
Rama nampak ketakutan ketika lampu rumah mendadak mati sementara itu Faruq berusaha menenangkan Rama yang ketakutan dengan memeluknya, saat Rama sudah mulai tertidur nampak Faruq hendak turun dari kasur dan hendak melihat apakah semua rumah di sekitar sini listriknya padam atau tidak namun belum sempat ia melakukan itu justru Rama terbangun dan memeluknya.
“Ayah mau pergi ke mana?”
“Ayah ingin melihat apakah rumah ini saja yang listriknya mati atau semuanya.”
“Aku mau ikut.”
“Tidak perlu Rama, kamu di sini saja, tidur.”
“Tidak mau, aku mau ikut dengan Ayah.”
Faruq nampak menghela napasnya karena Rama masih berkeras hati untuk ikut dengannya maka kemudian mereka pun melihat keluar jendela kamar dan rupanya di sana tidak ada satu pun listrik yang padam kecuali
rumah mereka.
“Kok listrik rumah lain menyala, Ayah?”
“Berarti ada masalah dengan listrik rumah ini, Ayah periksa dulu ke bawah.”
“Aku ikut Ayah.”
Faruq dan Rama kemudian pergi menuju lantai bawah untuk melihat apakah memang ada kerusakan listrik di rumah ini namun ada sesuatu hal yang mengejutkan bagi mereka yaitu pintu rumah sudah dalam keadaan
terbuka padahal sebelumnya Faruq sudah mengunci pintu rumah ini.
“Ayah, kenapa pintu rumahnya terbuka?”
“Ayah sendiri juga tidak tahu Rama, tunggu sebentar.”
“Aku mau ikut dengan Ayah.”
Rama masih terus saja membuntiti Faruq hingga akhirnya mereka tiba diluar rumah dan melihat bahwa memang ada seseorang yang sengaja merusak aliran listrik di rumah ini supaya padam.
“Pantas saja listriknya mati, ada seseorang yang sengaja melakukan ini.”
“Ayah aku takut.”
“Tenang saja Rama kan ada Ayah di sini.”
“Tapi ….”
“Sebentar, Ayah akan telepon pusat pengaduan listrik dulu untuk melaporkan ini.”
Ketika Faruq tengah sibuk dengan ponselnya nampak ada sebuah bayangan besar dari dalam rumah yang membuat Rama sontak menjerit kencang.
“Ayah awas!”
__ADS_1
Namun sebelum Faruq menghindar, sosok itu sudah memukul bagian kepala belakang Faruq hingga membuatnya jatuh tak sadarkan diri, Rama sontak saja terkejut dan berlari keluar rumah dan sosok itu mengejarnya.
****
Nadiba merasa khawatir dengan keadaan ibunya hingga saat ini Noah dan Felix masih berkeliling dan sepertinya belum ada tanda-tanda bahwa ibunya ditemukan di lokasi ini.
“Tidak ada apa pun di sini.”
“Iya Nadiba, mungkin saja besok kita bisa mencarinya di sekitar sini.”
“Iya, lagi pula aku tidak dapat tenang sekarang karena meninggalkan Rama di rumah.”
“Bukankah ada Faruq di sana?” tanya Noah.
“Iya tapi… entah kenapa aku takut saja akan ada sesuatu hal yang buruk terjadi pada Rama saat ini, lebih baik sekarang juga kita pulang.”
Maka kemudian mereka pun bergegas menuju rumah dan ketika tiba dalam perjalanan pulang ke rumah mereka menemukan sosok Rama yang berlari di tengah malam dengan dikejar seseorang yang menggunakan pakaian serba hitam, Felix sontak menghentikan mobilnya dan turun dari kendaraannya, orang yang barusan mengejar Rama terkejut dan langsung melarikan diri.
“Hei, berhenti kamu!”
Felix berusaha mengejar orang tersebut namun orang tersebut sudah berhasil menghilang begitu saja di tengah gelapnya malam.
“Rama, apa yang terjadi padamu, Nak?” tanya Nadiba.
“Ibu, ayah… hiks.”
“Ayah dipukul oleh orang tadi, Bu.”
Nadiba nampak terkejut dengan apa yang Rama katakan barusan dan ia pun meminta Felix untuk segera kembali ke rumah karena katanya sesuatu hal yang buruk terjadi pada Faruq di sana.
****
Faruq dilarikan ke klinik dekat rumah dan menurut pemeriksaan dokter di klinik itu, luka yang Faruq alami tidaklah parah dan pria itu akan segera siuman beberapa saat lagi, Rama masih menangis dan memengangi tangan Faruq berharap ayahnya itu dapat segera siuman sementara Felix dan Noah sibuk berdiskusi siapa sebenarnya orang yang sudah melakukan tindakan buruk ini diluar ruangan inap Faruq.
“Ibu, apakah ayah akan bangun?”
“Tentu saja Rama, kamu dengar sendiri apa yang dokter katakan kan? Ayah akan segera bangun.”
“Tapi aku takut, Bu.”
Nadiba memeluk Rama dan berusaha menenangkan anaknya yang nampak begitu takut kehilangan Faruq hingga akhirnya Felix membuka pintu ruangan inap Faruq untuk bicara dengan Nadiba.
“Aku sudah tahu siapa orang yang melakukan itu, dia sudah ditangkap oleh polisi di dekat jalan raya.”
“Syukurlah kalau begitu, sekarang dia sudah ditahan di kantor polisi kan?”
“Iya, sekarang polisi tengah melakukan intrograsi dan semoga saja dari apa yang diceritakannya kita dapat mengetahui siapa dalang di balik semua ini.”
__ADS_1
“Semoga saja begitu.”
Saat mereka tengah berbincang itulah Faruq mulai menggerakan tangannya dan Rama adalah orang pertama yang melihat itu.
“Ibu, ayah sudah bangun.”
****
Faruq nampak membuka perlahan kedua matanya, yang ia rasakan saat pertama kali siuman adalah kepalanya terasa sakit dan pusing sekali, ia kemudian melihat Rama, Nadiba dan Felix yang tengah berada di ruangan inapnya ini.
“Di mana ini?”
“Kamu sedang ada di klinik,” jawab Felix.
“Apakah Mas Faruq mengingat apa yang terjadi sebelumnya?” tanya Nadiba.
Faruq menceritakan apa yang sebelumnya terjadi padanya sampai ia tidak sadarkan diri, apa yang Faruq ceritakan sama persis seperti yang Rama ceritakan hingga Nadiba dan Felix yakin bahwa memang Faruq tidak sedang mengarang cerita.
“Begitulah kurang lebih.”
“Sekarang pelakunya sudah ditangkap oleh polisi,” ujar Nadiba.
“Syukurlah kalau begitu, aku ingin tahu apa yang sebenarnya menjadi motivasinya melakukan penyerangan itu,” ujar Faruq.
“Aku pun juga penasaran namun sepertinya kita harus bersabar karena sekarang polisi sedang melakukan pemeriksaan,” ujar Felix.
“Tapi kabar baiknya tidak ada hal yang buruk terjadi padamu, dokter sudah memeriksamu barusan dan mengatakan semua baik-baik saja,” ujar Nadiba.
“Syukurlah kalau begitu, aku senang sekali mendengarnya.”
“Aku takut sekali tadi Ayah kenapa-kenapa,” ujar Rama yang memeluk Faruq.
“Kamu sendiri baik-baik saja kan?”
“Tadi Rama dikejar oleh orang itu, untungnya saja dia bertemu kami ketika kami hendak dalam perjalanan pulang ke rumah,” jawab Felix.
****
Orang yang melakukan penyerangan terhadap Faruq akhirnya mengakui semuanya bahwa ia juga adalah orang yang sama dalam melakukan tindakan penyerangan terhadap rumah Nadiba sebelumnya dan ia berniat untuk
mencelakai Nadiba dan keluarganya, ketika ditanya kenapa melakukan itu orang tersebut mengatakan bahwa ia disuruh oleh seseorang.
“Siapa orang yang sudah menyuruhmu?” tanya Nadiba penasaran.
Orang itu nampak terdiam untuk beberapa saat dan nampak ragu ketika Nadiba menanyakan pertanyaan itu akan tetapi Nadiba nampak sangat memohon pada orang ini untuk orang ini mengatakan yang sejujurnya.
“Kalau kamu tahu sesuatu tolong katakan padaku, aku mohon padamu.”
__ADS_1