
Nadiba nampak terkejut dengan berita yang dibawa oleh Felix itu, ia sama sekali tidak menyangka kalau Nimas memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara yang tragis seperti itu. Keesokan harinya jenazahnya dimakamkan dan Nadiba serta Felix pun turut hadir dalam acara pemakaman mendiang Nimas, Nadiba nampak tak dapat menahan air matanya untuk tidak jatuh karena begitu kehilangan sosok Nimas sementara Felix sendiri
berusaha menenangkan Nadiba yang nampak begitu kehilangan Nimas padahal ia tahu bahwa Nimas adalah sosok antagonis dalam kehidupannya dan keluarga.
“Sejujurnya aku tidak mengerti kenapa kamu begitu sedih saat berada di sini, Nadiba, wanita ini sudah sangat jahat sekali padamu dan keluarga kan?”
“Apa yang kamu katakan barusan memang benar, akan tetapi dia sepupuku dan kami tetaplah keluarga apa pun yang terjadi,” lirih Nadiba.
Ucapan Nadiba barusan membuat Felix tertegun untuk sejenak, hubungannya dengan keluarganya tidaklah baik bahkan sampai hari ini dan hal tersebut menjadi sebuah renungan untuknya karena pada hari pernikahannya saja kakaknya tidak datang ke acara pernikahan itu padahal rumahnya dengan acara pernikahannya dengan Nadiba tidaklah terlalu jauh.
“Aku akan selalu mendoakanmu, Nimas.”
Setelah cukup lama berada di makam mendiang Nimas kini Nadiba dan Felix pun pergi dari pemakaman tersebut karena hanya mereka saja yang datang pada acara pemakaman tersebut. Sepanjang perjalanan pulang ke rumah
baik Nadiba maupun Felix sama-sama tidak saling bicara, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing hingga ketika tiba di rumah Noah, mereka melihat Noah sedang bicara dengan seorang pemuda yang membuat Nadiba penasaran.
“Papa sedang bicara dengan siapa itu?” tanya Nadiba.
Felix melihat dari kejauhan dan sekilas ia dapat mengenali siapa pemuda yang tengah bicara dengan Noah namun Felix tidak mengatakannya pada Nadiba sekarang dan mengatakan bahwa ia akan menceritakan semuanya nanti setelah mereka tiba di rumah.
“Baiklah kalau begitu.”
Selepas mereka tiba di rumah, Felix pun menceritakan pada Nadiba mengenai siapa pemuda yang berbicara dengan Noah barusan dan penjelasan dari Felix itu membuat Nadiba terkejut.
****
Keesokan harinya Felix pergi menemui kakaknya didampingi oleh Nadiba, Felix ingin memperbaiki hubungannya dengan kakaknya yang selama ini kurang baik dan oleh sebab itu Nadiba selama ini tidak pernah melihat kakak dari Felix ini.
“Apakah kamu yakin ini akan berhasil Nadiba?”
“Tentu saja, kita kan sudah sampai di sini, masa harus pulang lagi?”
Felix nampak masih ragu namun apa yang Nadiba katakan memang benar, sudah tidak ada alasan lagi untuk mundur, Felix memberanikan diri mengetuk pintu rumah tersebut dan tidak lama kemudian seseorang membukakan
pintu untuknya, orang tersebut nampak terkejut dengan kedatangan Felix dan Nadiba.
“Felix?”
“Kak.”
__ADS_1
Keduanya masih nampak membisu satu sama lain hingga akhirnya kakak dari Felix itu mengambil inisiatif untuk memeluk Felix dan Felix kemudian membalas pelukan itu, tangis mereka pecah bersamaan dalam pelukan yang
sudah lama sekali tidak terjadi.
“Aku minta maaf padamu.”
“Tidak, kamu jangan meminta maaf padaku, Felix, harusnya aku yang minta maaf karena tidak hadir di acara pernikahanmu dengan istrimu ini.”
Nadiba nampak tersipu ketika dipuji oleh kakak iparnya, kemudian kakak iparnya itu mempersilakan mereka berdua untuk masuk ke dalam rumah. Felix dan Nadiba pun kemudian masuk ke dalam rumah dan mereka duduk di sofa ruang tamu,kakak iparnya itu nampak menyiapkan beberapa cemilan dan minuman untuk menjamu kedatangan mereka.
“Sudah lama sekali kita tidak berjumpa, ya.”
“Iya, sudah lama sekali mungkin ada 10 tahun.”
****
Felix merasa lega sekali karena hubungannya dengan sang kakak sudah kembali terjalin dengan baik, 10 tahun lalu Felix dan kakaknya sempat bersitegang mengenai calon yang ingin kakaknya nikahi dan mengatakan
bahwa pria yang hendak menjadi calon kakak iparnya itu tidak layak untuk kakaknya apalagi pria itu pernah melakukan hal yang buruk pada kakaknya namun kakaknya tetap memilih bertahan dengan pria itu hingga sekarang. Semenjak itu Felix memilih menghabiskan waktunya lebih banyak di Australia ketimbang
Indonesia sampai secara menyebalkan papanya menariknya kembali ke Indonesia dan di sini ia malah bertemu dengan Nadiba yang merupakan istrinya sekarang.
“Iya sejujurnya aku sangat bahagia sekali, sudah lama kami tidak mengobrol selama tadi, sayangnya aku belum dapat bertemu dengan suaminya karena dia tugas hingga malam nanti.”
“Tidak apa, bukankah nanti kamu akan bertemu lagi dengannya saat dia sedang libur?”
“Tentu saja kita berdua akan pergi bersama, bukankah sekarang kita sudah menikah?”
“Bagaimana dengan Rama?”
“Tentu saja Rama kita ajak sekalian, dia kan anak kita.”
****
Nadiba dan Felix mampri ke rumah Noah untuk menjenguk papa dari Felix tersebut, rumah tersebut memang terlihat kurang bersih dan terawat semenjak Nadiba sudah menikah dengan Felix tentu saja Noah tidak
memiliki asisten rumah tangga untuk membersihkan rumah dan melakukan pekerjaan rumah tangga hingga membuat Felix kesal.
“Kenapa sih Papa tidak merekrut seorang asisten rumah tangga saja? Rumah ini begitu mengerikan sekali,” ujar Felix.
__ADS_1
“Papa tidak mau merekrut asisten rumah tangga, bukankah Papa sudah pernah mengatakannya padamu sebelumnya?”
“Apakah Papa masih mengharap Nadiba?”
“Siapa yang berharap pada Nadiba? Papa sudah merelakan Nadiba untuk menikah denganmu, tidak mungkin Papa ingin menjadi orang ketiga di antara kalian.”
“Syukrulah kalau Papa tahu diri akan hal tersebut.”
Nadiba nampak sibuk membersihkan rumah papa mertuanya itu selagi ia ada di sini, selain itu juga ia menyiapkan makan malam untuk mereka semua.
“Kamu terlalu rajin Nadiba, biarkan saja Papa mengerjakan semua ini,” ujar Felix.
“Sudahlah, aku senang kok mengerjakan pekerjaaan ini, di rumah kan ada bibi jadi pekerjaanku tidak terlalu berat,” ujar Nadiba.
“Ngomong-ngomong Pa, kemarin aku melihat pemuda itu muncul di sini, kenapa dia mendatangi Papa?”
Noah nampak terkejut ketika mendengar pertanyaan dari Felix barusan namun kemudian ia memberitahu Felix apa yang kemarin dibicarakan dengan pemuda tersebut.
****
Selepas makan malam Nadiba dan Felix pun pamit pada Noah untuk pulang ke rumah mereka, Nadiba dan Felix kemudian masuk ke dalam mobil dan di sepanjang perjalanan menuju rumah mereka tidak ada percakapan yang
terlalu banyak karena mereka berdua sudah sama-sama lelah. Akan tetapi ketika mereka berdua sudah berada di atas tempat tidur, Felix memeluk Nadiba dari belakang yang membuatnya bingung.
“Nadiba.”
“Ada apa?”
“Apakah menurtmu Rama suka kalau dia memiliki adik?”
Nadiba tahu ke mana arah pembicaraan Felix ini namun ia pura-pura tak mendengar apa yang Felix katakan barusan hingga kini Felix sudah berada di atas tubuhnya dan jarak wajah mereka berdua sudah sangat dekat
sekali.
“Felix apa yang akan kamu lakukan?”
“Menurutmu?”
T A M A T
__ADS_1