
Ledi sudah berdiri tepat di depan pintu sebuah unit apartemen dan tidak lama kemudian seseorang membukakan pintu untuknya, ketika melihat wajah Ledi terpampang dengan jelas di depannya membuat wanita itu
terkejut bukan main dan hendak kembali menutup pintu unit apartemennya, akan tetapi Ledi sudah terlebih dahulu berhasil masuk ke dalam unit apartemen orang tersebut dan menatapnya tajam.
“Mau apa kamu ke sini?”
PLAK
Ledi menampar wajah wanita itu dengan kerasnya, ia kemudian menarik rambut wanita itu dan mengatakan bahwa wanita itu tidaklah sepatutnya melakukan hal tidak baik di belakangnya.
“Aku pikir bisa mempercayaimu namun ternyata kamu sudah berkhianat di belakangku!”
Wanita itu nampak tak terima dengan yang dilakukan oleh Ledi, ia melepaskan diri dari cengkraman Ledi dan mengatakan bahwa saat ini ia tidak bisa lagi ditindas oleh Ledi karena ia bukan lagi orang yang dulu.
“Maafkan aku kalau harus mengatakan ini namun anda seharusnya tidak berlaku kasar padaku karena aku adalah istri tuan Prabu Indrawan.”
Ledi nampak tertawa mendengar ucapan wanita ini, wanita yang selama ini menjadi sekretaris suaminya selama lebih dari 15 tahun ternyata menjalin hubungan dengan suaminya dan ia baru mengetahuinya belakangan ini.
“Bisa-bisanya aku terlalu bodoh hingga tidak menyadari bahwa kamu dan suamiku ternyata memiliki sebuah hubungan terlarang.”
“Iya anda memang bodoh karena dapat kami tipu selama bertahun-tahun.”
Ledi yang mendengar ucapan wanita itu nampak berang dan hendak kembali menapar wajah wanita itu akan tetapi wanita itu menahan tangan Ledi supaya ia tidak lagi ditampar olehnya.
“Jangan pernah menyakitiku lagi dengan tanganmu itu karena kalau sampai kamu melakukannya lagi maka aku tidak akan tinggal diam.”
“Berani sekali kamu menantangku! Kamu tidak tahu siapa aku?! Aku bisa menghancurkan hidupmu dengan mudah dan mengembalikan posisimu sebagai orang miskin yang tidak memiliki apa pun sebelum mengenal suamiku!”
“Aku tidak takut sama sekali dengan ancamanmu karena tuan Prabu kini ada dipihakku.”
****
Ledi nampak geram sekali saat keluar dari unit apartemen wanita kurang ajar yang selama ini menjadi selingkuhan suaminya, ia tidak bisa membiarkan ini semua berlarut-larut, ia akan bicara dengan suaminya dan meminta penjelasan secara langsung padanya. Ledi tiba di rumah dan langsung masuk ke dalam ruangan kerja suaminya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
“Kenapa tidak mengetuk pintu terlebih dahulu?”
“Untuk apa aku harus melakukannya?! Ini adalah rumahku!”
“Apa maksudmu?!”
“Sebelum menikah denganku, kamu itu bukan siapa-siapa Prabu Indrawan, kamu hanya pegawai biasa yang kebetulan memiliki nasib yang baik karena berhasil menarik perhatianku hingga akhirnya kita bisa hidup selama lebih dari 35 tahun hingga saat ini!”
__ADS_1
“Kenapa tiba-tiba kamu mengungkit hal itu?!”
“Kamu bertanya kenapa?! Kamu bertanya kenapa?! Semua karena kamu yang berani bermain api dengan wanita tidak tahu diri itu!” jerit Ledi.
“Siapa yang kamu maksud?”
“Windasari Utami, mantan sekretarismu yang sudah kamu nikahi siri selama ini!”
Raut wajah Prabu nampak terkejut saat istrinya ini mengetahui rahasianya yang sudah ia sembunyikan secara rapat selama ini, akan tetapi kenapa sampai Ledi bisa mengetahuinya?
“Kenapa? Apakah kamu terkejut karena akhirnya aku tahu bahwa saat ini kamu memiliki hubungan dengan Winda yang tak tahu diri itu bahkan kalian sudah memiliki anak dari hasil hubungan gelap kalian?!”
****
Di sisi lain nampak Felix begitu kesal dengan papanya yang terus saja memaksanya untuk berhenti bekerja di perusahaan tempatnya bekerja saat ini, tentu saja Felix tidak akan pernah berhenti sampai dendamnya pada wanita itu terbalaskan.
“Aku tidak akan berhenti sebelum aku bisa menghancurkan wanita itu.”
Tiba-tiba saja pintu kamar Felix diketuk dari luar dan terdengar suara Nadiba dari luar sana yang mengatakan bahwa ia ingin pamit pulang dulu. Sontak saja Felix berdiri dan kemudian membuka pintu kamarnya untuk menahan Nadiba untuk jangan dulu pulang.
“Ada apa, Tuan?”
“Memangnya tidak ada orang di rumah ini?”
“Kamu pulang sendirian?”
“Iya, saya pulang sendirian, memangnya kenapa?”
“Kamu tidak boleh pulang sendirian, aku akan mengantarkanmu pulang.”
“Apa? Tidak usah Tuan Felix, saya bisa pulang sendiri.”
“Tidak, aku akan mengantarkanmu pulang Nadiba, tunggu sebentar aku ambil kunci mobilku dulu.”
Felix kemudian masuk kembali ke dalam kamarnya untuk mengambil kunci mobilnya kemudian mengantarkan Nadiba untuk pulang ke rumah.
“Saya jadi tidak enak karena merepotkan Tuan Felix.”
“Sama sekali tidak merepotkan kok, lagi pula aku juga ingin pergi keluar sebentar.”
****
__ADS_1
Nadiba sebenarnya sejak tadi seperti ingin menanyakan sesuatu pada Felix akan tetapi ia seperti selalu ragu untuk mengutarakan pertanyaannya pada pria itu hingga akhirnya Felix yang menyadari itu pun meminta supaya Nadiba mengatakan saja apa yang ingin ia katakan.
“Kalau memang ada sesuatu yang ingin kamu katakan,jangan ragu katakan saja padaku.”
“Apa? Oh sebenarnya aku memang ingin bertanya.”
“Kalau begitu tanyakan saja, jangan merasa sungkan.”
“Kalau saya boleh tahu, kenapa belakangan ini sikap Tuan Felix jadi mendadak baik pada saya?”
“Jadi kamu ingin aku bersikap jahat lagi padamu seperti dulu?”
“Tidak, hanya saja perubahan sikap Tuan Felix yang secara mendadak ini membuat saya agak terkejut saja.”
“Aku merasa bersalah padamu karena selama ini rupanya aku sudah berburuk sangka padamu, aku pikir kamu dan papaku selama ini memiliki hubungan dan akhirnya kedua orang tuaku memutuskan untuk bercerai.”
“Tapi sekarang Tuan Felix sudah mengetahui semuanya kan?”
“Iya Nadiba, aku sekarang sudah mengetahui semuanya dan aku meminta maaf atas semua sikap kasarku padamu selama ini.”
“Tidak apa Tuan, saya sudah memaafkan Tuan lagi pula saya tidak pernah memasukan ucapan menyakitkan Tuan Felix ke dalam hati.”
Akhirnya mereka tiba juga di depan rumah Nadiba, wanita itu membuka sabuk pengaman dan berterima kasih pada Felix karena sudah mau mengantarkannya pulang.
****
Luna merasa bahwa ada sesuatu yang berbeda di meja makan saat ini karena mamanya tidak hadir di meja makan tidak seperti biasanya mamanya itu akan melewatkan makan malam bersama.
“Aku akan memanggil mama dulu.”
“Tidak perlu, dia sedang butuh waktu sendirian,” cegah Prabu.
“Apa?”
“Saat ini dia sedang tidak enak badan dan perasaannya jadi sedikit sensitif jadi tolong jangan usik dia dulu untuk sementara waktu.”
“Begitu rupanya.”
Setelah selesai makan malam, Luna nekat mendatangi kamar mamanya dan mencoba melihat apakah di dalam sana ada sang mama dan nampaklah kamar ini begitu berantakan seperti kapal pecah.
“Mama, ada apa ini? Kenapa kamarnya jadi berantakan? Apa yang terjadi, Ma?” tanya Luna panik.
__ADS_1
“Luna, Mama rasa saat ini Mama sudah tak sanggup lagi, Nak.”
“Mama ini bicara apa?”