
Luna sama sekali mengerti apa yang sedang mamanya ini bicarakan hingga akhirnya sang mama pun mengatakan sesuatu hal yang sangat mengjutkannya.
“Papamu selama ini berselingkuh dengan mantan sekretarisnya dan parahnya lagi mereka sudah memiliki anak!”
“Mama sama sekali tidak bercanda mengenai hal ini kan?”
“Untuk apa aku bercanda untuk hal seperti ini?”
Dari ekspresi yang ditunjukan oleh mamanya saat ini membuat Luna percaya bahwa sang mama tidak mungkin berbohong padanya, tentu saja ia kecewa pada papanya yang ternyata sudah mengkhianati mamanya selama ini dan yang lebih parahnya lagi mantan sekretaris papanya itu tentu saja ia dan mamanya kenal bahkan sudah mereka anggap seperti keluarga sendiri.
“Kenapa aku bisa begitu bodoh hingga tidak mengetahui hubungan mereka sampai selama ini?”
“Di mana wanita itu tinggal, Ma? Aku akan membuat perhitungan dengan wanita itu.”
“Kamu tidak perlu melakukannya.”
“Tapi Ma, dia tidak bisa dibiarkan.”
“Aku tahu apa yang harus aku lakukan saat ini Luna, kamu jangan ikut campur dalam masalah ini, urus saja rumah tanggamu yang juga sama tidak baiknya denganku.”
Setelah mengatakan itu Ledi langsung masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Luna yang nampak tak percaya dengan yang dikatakan oleh mamanya barusan.
“Kenapa Mama menolak bantuanku padahal aku ingin sekali membantunya?”
Luna kemudian pergi ke kamarnya dan mencoba menghubungi Faruq, ia merasa was-was setelah mendengar cerita mamanya bahwa sang papa berselingkuh dengan mantan sekretarisnya dan mereka sampai memiliki
anak dari hubungan gelap tersebut, tentu saja ia tidak mau apa yang terjadi pada mamanya juga terjadi dalam rumah tangganya.
“Kenapa dia sama sekali tidak mau menjawab teleponku?”
Luna merasa kesal karena Faruq tidak mau menjawab telepon darinya namun tentu saja ia tidka berputus asa dan terus mencoba menghubungi nomor suaminya itu dan hasilnya pun tetap saja sama dan hal tersebut membuatnya jengkel sekaligus khawatir.
“Tidak mungkin kan kalau Faruq dan Nadiba akan kembali seperti dulu lagi?”
****
Faruq menghabiskan waktunya dengan Rama tanpa mengaktifkan ponselnya karena tidak mau ada gangguan yang akan merusak suasana hati mereka. Setelah dua hari menghabiskan waktu bersama kini Faruq mengantarkan kembali Rama ke rumah, Rama berterima kasih pada ayahnya karena sudah mau mengajaknya jalan-jalan selama dua hari ini.
“Tidak masalah sayang, nanti ketika kamu libur sekolah maka kamu bisa menghabiskan waktu llebih lama dengan Ayah, kamu mau kan?”
“Iya Ayah, aku mau.”
Rama memeluk ayahnya dan tidak lama kemudian pintu rumah terbuka menampakan sosok Kusuma di sana, Rama melerai pelukannya dengan ayahnya dan kemudian pergi menghampiri sang nenek yang baru saja membukakan pintu untuknya.
“Cucuku rupanya sudah pulang.”
“Nek, di mana ibu?”
__ADS_1
“Ibu tentu saja sedang bekerja, ayo masuk kamu pasti lelah kan?”
“Iya Nek.”
Kusuma kemudian menatap Faruq dengan tatapan yang sulit diartikan oleh pria itu, Faruq mengatakan bahwa ia akan segera pergi dari sini namun belum sempat ia melangkahkan kakinya pergi, Kusuma mengatakan
sesuatu padanya.
“Apakah kamu mau ingin langsung pergi tanpa menunggu Nadiba pulang terlebih dahulu?”
“Apa?”
“Masuklah dulu dan aku akan membuatkanmu minum.”
“Terima kasih banyak, Bu.”
Faruq kemudian masuk ke dalam rumah itu sementara Kusuma membuatkan minuman untuk mantan menantunya itu dan tak lama kemudian Kusuma membawakan minuman yang sudah ia buat untuk Faruq ke hadapan pria itu.
“Ini untukmu.”
“Terima kasih, Bu.”
****
Nadiba baru saja pulang dari bekerja di rumah Noah dan ia terkejut ketika menemukan Faruq di ruang tamu sedang mengobrol bersama dengan Rama dan juga Kusuma, ketika melihat Nadiba pulang Rama langsung bangkit
“Ibu.”
“Akhirnya kamu pulang juga, bagaimana liburan bersama ayah?”
“Menyenangkan sekali, Bu.”
“Kamu sama sekali tidak nakal dan merepotkan ayah kan?”
“Tidak.”
“Rama anak yang baik, kamu jangan khawatir karena dia sama sekali tidak nakal dan merepotkan kok.”
“Terima kasih karena kamu sudah mau mengajak Rama pergi jalan-jalan, aku tidak memiliki banyak waktu untuk melakukan itu karena harus sibuk bekerja.”
“Aku sudah mendengar itu semua dari Rama karena kamu
bekerja terlalu keras maka dari itu kamu sampai jatuh sakit waktu itu kan?”
“Apa?”
“Aku menceritkannya pada ayah waktu Ibu sakit,” ujar Rama.
__ADS_1
“Aku baik-baik saja sekarang, kamu tak perlu terlalu khawatir mengenaiku,” ujar Nadiba.
“Nadiba, mulai sekarang aku akan bertanggung jawab penuh pada Rama jadi kamu jangan bekerja terlalu keras lagi karena aku tidak mau kalau kamu sampai jatuh sakit.”
“Apa?”
“Aku harus segera pergi karena pesawatku akan berangkat nanti malam, aku masih harus mengemasi pakaianku di hotel sebelum ke bandara.”
“Kalau begitu hati-hati di jalan dan terima kasih karena sudah menemani Rama selama dua hari belakangan.”
****
Selepas Faruq pergi dari rumah mereka, Kusuma meminta Rama untuk istirahat saja di kamar karena pasti Rama sangat lelah sekali saat ini setelah ia menempuh perjalanan jauh. Setelah Rama tidur kini Kusuma
mengajak Nadiba untuk berbincang di meja makan mengenai sikap Faruq yang ia rasa agak berubah setelah cukup lama mereka tak berjumpa.
“Apakah kamu merasakan hal itu?”
“Iya, tiba-tiba saja dia mengatakan ingin bertanggung jawab untuk menghidupi Rama padahal sebelumnya ia kan menolak hal itu.”
“Apakah menurutmu dia sudah menyadari kesalahannya di masa lalu dan ingin rujuk kembali denganmu?”
“Ibu ini bicara apa? Tentu saja hal seperti itu tidak akan pernah mungkin terjadi.”
“Kenapa kamu mengatakan hal tersebut tidak mungkin terjadi? Apa pun sangat mungkin terjadi di dunia ini Nadiba.”
“Aku dan dia hanya masa lalu, sekarang kami sudah memiliki jalan hidup masing-masing jadi rasanya sangat tidak mungkin kalau aku dan mas Faruq kembali bersama seperti dulu lagi.”
“Kamu masih belum dapat memaafkan apa yang sudah ia lakukan padamu di masa lalu?”
“Aku sudah memaafkannya Bu, hanya saja untuk kembali bersama seperti dulu lagi, aku rasa hal itu sangat tidak mungkin dapat terjadi.”
****
Prabu baru saja masuk ke dalam kamar dan ia menemukan kamar yang biasa ia tiduri dengan Ledi sangat berantakan namun ia tidak menemukan keberadaan istrinya itu di dalam kamar ini.
“Ke mana perginya dia?”
Ledi membuka pintu kamar dan membuat Prabu terkejut, pria itu bertanya kenapa kamar mereka bisa menjadi seperti kapal pecah seperti ini, Ledi sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari suaminya itu namun ia menatap tajam Prabu sambil tangannya memegang sebuah kertas.
“Kenapa hanya menatapku seperti itu?”
“Aku ingin kita bercerai!” seru Ledi seraya melemparkan surat cerai yang sejak tadi ia pegang ke wajah suaminya.
“Apa katamu?”
“Apakah kamu tuli? Aku bilang aku ingin bercerai denganmu sekarang juga! Aku ingin kamu mengembalikan semua yang telah kamu miliki selama ini padaku karena kamu sama sekali tidak pantas mendapatkan semua itu!”
__ADS_1