan besar sana, ia tadi sempat melewati depan rumah Luna sebelum tiba di halte ini dan rumah itu nampak sepi, mungkin saja Luna sudah berangkat ke kantor.
“Ah sudahlah, aku tak perlu memikirkannya.”