
Kusuma panik saat dirinya hendak dicelakai oleh Nimas namun sebelum Nimas melakukan hal tersebut dapat terjadi, pintu ruangan inapnya terbuka dan menampakan sosok perawat yang terkejut melihat aksi Nimas ini.
Nimas yang panik karena ketahuan pun segera melarikan diri dari dari ruangan inap Kusuma sebelum satpam menangkap dirinya kembali. Perawat itu kemudian bertanya pada Kusuma apakah ia baik-baik saja atau tidak, Kusuma hanya menganggukan kepalanya namun dirinya nampak masih begitu terkejut dengan aksi tak terpuji
yang coba dilakukan oleh keponakannya sendiri. Nadiba tiba pada keesokan harinya dan ia diceritakan oleh perawat bahwa semalam ada seseorang yang hendak mencelakai ibunya, tanpa perawat itu memberitahunya siapa yang melakukan itu, tentu saja Nadiba sudah tahu bahwa Nimas pasti dalang di balik semua ini.
“Bu.”
“Nadiba.”
“Aku dengar dari perawat kalau semalam ada sesuatu hal yang terjadi pada Ibu.”
“Iya Nak, Nimas hendak mencelakai Ibu semalam.”
“Sudah aku duga kalau Nimas yang menjadi pelakunya.”
“Sepertinya dia sangat ingin mencelakai Ibu, Nak.”
“Ibu tenang saja, mulai sekarang aku tidak akan meninggalkan Ibu sendirian lagi di sini.”
“Akan tetapi kamu kan harus bekerja, Nak.”
“Aku sudah meminta izin pada pak Noah untuk sementara aku tidak dapat bekerja di rumahnya dan pak Noah dapat memahami itu.”
“Sejujurnya mendengar ucapanmu barusan malah membuat Ibu tidak enak pada pak Noah, sepertinya kita selalu saja merepotkannya.”
“Aku merasakan demikian, akan tetapi aku tak bisa meninggalkan Ibu sendirian lagi di sini setelah apa yang coba Nimas lakukan kemarin kan?”
Saat mereka tengah berbincang, pintu ruangan inap tersebut terbuka dan menampakan Darsih di sana, Kusuma langsung menceritakan pada adiknya itu apa yang telah Nimas coba lakukan padanya dan Darsih pun meminta maaf atas nama putrinya itu.
“Kak, tolong maafkan Nimas, ya? Aku akan bicara dengannya supaya jangan melakukan hal buruk lagi padamu.”
“Justru aku malah kasihan padamu Darsih, kamu sepertinya sudah lelah sekali memberi nasihat pada Nimas namun anakmu itu tidak mau mendengarkanmu.”
****
Akibat kejadian di rumah sakit yang menimpa Kusuma dan Faruq membuat Nimas menjadi kesulitan untuk masuk ke dalam rumah sakit tersebut. Tentu saja Nimas tak kehabisan akal, ia harus menjenguk Faruq yang tengah dirawat di rumah sakit ini namun pihak rumah sakit tak memberikannya izin untuk melakukannya karena khawatir Nimas akan membuat onar lagi jika mereka memberikan izin untuk Nimas masuk ke dalam.
__ADS_1
“Tolonglah, aku berjanji tidak akan membuat masalah lagi di rumah sakit ini.”
Akan tetapi petugas yang berjaga tetap tak mau mengizinkan Nimas untuk masuk ke dalam, malah Nimas diusir oleh petugas keamanan dengan kasar. Nimas tentu saja merasa kesal bukan main dengan pengusiran itu, ia kemudian mencari jalan lewat pintu belakang rumah sakit namun pintu tersebut lagi-lagi dijaga oleh petugas keamanan.
“Aku tidak bisa begini, aku harus masuk ke dalam.”
Nimas menelpon seseorang dan memerintahkan sesuatu padanya, setelah memberikan perintah itu Nimas masuk ke dalam mobilnya dan menunggu apa yang sudah ia perintahkan itu dijalankan oleh orang suruhannya.
“Aku tidak akan menyerah sebelum membuat kalian semua menderita.”
Nimas melihat layar ponselnya dan di sana nampak ada nama Darsih yang menelpon, Nimas menjawab telepon dari Darsih tersebut.
“Halo, Bu?”
“Kamu di mana sekarang?”
****
Nadiba pergi menjenguk Faruq di ruangan inap mantan suaminya itu, ketika Nadiba datang menjenguk nampak Faruq sudah siuman dan ia tersenyum pada Nadiba yang tengah berdiri tepat di depan pintu ruangan inapnya.
“Masuklah Nadiba.”
yang Nadiba lihat saat ini.
“Maafkan aku, Mas.”
“Kenapa kamu meminta maaf Nadiba? Kamu kan tidak memiliki salah apa pun padaku.”
“Tentu saja aku memiliki salah, andai saja Mas Faruq tidak menolongku dari Nimas maka bukan tidak mungkin kalau aku akan jatuh ke tangga didorong oleh Nimas.”
“Oh soal itu, kamu tak perlu meminta maaf padaku, aku melakukannya karena memang kelakuan Nimas itu sudah sangat tidak dapat ditoleransi, dia begitu membencimu hingga mau melakukan apa pun untuk membuatmu
menderita.”
“Aku merindukan hubunganku yang baik dengan Nimas namun sepertinya hal tersebut tidak akan pernah terjadi, dia begitu membenciku.”
Faruq kemudian meraih tangan Nadiba dan mengatakan bahwa Nadiba adalah orang yang baik, ia tidak pernah menyesal telah menikah dengan wanita ini namun karena kebodohannya maka ia sampai menceraikan Nadiba.
__ADS_1
“Aku minta maaf, Nadiba.”
“Mas Faruq jangan meminta maaf lagi soal itu, aku kan sudah memaafkan Mas Faruq.”
****
Nadiba hendak menjemput Rama di sekolahnya karena saat ini sudah jam di mana Rama pulang sekolah dan ia sudah berjanji akan membawa Rama hari ini untuk bertemu dengan Faruq. Kini dalam perjalanan menuju sekolah
Rama, Nadiba merasa kalau ada seseorang yang mengikutinya namun Nadiba tak menghiraukannya hingga akhirnya tiba di sekolah Rama, anak itu langsung menghampiri Nadiba.
“Bagaimana sekolahnya hari ini? Apakah menyenangkan?”
“Iya Bu, aku juga tidak sabar untuk bertemu dengan ayah.”
“Kalau begitu ayo kita segera pergi.”
Sebelum Nadiba dan Rama pergi, nampak Felix tiba dengan mobilnya dan memberhentikan kendaraan itu tepat di depan Nadiba dan Rama, pria itu meminta Nadiba dan Rama untuk masuk ke dalam mobilnya.
“Masuklah, kalian ingin pergi ke rumah sakit kan?”
“Tuan Felix?”
“Ayo masuklah, Nadiba.”
Maka Nadiba dan Felix pun kemudian masuk ke dalam mobil Felix, sepanjang perjalanan menuju rumah sakit nampak Felix berusaha untuk mengakrabkan diri dengan Rama dan anaknya itu juga nampak mulai menyukai
keberadaan Felix. Tak terasa akhirnya mereka tiba di rumah sakit dan Rama sudah tak sabar untuk bertemu dengan ayahnya yang tengah dirawat di rumah sakit ini.
“Tuan Felix, bisakah tolong antarkan Rama ke ruangan inap mas Faruq? Saya ingin pergi ke toilet dulu.”
“Baiklah Nadiba, ayo Rama,” ajak Felix yang menggandeng tangan Rama untuk masuk ke dalam lift.
****
Nadiba pergi ke toilet untuk buang air kecil, selepas Nadiba masuk ke dalam toilet itu nampak ada seseorang yang sengaja menutup pintu toilet dan memasang tanda bahwa toilet tengah rusak, selepasnya ia kemudian masuk ke dalam toilet tersebut dan menunggu sampai Nadiba keluar. Nadiba nampak terkejut ketika keluar dari toilet menemukan Nimas yang tengah menatapnya tajam, ia reflek mundur masuk kembali ke dalam bilik tempat tadi ia
keluar.
__ADS_1
“Nimas, apa yang hendak kamu lakukan?!”